Kiri-kanan: Hidangan bubur ayam sehat kreasi Daniel Green di Sattvic; Daniel Green, koki yang gemar bermain dengan menu sehat.

Sattvic

Makanan sehat kerap berarti sayuran mentah dan jus rasa puyer. Inilah yang membuat Sattvic berbeda. Di bawah arahan Daniel Green, koki selebriti asal Amerika yang dijuluki “paleo guru,” Sattvic mengajak kita melakoni gaya hidup sehat tanpa harus menjadi herbivora sepenuhnya.

Sattvic bersarang di lantai dua The Leaf Jimbaran, kompleks berisi 40 vila yang baru diresmikan pada 31 Oktober silam. Restoran ini terbuka untuk umum, begitu pula area makan di atapnya.

Berbeda dari konsep “restoran sehat” kebanyakan, Sattvic mengusung konsep “healthy cooking” yang dilandasi filosofi bahwa makanan sehat berarti makanan yang memprioritaskan protein dan mereduksi kadar lemak. Karena itulah proses memasak dan seleksi bahan menjadi krusial. Di Sattvic, ada empat pantangan yang dipraktikkan di dapur: no cream, no butter, no cheese, no deep frying. Di luar itu, segalanya halal. Artinya, Anda masih bisa menyantap omelet, tapi tanpa keju. Anda juga boleh menikmati bebek Peking, tapi tanpa proses penggorengan di dalam kubangan minyak. Bagi Daniel Green, kita bisa hidup sehat dengan terus menyantap menu kesukaan, tapi dengan sedikit modifikasi pada jenis bahan dan metode memasaknya.

“Saya selalu menyarankan orang mengonsumsi lebih banyak protein, termasuk sebagai pengganti karbohidrat dan bahan lain yang memiliki kadar lemak dan gula tinggi,” ujar Daniel. “Dalam diet, kandungan kalori memang harus diperhatikan, tapi yang lebih penting sebenarnya kadar gula dan lemak.”

Setiap menu di Sattvic dilengkapi label: P (paleo), LF (low fat), V (vegetarian), E (energi), dan HP (high protein). Label yang pertama menjadi daya tarik terbesar restoran. Daniel merupakan figur terdepan yang mengampanyekan paleo, yakni diet yang mewajibkan kita mengonsumsi bahan-bahan yang hanya secara biologis dan natural patut dicerna tubuh.

Beberapa menu mungkin terasa asing di lidah. Untuk salmon sushi misalnya, Daniel mengganti nasi dengan telur dadar, serta menggoreng salmon dengan memakai hanya beberapa tetes minyak zaitun. Contoh lainnya bebek Peking yang kehilangan sensasi asin dan renyah dari kulitnya, sebab proses memasaknya memakai teknik braising.

Namun jangan lantas antipati pada rasanya. Rasa yang janggal barangkali hanyalah buah dari konflik persepsi di benak kita: antara apa yang kita harapan versus apa yang tersaji di atas piring. Kita mengharapkan nasi dalam gulungan sushi, namun justru mendapatkan telur. Kita juga membayangkan kulit renyah bebek, tapi malah mendapatkan kulit yang legit. Dalam diet, mengubah persepsi memang perkara tersulit.—CR

Jl. Jepun, Karang Mas Sejahtera, Jimbaran; 0361/4725-445; theleafjimbaran.com; operasional: setiap hari, 07:00-22:00.