FATRIS MF
Fatris menggandrungi sastra saat mondok di Pesantren Hamka dan mulai menulis artikel perjalanan selepas kuliah. Hingga 2019, pria asal Sumatera Barat ini sudah menghasilkan tiga antologi catatan perjalanan: Merobek Sumatra (2015), Kabar dari Timur (2018), serta Lara Tawa Nusantara (2019). fatrism.com

Selain sulit bepergian, dampak terbesar pandemi?
Cuma sulit bepergian. Dampak lainnya tidak saya rasakan.

Aktivitas favorit selama isolasi?
Menonton film, membaca, main games.

Jika ada, sisi positif dari bencana virus?
Sisi positifnya, barangkali, saya bisa tenang di rumah dalam waktu yang lama, dan ini kesempatan bagi saya untuk menyelesaikan bacaan. Banyak buku yang saya beli tahun-tahun sebelumnya belum terbaca.

Secara personal, hikmah yang kamu petik?
Bisa intensif membaca dalam waktu yang lama—hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya.

Dunia berulang kali menderita wabah virus. Traveling jadi lebih menakutkan?
Memang agak menakutkan. Tapi, toh, wabah dan virus sejauh yang tercatat adalah datang dan menyebarnya lewat traveling juga. Manusia memang bergerak, berjalan, dan hidup dari satu ketakutan ke ketakutan yang lain. Barangkali, kebahagiaan—yang selama hidup dicari dan diburu manusia—ada di antara ketakutan-ketakutan itu.

Selepas wabah, sejauh mana dunia akan belajar dan berubah?
Dunia tidak akan belajar apa-apa. Setiap datang wabah, semua akan terasa mengejutkan. Selepas wabah ini, dunia dan manusia akan belajar menciptakan wabah yang baru, apa pun bentuknya.

Jika pintu travel sudah dibuka, destinasi pertama yang akan dikunjungi?
Mungkin negara-negara di Amerika Latin. Alasannya, selain saya belum pernah ke sana, dan negara-negara di sana tumbuh dan berkembang dengan caranya sendiri. Saya mengenal mereka hanya dari bahan bacaan.