Riza Marlon, tokoh fotografi alam liar di Indonesia. (Foto: koleksi Riza Marlon)

Wawancara oleh Yohanes Sandy

Taman Nasional Lore Lindu
Riza melawat taman nasional di Sulawesi Tengah ini untuk memotret burung ajaib Satanic nightjar. Celakanya, dia memilih momen yang rawan: Lore Lindu sedang diduduki oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso. Bersama pemandu lokal, dia tetap nekat menjelajahi hutan, walau akhirnya justru berhasil menemukan Satanic Nightjar di dekat area parkir tim ekspedisi. “Beruntung tidak sempat bertemu aparat keamanan atau kelompok separatis,” ujarnya. 

Kiri-Kanan: Sebuah gereja Katolik di Desa Wakai, Togean; Panorama laut Togean dari bukit di atas SD Tangkian. (Foto: Atet Dwi Pramadia)

Kepulauan Togean
Datang dalam rangka penugasan untuk memotret satwa endemis, Riza menemukan alam Togean telah mengalami degradasi oleh aktivitas manusia. “Hutan jadi kebun, kebun jadi permukiman. Akibatnya populasi satwa menurun, dan mereka bermigrasi jauh ke dalam hutan,” jelasnya. Bersama seorang ahli satwa dari Sulawesi Utara, dia keluar masuk hutan selama sepekan dan hanya mendapatkan beberapa foto capung. “Untungnya capung yang saya foto merupakan jenis langka,” tambahnya.

Kiri-Kanan: Sebuah kapal berlabuh di Pulau Kalong, Taman Nasional Komodo; Dalam legenda lokal, komodo dinamai Ora. (Foto: Putu Sayoga)

Taman Nasional Komodo
Tempat ini tersohor akan keindahan lautnya, juga kadal purbanya. Berniat mendapatkan keduanya dalam satu bingkai, Riza mencari komodo yang berada di bukit dengan latar laut lepas, lalu memotretnya dengan cara yang cukup berisiko: dalam posisi tengkurap, dari jarak hanya sekitar setengah meter. “Jagawana bersiap dengan tongkat panjang di belakang saya,” kenangnya.

Kiri-Kanan: Panorama Danau Sagea di Halmahera; Perairan Pulau Tete, Halmahera. (Foto: R. Heru Hendarto)

Halmahera
Halmahera setidaknya ditinggali 27 spesies burung endemis, dan Riza berniat memotret ikonnya yang sangat menawan—Bidadari Halmahera. “Burung ini hanya dapat ditemukan di Halmahera,” jelasnya. Demi mendapatkan potret cenderawasih yang bernama Latin Semioptera Wallacii ini, Riza terpaksa menghabiskan 12 hari, akibat hujan terus-menerus. “Saya menunggu di gubuk kebun yang sempit setiap hari. Di hari ke-13, matahari akhirnya bersinar cerah, dan burung tersebut akhirnya keluar dari sarang.”

Tarsius, primata mungil yang bisa ditemukan di Cagar Alam Gunung Tangkoko Batuangus. (Foto: Nick Kulyakhtin)

Cagar Alam Gunung Tangkoko Batuangus
Kawasan konservasi yang berjarak 60 kilometer dari Manado ini merupakan rumah bagi tarsius, primata terkecil dengan kemampuan melompat yang luar biasa. Tarsius mudah ditemukan dan relatif terbiasa dengan kehadiran manusia, tapi mendapatkan fotonya sedang melompat tidaklah mudah. “Satu tarsius hanya memakan umpan tiga sampai lima kali, lalu kabur ke hutan,” kata Riza. “Kami mencoba berbagai cara dan mencobanya berhari-hari. Dari sekitar 100 jepretan, hanya enam foto yang benar-benar bikin saya puas.”