Kiri-kanan: Dinding Alaya Kuta berhiaskan mural; area kolam renang di Alaya Kuta.

Alaya Kuta
Hotel yang membuat Kuta layak dilirik oleh generasi pencinta desain.
oleh Cristian Rahadiansyah

Jimmy Gunawan adalah satu dari segelintir hotelier lokal yang berani bereksperimen dengan desain. Awalnya, dia terjun ke bisnis hotel dengan mendirikan Villa de Daun, sebuah wadah retret di tepi jalur gaduh Legian. Setelah itu, dia menghadirkan Tanaya, penginapan B&B dengan desain rumahan yang anggun. Kini, lewat Alaya Kuta, Jimmy mendemonstrasikan permainan desain yang atraktif.

Alaya Kuta adalah properti yang lazim kita temukan dalam portofolio Design Hotels. Hotel butik ini bagaikan sebuah kolase dari banyak gaya: bohemian, kolonial, Indocina, dan Bali kontemporer. Desainnya kaya permainan bentuk yang membuat bangunan hotel terasa bernyawa.

Memasuki lobi, kita akan disambut oleh instalasi mobil Formula1 yang bertuliskan “Democracy Kills.” Karya evokatif ini dibuat dari seng yang dipenuhi lubang bekas tembakan peluru. Penciptanya, Pintor Sirait, berusaha mengkritisi konsep demokrasi Barat yang kerap menyita banyak korban. Sebuah karya yang menggigit untuk standar lobi hotel.

Kiri: kamar dengan sentuhan batik; kanan: restoran dengan interior cantik.
Kiri: kamar dengan sentuhan batik; kanan: restoran dengan interior cantik.

Menyusuri lantai-lantai hotel, kita akan menemukan banyak ventilasi yang membuat hotel ramping ini senantiasa terasa lega. Sebagian ventilasi dicetak menarik, misalnya dalam wujud kembang adamantium yang melubangi dinding merah—sentuhan kreatif yang mengingatkan kita pada Barai Spa di Thailand.

Sebagian elemen desainnya terinspirasi budaya lokal. Di depan lift terpasang instalasi seni yang dibuat dari perkakas bajak sawah. Sedangkan di kamar, terdapat tanda “do not disturb” yang diukir pada sebatang bambu. Tentu saja, artwork yang paling atraktif adalah dinding lima lantai di dekat kolam renang yang menampilkan ornamen lamak Bali.

Sukun, restoran di hotel ini, tak luput dari sentuhan artistik. Plafonnya dilapisi mural, sedangkan area makannya ditaburi kursi buatan Alvin-T. Di kala malam, Sukun diterangi oleh lampu-lampu gantung yang menyerupai bintang laut. “Kami juga mengawinkan fesyen dan hospitality,” tambah Jeffrey Wibisono, General Manager. “Seluruh seragam karyawan dirancang oleh Peggy Hartanto.”

Alaya Kuta menaungi 116 kamar, termasuk delapan suite. Seluruh kamar dilengkapi balkon atau beranda privat. Di dalam kamar, kita bisa menemukan gorden yang merefleksikan ombak, papan-papan yang disusun bergelombang di tepi balkon, serta wallpaper yang memajang foto-foto peselancar karya Jason Childs. Semua ini bertujuan merefleksikan reputasi Kuta sebagai destinasi pantai.

Alaya Kuta dirancang oleh Made Wijaya dan Grounds Kent Architects—duet yang sebelumnya berkolaborasi di proyek hotel Alaya Ubud. (Sebenarnya, dalam hal desain, Alaya Kuta merupakan penyempurnaan dari kreasi keduanya di Ubud.) Melihat permainan desainnya, Alaya Kuta agaknya turut berjasa membentuk stigma baru Kuta sebagai kawasan yang peduli pada estetika.

Daya Tarik

  • Democracy Kills, instalasi karya Pintor Sirait yang dibuat dari seng yang dipenuhi lubang bekas tembakan peluru.
  • Nasi raja, menu andalan Restoran Sukun, yang berisi antara lain sate lilit, kenus mebase, udang panggang, dan plecing gonda.
  • Kolam renang yang dinaungi artwork setinggi lima lantai.

Jl. Kartika Plaza, Gang Puspa Ayu 99, Kuta; 0361/755-380; alayahotels.com; doubles mulai dari Rp3.100.000.