Bebek goreng garing kreasi Will Meyrick di Hujan Locale.

Hujan Locale

Jika Mama San dirancang untuk sesi hangout dengan koktail berkelas dan Sarong didesain untuk makan malam serius dan obrolan cerdas, maka Hujan Locale hadir murni untuk memuaskan selera.

Hujan Locale adalah debut koki Will Meyrick di Ubud. Will, pria Skotlandia yang sudah belasan tahun bekerja di Bali, perlahan melesat menjadi raja restoran dari Pulau Dewata. Dia kini mengelola total empat gerai di Bali, ditambah satu gerai masing-masing di Jakarta, Kuala Lumpur, dan Hong Kong.

“Konsep Hujan Locale sejalan dengan filosofi memasak saya yang fokus pada kuliner Asia dan mengutamakan bahan-bahan lokal,” ujar Will. Restoran ini menempati bangunan yang dulu dihuni Bistro Jendela. Lokasinya persis di seberang Warung Bale dan berjarak sekitar dua menit berjalan kaki dari Seniman Coffee Studio. Dalam interior bergaya Indocina, Hujan Locale menyuguhkan menu-menu Indonesia dengan sedikit tambahan menu asing seperti pho bo Vietnam dan piza Italia.

Interior Hujan Locale tanpa ornamen pretensius.

Dibandingkan Mama San dan Sarong—dua restoran milik Will di selatan Bali—Hujan Locale tampil lebih riil dan jujur. Buku menunya mencerminkan lebih sempurna sosok Will sebagai koki pengelana yang rajin menyambangi sudut-sudut Indonesia demi menyelami khazanah kuliner lokal. Interiornya pun lebih kasual dan ramah. Restoran dua lantai ini menghadirkan ruangan intim yang dihiasi foto-foto Indonesia dan artwork yang dilukis di atas piring.

Dapurnya dipimpin oleh Tim Bartholomew, koki asal Australia yang sebelumnya bekerja untuk E&O di Jakarta. Layaknya restoran yang membidik segmen asing dan lokal, Hujan Locale cerdik menjaga keseimbangan antara masakan versi autentik dengan masakan yang ramah pada lidah internasional. Tahu tek Jawa Timur berhasil memancarkan rasa autentik masakan, sampai-sampai kita merasa sedang membelinya langsung dari gerobak tepi jalan di Surabaya. Sementara menu tengkleng Yogya menawarkan karakter bumbu yang wangi berkat kandungan kayu manis. Rasanya pas untuk turis asing, walau mungkin terlampau halus bagi penggemar tengkleng tulen.

Beberapa menu merupakan buah dari kreativitas Will untuk meningkatkan kualitas masakan Nusantara. Contohnya bebek goreng Madura yang ditaburi serundeng dan ditemani irisan mangga kecut. Ketimbang memakai bebek lokal yang dagingnya terlampau liat, Will memilih bebek Peking yang lebih juicy. “Menu ini sebenarnya terinspirasi oleh Bebek Sinjay,” jelas Will.—CR

Jl. Sri Wedari5, Ubud; 0361/8493-092; hujanlocale.com; operasional: setiap hari, 12:00-23:00.