TRINITY
Trinity sudah menulis 15 buku perjalanan, termasuk seri The Naked Traveler dan komik Duo Hippo Dinamis. Dua bukunya telah diadaptasi ke layar lebar dalam dua film yang dibintangi oleh Maudy Ayunda: Trinity, The Nekad Traveler dan Trinity Traveler. naked-traveler.com

Selain sulit bepergian, dampak terbesar pandemi?
Ini pertama kalinya saya terjebak sangat lama di satu tempat, dan semua ini membuat saya jadi sakit. Mood hancur. Malas berbuat apa pun. Banyak orang bilang dengan banyak waktu di rumah, kita bisa lebih produktif dan kreatif, tapi ini tidak berlaku untuk saya. Sekarang saya hanya ingin menjaga kewarasan. Dampak lain pandemi tentu saja finansial. Akibat industri pariwisata, saya kehilangan pemasukan. Pekerjaan sebagai influencer juga berkurang drastis. Banyak perusahaan, terutama di sektor pariwisata, tidak berpromosi.

Kamu sempat menghadapi wabah SARS. Perbedaan terbesarnya?
SARS terjadi di 2003. Saya ingat waktu itu saya sedang berada di Maladewa, dan saya diwajibkan memeriksakan diri ke klinik setempat setiap malam, sampai-sampai saya “pdkt” dengan dokternya. Kondisi dulu mirip dengan kini. Di mana-mana ada pemeriksaan suhu. Bedanya dengan pandemi Covid-19 ialah media sosial dan penetrasi internet. Kita dibombardir begitu banyak berita menakutkan, akibatnya lebih paranoid.   

Aktivitas favorit selama isolasi?
Menonton film dan membaca buku. Tujuannya lagi-lagi demi menjaga kewarasan. Saya juga mengurangi membuka media sosial, jadi bisa dibilang saya sedang melakukan social media distancing. Selain itu, saya melakukan sesuatu yang dulu tidak sempat saya lakukan, misalnya beres-beres lemari.

Jika ada, sisi positif dari bencana virus?
Yang paling terlihat ialah dalam hal lingkungan. Planet seperti istirahat. Jakarta langitnya biru, sesuatu yang biasanya terjadi setahun sekali saat Lebaran. Tapi ironisnya, saat langit cerah dan udara segar, kita justru tidak bisa keluar rumah. Di luar itu, sulit mencari sisi positif pandemi. Banyak orang bilang terjebak di rumah membuat kita lebih dekat keluarga, tapi saya tinggal sendiri. Ada juga yang bilang ini momen menemukan jati diri, tapi saya tidak mengalaminya. Saya tetap menghadiri gereja online, tapi tidak lantas berubah secara spiritual.

Sempat terpikir mencoba profesi baru?
Inti profesi saya ialah menulis. Mungkin saya akan mencoba menulis genre lain, misalnya menulis novel dan buku nonfiksi non-perjalanan. Tapi sebenarnya ini wacana lama, yang sayangnya tidak juga terlaksana. Yang pasti saya tidak akan beralih jadi, misalnya, pedagang alat kesehatan.

Dunia berulang kali mengalami pandemi. Apa yang akan berubah selepas Covid-19?
Dalam kasus 9/11, pemeriksaan di bandara menjadi lebih ketat. Setelah Covid-19, mungkin pemeriksaan kesehatan akan lebih diperhatikan. Ketika sakit, sudah pasti kita dilarang bepergian. Pramugari mungkin akan pakai sarung tangan. Kamar hotel akan berbau seperti rumah sakit. Dalam aspek sosial, orang mungkin tidak akan lagi cipika cipiki dan masker menjadi bagian dari busana. Pandemi akan merevolusi banyak hal dalam setahun ke depan.

Setelah SARS, pariwisata kembali tumbuh. Penumpang pesawat meningkat. Hotel kian banyak. Kondisinya akan berbeda setelah Covid-19?
Skala pandemi sekarang lebih besar. Dulu virus relatif terkonsentrasi di wilayah tertentu, tidak sampai menembus 100 negara. Pariwisata memang akan kembali normal, tapi tidak secepat sebelumnya.  

Jika pintu travel sudah dibuka, destinasi pertama yang akan dikunjungi?
Sumba. Ini sebenarnya rencana yang tertunda. Saya harusnya ke sana Maret silam. Sudah bayar tiket pesawat dan atur itinerary. Setelah lama di ruangan, saya ingin ke pantai yang terik untuk berjemur dan berenang sambil jumpalitan. Indonesia adalah tempat terbaik untuk melakukannya.

Pesan untuk penulis perjalanan lain?
Jaga kewarasan. Ini periode darurat. Sebenarnya saya juga ingin bilang ke teman-teman untuk terus berkarya, tapi saya sendiri tidak melakukannya. Ha.. ha.. ha…