Kiri-kanan: Sajian buah segar; pilihan hidangan Indonesia autentik di Bambu.

Bambu

Bambu bagaikan Bunga Rampai versi Bali. Restoran ini menyuguhkan menu-menu autentik Indonesia dengan presentasi yang elegan, di dalam bangunan yang didesain bagi mereka yang lebih menyukai Biyan ketimbang Dior.

Bambu terdiri dari tiga bangunan, salah satunya berbentuk joglo yang dialasi tegel hijau. Sendok dan garpunya berwarna keemasan. Pramusajinya mengenakan kemeja putih, membalut tubuh bagian bawah dengan kain batik, memakai sandal kulit dan udeng. Atmosfernya seperti restoran kaum ningrat di zaman kolonial.

Bambu, sister restaurant dari La Lucciola, menyuguhkan menu yang simpel. Hanya ada delapan opsi menu pembuka, delapan menu utama, dan delapan menu penutup. Penjelasan geografis tentang asal makanan disertakan. Total ada delapan daerah di Nusantara yang terwakili, di antaranya Jawa, Bali, Sumatera Utara, dan Timor.

Interior Bambu yang mengombinasikan nuansa tradisional dan modern.

Pemilik restoran berikhtiar “menyajikan menu-menu warung tradisional Indonesia dalam kemasan gourmet.” Terjemahan populernya: rasa kaki lima dengan penampilan bintang lima. Pendekatan itu terlihat misalnya pada menu ikan jenggot kuah kuning. Masakan asal Papua Barat ini menampilkan potongan ikan belanakyang ditenggelamkan dalam kuah yang kaya tekstur. Rempah-rempah di dalamnya seolah saling berebut tempat untuk mengetuk sensor pada lidah kita. Lengkuas dan kunyit berpadu menghadirkan sensasi tajam, sementara irisan tipis jambu air menjaga keseimbangan rasa asam dan manis.

Contoh lainnya kue ketan hitam asal Lombok. Ketannya dipadatkan hingga berbentuk bakso, kemudian disandingkan dengan es krim vanila. Contoh lain lagi: dadar gulung yang dilinting lebih langsing dibandingkan versi kaki lima, lalu disajikan dengan es krim kelapa. Karakter rasa kedua jajanan pasar itu tidak berbuah, tapi kini Anda memiliki komponen tambahan berupa es krim saat menyantapnya.

Tiap menu utama lazimnya ditemani tiga pilihan sambal: sambal matah Bali, sambal hijau Sumatera, dan sambal merah Jawa. Satu kekurangan di sini, selain sambal matah, seluruh cabai tidak diulek, melainkan diblender. Tapi setidaknya Bambu menawarkan fleksibilitas dalam menentukan tingkat kepedasan masakan—servis yang membuat restoran ini digemari banyak warga Asia. Usai memberikan buku menu, pramusaji akan meminta Anda memilih level sambal: tidak pedas, sedang, dan pedas. Khusus orang Indonesia, tersedia level keempat: ekstra pedas.—CR

Jl.Petitenget 198; 0361/8469-797; operasional: setiap hari, 18:00-24:00.