Checking In: Hotel Lokal Yogyakarta

Di tengah gempuran hotel-hotel jaringan nasional dan internasional, Hotel Lokal merebut hati pelanggan dengan sentuhan personal dan pelayanan yang prima.

Restoran Lokal dengan menu khas Indonesia dan barat.

Oleh Gabrielle Lipton

Yogyakarta sudah sejak dulu menjadi salah satu destinasi liburan paling ramai di Indonesia. Popularitasnya di kalangan turis berada satu peringkat di bawah Bali. Hotel-hotel bermerek bermunculan. Masing-masing dengan desainnya yang distingtif. Di tengah gempuran chain hotel, hotel-hotel independen pun ikut meramaikan persaingan. Hotel butik dengan desain yang lebih personal tumbuh subur. Salah satu yang terbaru adalah Hotel Lokal.

Eksterior Hotel Lokal yang minim pelang.

Desain
Berbeda dari gaya hotel bisnis yang kaku dan formal, Hotel Lokal lebih berani bermain-main dengan desain. Gempa Trimuryono, pendirinya awalnya membuka restoran Lokal pada Februari 2014. Hotel Lokal menyusul dibuka sebulan setelahnya. Sesuai dengan namanya, Hotel Lokal mengandalkan pada sumber lokal untuk furnitur dan stafnya. Furniturnya digarap oleh firma desain MISC yang juga merupakan milik Gempa. Desainnya distingtif. Materialnya menggunakan bahan-bahan dari kawasan sekitar. Hasilnya: furnitur bergaya modern minimalis. Mirip dengan yang dijual di toko-toko mebel kelas atas. Dindingnya dibiarkan telanjang. Kandil-kandil eksentrik menghiasi langit-langitnya. Guna mengurangi konsumsi listrik, pemiliknya mengaplikasikan jendela-jendela besar supaya penetrasi cahaya alami bisa maksimal. Menambah kesan eksklusif, mural menarik kreasi seniman lokal menutup beberapa sudut dinding. Sedangkan tegel warna-warni dengan motif terinspirasi motif batik kawung menambah semarak interior Hotel Lokal.

Kolam renang Hotel Lokal yang tidak terlalu besar, namun nyaman.
Kamar Tipe B, tipe kamar paling luas di Hotel Lokal.
Kamar Tipe A dengan tempat tidur twin.

Kamar
Hotel Lokal hanya memiliki 12 kamar dan dibagi menjadi tiga tipe: Tipe A, B, dan C. Semuanya memiliki standar kenyamanan sama, yang membedakan adalah luas kamarnya. Kamar Tipe B merupakan kamar yang paling lapang. Terdiri atas dua lantai, lantai pertama dipecah menjadi kamar mandi, ruang tamu, dan meja kerja. Lantai atas difungsikan sebagai kamar tidur bergaya loft dengan balkon. Bagi mereka yang menginginkan tempat tidur twin bisa memilih kamar Tipe A, sementara kamar Tipe C lebih dirancang untuk pasangan. Masing-masing kamarnya mengusung desain cukup impresif. Mirip dengan desain kamar di IKEA, namun lebih kaya kreativitas. Tak menggoda tamu dengan barang-barang mewah, Hotel Lokal lebih menonjolkan kualitas layanan, di antaranya sepiring stroberi segar di saat kedatangan, mini bar gratis, amenities mumpuni, dan transfer bandara pp gratis.

Restoran Lokal dengan menu khas Indonesia dan barat.

Keistimewaan
Meski berdiri di jalanan cupet Yogyakarta dan tanpa promosi besar-besaran, Hotel Lokal tak pernah sepi tamu. Layanan yang prima dan suasana personal adalah kuncinya. Meja komunal di restoran yang dirancang agar tamu-tamu lebih berinteraksi dengan sesama—ketimbang dengan ponselnya—serta kolam renang yang tak terlalu luas namun sangat nyaman untuk bersantai adalah beberapa hal yang membuat tamu kembali ke Hotel Lokal. Meskipun belum berumur satu tahun, Gempa sudah berencana untuk membuka hotel serupa dengan lokasi yang lebih strategis: di tengah kota.

Jl. Jembatan Merah No. 104C, Yogyakarta, 0274/524-334; Lokal Hotel & Restaurant; doubles mulai dari Rp500.000.

Comments