Kiri-kanan: suasana restoran yang lapang; ragam hidangan di Jamie’s Italian.

Jamie’s Italian

Pembukaan Jamie’s Italian di Kuta adalah berita besar bagi industri restoran nasional. Kehadiran merek waralaba yang memiliki lebih dari 40 cabang ini merupakan testimoni atas pentingnya posisi Pulau Dewata dalam peta kuliner dunia.

Beragam respons mewarnai kemunculannya, sebagian negatif, terutama soal absennya Jamie Oliver dalam peresmian restoran dan mahalnya harga menu. Tapi nada-nada miring itu sebenarnya kurang adil. Jamie memang tak selalu menghadiri peresmian restorannya, seperti juga Howard Schultz tak selalu muncul dalam pembukaan kedai Starbucks. Dan jika menunya dirasa mahal, itu karena sang koki menerapkan standar operasional yang menuntut biaya tinggi, misalnya kewajiban memakai daging ayam yang dipasok dari peternakan dengan sistem kandang terbuka (bukan kandang cupet yang membuat ayam-ayam frustrasi hingga berimbas pada kualitas dagingnya).

Jamie’s Italian menyuguhkan comfort food yang menjadi ciri khas Jamie Oliver. Dapur di Bali dipimpin oleh Alex Barman, koki muda yang sudah mengabdi untuk Jamie selama delapan tahun.

Bumbu dan daging yang menjadi hiasan di Jamie’s Italian.

Seperti cabang lainnya, restoran di Bali menyuguhkan interior yang semarak. Di ruang makan, buku-buku karya Jamie bertaburan mengisi lemari, bersanding dengan gantungan cabai kering dan daging yang telah menguning. Menurut Wangi Putri dari Hard Rock Hotel, perusahaan yang mengelola Jamie’s Italian Bali, menu di Bali nyaris identik dengan cabang Singapura. Satu-satunya kreasi khas lokal adalah Kuta beach iced tea, yakni koktail berisi campuran tequila, vodka, dan jus nanas.

Jamie’s Italian tak sekadar ingin menjala penggemar wajah rupawan Jamie Oliver, tapi juga berniat memuaskan pencinta makanan. Menu Italian nachos misalnya, berhasil memberi interpretasi segar pada wujud nachos melalui ravioli goreng yang ditaburi tiga jenis keju, kemudian disajikan bersama saus arrabbiata. Tafsir memikat lainnya diperlihatkan oleh bruschetta yang dicetak sangat tipis, lalu ditindih irisan avokad dan apel yang memberi sensasi juicy.

Satu keunggulan masakan di sini adalah kuatnya bumbu. Tamu tidak perlu repot memberi seasoning tambahan. Di titik ini, Jamie agaknya berhasil membungkam para kritikus yang menudingnya sebagai koki yang lebih menjual tampang ketimbang masakan.—CR

Jl. Raya Kuta 47; 0361/762-118; jamieoliver.com; operasional: setiap hari, 12:00-23:00.