Interior Republik45 yang lapang.

Republik45

Republik45 adalah jawaban dari pertanyaan lama banyak orang: Adakah restoran yang menyajikan menu Indonesia dengan konsep yang mencerminkan karakter hip kawasan selatan Bali?

Republik45 menempati bekas bengkel mebel yang disulap menjadi restoran trendi bergaya industrial. Sosoknya mirip Miss Bee Providore di Bandung, tapi tanpa dinding kaca. Interiornya didominasi warna hitam yang diimbangi dengan sentuhan cokelat dari furnitur dan rona jingga dari bohlam. Pada salah satu dinding terpajang sebuah lukisan pop art yang menampilkan prosesi Melasti berisi parade manusia tanpa wajah.

Dalam situsnya, restoran ini berniat “membawa kuliner Indonesia ke level yang lebih tinggi.” Misi semacam ini kerap memaksa sang koki berjuang keras dalam menjaga keseimbangan antara orisinalitas dan kreativitas: antara orientasi ke masa lalu dan masa depan. Acap kali, perjuangan itu berbuah ambivalensi di atas piring.

Salah satu menu ayam di Republik45.

Menu udang balado misalnya, menyuguhkan kangkung dan udang yang segar, tapi sambalnya kehilangan tusukan tajam terasi yang membuat sajian ini begitu bernyawa. Tentu saja, menu ini lebih cocok bagi lidah asing ketimbang lokal. Contoh lainnya menu dadarunti yang diterjemahkan di buku menu sebagai “traditional crepe,” walau dalam praktiknya penganan rakyat ini justru berubah menjadi crepe modern dalam arti harfiah, yang kemudian digulung dan diisi “unti” berupa parutan kelapa. Rasa pandan yang menjadi elemen integral dadar gulung raib. Dessert ini tetap lezat, tapi lebih terasa seperti pastry ketimbang “jajanan pasar.”

Di Republik45, makan malam berisi tiga menu dan segelas koktail hampir pasti menembus Rp400.000 per orang. Tempe mendoan dibanderol Rp55.000, sementara bebek goreng Rp265.000. Aspek kreativitas sang koki agaknya dikonversi menjadi harga yang relatif tinggi—praktik yang kian diterima di kawasan Seminyak dan sekitarnya.

Dalam kasus tertentu, kreativitas Republik45 memang layak dihargai tinggi. Menu pangsit bebek misalnya, merupakan interpretasi modern yang sukses atas kuliner tradisional. Pangsitnya dicetak menyerupai bunga, sementara irisan sayuran dan daging bebek dijejalkan di rongga tengah. Di titik inilah Ketut Udiana, koki Republik45, berhasil membuktikan keahlian memasaknya yang ditempa selama bertahun-tahun oleh Chris Salans.

Republik45 juga didesain sebagai ruang hangout—kelebihan yang sulit disaingi oleh restoran Indonesia lain di Bali. Selain bar yang ditata apik di pojok area makan, Republik45 memiliki sebuah lounge yang nyaman di sisi muka. Saban Senin dan Kamis malam, tempat ini menyuguhkan pentas akustik oleh Phil Stoodley.—CR

Jl. Raya Kerobokan 86A; 0819-1674-1844; republik45.com; operasional: setiap hari, 18:00-23:30.