AYOS PURWOAJI
Ayos adalah penulis, dosen, juga kurator independen yang berfokus pada perlintasan antara arsitektur, sejarah, dan seni rupa. Pameran terakhirnya di 2019 adalah “Segar Bugar: The Story of Conservation in Jakarta 1920’s – present” di Museum Bank Indonesia dan “Némor/Southeast Monsoon” di Cemeti Institute Yogyakarta. @aklampanyun.

Selain sulit bepergian, dampak terbesar pandemi?
Sempat ada kerisauan yang berlebihan, karena kita tidak bisa melihat bagaimana penularan virus terjadi. Jangan-jangan justru kitalah carrier yang membahayakan orang lain. Tapi bukankah kita justru lebih sering takut dengan apa yang tidak bisa dilihat, kan?

Aktivitas favorit selama isolasi?
Bermain console games bersama anak dan membongkar koleksi pustaka yang sudah lama tidak disentuh.

Jika ada, sisi positif dari bencana virus?
Masa rehat yang cukup panjang memberi saya kelonggaran waktu untuk memikirkan ulang hal-hal yang rasanya pun tak penting lagi untuk dikerjakan setelah pandemi usai nanti. Ha.. ha.. ha..

Secara personal, hikmah yang kamu petik?
Bahwa rasa-rasanya, di tengah masa penuh ketidakpastian ini, tidak ada yang terlalu mendesak di muka bumi selain manusia dan rasa kemanusiaan.

Dunia berulang kali menderita wabah virus. Traveling jadi lebih menakutkan?
Setelah pandemi berakhir, mungkin manusia berangsur lupa dan akan melakukan perjalanan lagi. Memenuhi angkasa dengan lintasan pesawat dan mengerumuni pantai. Hanya saja saya berharap selepas pandemi kita semua punya cara pandang baru, sebuah panggilan solidaritas global, terhadap satu-satunya planet yang kita tinggali ini.

Sejauh mana dunia akan berubah?
Dunia perjalanan mungkin akan mengalami banyak perubahan seiring dengan kesadaran global tentang kesehatan dan pergeseran peta geopolitik dunia. Kota perlu menyadari bahwa dirinya rapuh tanpa dukungan desa, dan perlambatan sejatinya adalah hal yang selama ini selalu kita abaikan.

Jika pintu travel sudah dibuka, destinasi pertama yang akan dikunjungi?
Saya dan istri bersepakat untuk segera mengunjungi restoran Padang terenak, atau tempat makan mana saja yang menjadi favorit kami di Surabaya. Selebihnya, Pulau Bawean berada di posisi teratas dalam daftar destinasi yang ingin kami kunjungi.