Lima Travel Writer Bicara Tentang Dunia Tanpa Travel

Juga tentang pariwisata pasca-pandemi dan destinasi yang ingin didatangi.

Searah jarum jam, dari kiri atas: Kenny Santana, Trinity, Fatris MF, Agustinus Wibowo, Ayos Purwoaji

Wawancara oleh Cristian Rahadiansyah

AGUSTINUS WIBOWO
Mantan jurnalis di Afghanistan ini sudah menulis tiga buku: Selimut Debu: Impian dan Kebanggaan dari Negeri Perang Afghanistan (2010), Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah (2011), dan Titik Nol: Sebuah Makna Perjalanan (2013). Dia kini menggarap buku tentang nasionalisme Nusantara. agustinuswibowo.com

Selain sulit bepergian, dampak terbesar pandemi?
Kesulitan berkomunikasi dengan orang, dan hidup menjadi penuh kecurigaan. Saya pernah menghadapi epidemi SARS di Beijing pada 2003, dan harus hidup dalam karantina kota selama berbulan-bulan. Pandemi Covid-19 seperti membangkitkan memori itu: hidup dibayangi kecemasan. Kita dicurigai sebagai pembawa virus, sekaligus waspada terhadap orang yang kita jumpai. Dampak psikologis ini cukup besar dalam memengaruhi pola interaksi.

Aktivitas favorit selama isolasi?
Membaca buku, menulis, meditasi, menikmati koleksi prangko, berkontak kembali secara virtual dengan kawan-kawan lama di berbagai penjuru dunia.

Jika ada, sisi positif dari bencana virus?
Punya lebih banyak waktu untuk mengenali diri sendiri, mendekatkan diri dengan orang-orang terdekat di rumah, serta merenungkan makna hidup. Pandemi ini juga membuat orang jadi lebih sadar akan pentingnya menjaga kebersihan diri maupun lingkungan. Secara global, pandemi ini mengurangi emisi karbon, dan dunia lebih damai karena orang-orang lebih sibuk menghindari virus daripada bertikai.

Secara personal, hikmah yang kamu petik?
Membuat saya menjadi lebih dekat dengan orang-orang terkasih dalam hidup. Saya juga semakin menghargai waktu dan kesehatan, serta menggunakan setiap waktu yang ada dengan sebaik-baiknya untuk tujuan besar. Kita tidak pernah tahu kapan takdir kematian akan datang.

Dunia berulang kali menderita wabah virus. Traveling jadi lebih menakutkan?
Untuk jangka pendek tentu masih ada trauma, tetapi tidak untuk jangka panjang. Saya ingat pada 2003 begitu kota Beijing dibebaskan dari karantina SARS, saya langsung mengambil kereta pertama menuju Xinjiang, lalu ke Pakistan dan Afghanistan yang kala itu dicekam ketakutan lainnya—perang dan terorisme—dan saya baik-baik saja. Setelah setahun atau dua tahun pasca-SARS, hampir semua orang sudah melupakan trauma. Dunia perjalanan selalu dicekam berbagai risiko, mulai dari keracunan makanan, kecelakaan lalu lintas, kriminalitas, sampai terorisme, tetapi semua itu tidak menghalangi orang bepergian. Selepas Covid-19, tata cara orang bepergian akan berbeda, tetapi setelah badai ini benar-benar berlalu, orang akan bepergian lagi secara normal.

Selepas pandemi, sejauh mana dunia akan berubah?
Wabah ini akan mengubah tingkat kemudahan orang dalam bepergian keluar negeri. Negara-negara akan mempertimbangkan faktor apakah seorang pengunjung asing potensial membawa penyakit atau tidak, serta bagaimana kemampuan negara asalnya dalam menangani wabah. Mungkin kelak kita perlu menunjukkan surat keterangan vaksinasi corona, sebagaimana surat vaksinasi yellow fever. Pandemi juga membuat negara-negara terpaksa harus bekerja sama lebih erat dalam menghadapi bencana universal, yang pada akhirnya justru berperan positif dalam mendorong perdamaian dunia.

Jika pintu travel sudah dibuka, destinasi pertama yang akan dikunjungi?
Italia. Saya sedari dulu ingin mempelajari sejarah Romawi. Sekarang saya tertarik untuk melihat bagaimana kehidupan di Italia pasca-pandemi.

 

Comments