Check In

8 Hotel Baru di Bali

Interior kamar di Padma Ubud.


Foto oleh Putu Sayoga

Padma Ubud
Hotel dengan ballroom terbesar, jumlah kamar terbanyak, dan lokasi paling terpencil di Ubud.
Oleh Cristian Rahadiansyah

Satu tanda Anda sudah mendekati Padma Ubud adalah berubahnya lingua franca. Hotel ini berjarak sekitar 40 menit berkendara dari pusat keramaian Ubud, persisnya di Desa Puhu, sebuah permukiman di mana lebih banyak orang berbahasa Bali ketimbang Indonesia, di mana kaum pria menghabiskan sore dengan berkerumun di serambi rumah sembari menggendong ayam petarung. Melihat lokasinya, Padma merupakan hotel paling terpencil di Ubud—gelar yang sebelumnya dipegang oleh Ubud Hanging Gardens.

Tapi berkat keterpencilannya itulah Padma sanggup menyuguhkan pemandangan yang selama ini kita asosiasikan dengan Ubud: alam agraris yang sejuk. Di pagi hari, kita bisa mengintip puncak Gunung Agung dari balkon kamar, menyaksikan kabut yang tersangkut di dahan-dahan pohon, serta menonton aktivitas para petani di sawah.

Di waktu malam, suguhannya berupa orkestra tonggeret dan gemercik sungai yang bersaing memecah hening. Padma berdiri menghadap lembah hijau yang diukir sawah. Kompleks seluas 11 hektare ini menaungi 149 kamar yang terpecah menjadi tiga kategori: premier room, suite berisi satu kamar tidur, dan suite berisi dua kamar tidur.

Kiri: kolam renang dilengkapi pemanas; kanan: trek joging khusus tamu.
Kiri: kolam renang dilengkapi pemanas; kanan: trek joging khusus tamu.

Kamar tipe terendahnya cukup lapang: 59 meter persegi, berselisih sedikit dari kamar deluxe di Alila Ubud. Tiap kamar dilengkapi televisi berukuran 48 inci, bathtub, toiletries merek Archive, serta balkon privat. Pilih kamar yang menghadap timur untuk menikmati panorama tercantik di pagi hari.

Menurut staf Padma, lahan di seberang lembah sudah dibeli oleh pemilik resor, sehingga Anda tak perlu cemas kelak bakal menatap bangunan lain dari jendela kamar. “Ini hotel terbesar di Ubud. Kami juga memiliki ballroom terbesar di kawasan ini,” ujar Reza Sunardi, General Manager. “Ini menjadi keunggulan kami. Padma bisa melayani grup-grup insentif dari korporat besar.”

Padma mengusung arsitektur Bali kontemporer yang lazim diadopsi oleh resor-resor senior semacam Conrad di Benoa atau Westin di Nusa Dua. Sentuhan desain yang lebih “muda” diterapkan di kamar lewat permainan lampu gantung dan mesin espresso Tre Vergnano yang bergaya retro.

Restoran andalannya, Puhu, dipimpin oleh koki andal Ketut Sumerta yang sebelumnya mengabdi untuk Four Seasons Macau. Tempat ini menyuguhkan menu lokal dan internasional yang dipresentasikan cukup atraktif. Untuk pengalaman makan dengan panorama yang menyegarkan, pilihan terbaik adalah Pool Cafe yang menghadap kolam renang bergaya terasering, persis di samping fasilitas terbaik resor, yakni lintasan joging yang berkelok-kelok sepanjang 1,5 kilometer layaknya ular yang memeluk pinggang bukit.

Daya Tarik

  • Lintasan joging sepanjang 1,5 kilometer di sisi timur properti, persis di samping kolam renang.
  • Kolam renang infinity sepanjang 89 meter yang menatap lembah hijau dan hutan bambu.
  • Menu salmon gravlax platter yang terdiri dari irisan tipis salmon, ditambah beetroot babaganus, red miso, dan dressing capers berry.

Banjar Carik, Desa Puhu, Payangan, Ubud; 0361/3011-111; padmaresortubud.com; doubles mulai Rp1.765.000.

Beach Bar di Alila Seminyak.

Alila Seminyak
Resor termuda dengan gaya paling muda dalam keluarga Alila.
Oleh Cristian Rahadiansyah

Alila adalah merek bintang lima dengan jumlah properti terbanyak dan cakupan geografis terluas di Bali. Ia hadir di hampir semua kawasan dalam sirkuit utama turis: Ubud, Karangasem, Uluwatu, Tabanan, dan kini, Seminyak. Mungkin itu sebabnya sulit menampik godaan untuk membandingkan Alila Seminyak dari para seniornya, terutama jika Anda seorang “Alila junkie.”

Di Bali, Alila Seminyak adalah satu-satunya resor Alila yang dilengkapi lift, kids’ club, dan ballroom. Jika properti Alila lainnya berbentuk kompleks yang eksklusif, Alila Seminyak justru bersemayam di area permukiman, terbelah secara harfiah oleh sebuah rumah, serta menawarkan sebuah restoran persis di tepi jalan raya yang sibuk.

“Alila” berarti “kejutan” dalam bahasa Sanskerta, dan Alila Seminyak adalah propertinya yang paling mengejutkan. Alila Seminyak memayungi 240 kamar dan sebuah penthouse yang merupakan satu-satunya kamar dengan kolam renang privat. Superior, kamar tipe terendah, diletakkan di tepi jalan raya. “Kamar ini didedikasikan bagi mereka yang ingin lebih mudah menjelajahi Seminyak,” ujar Devina Hindom, Director of Communications.

Kiri: kamar Suite di lengkap dengan balkon privat; kanan: hidangan bebek khas Alila Seminyak.
Kiri: kamar Suite di lengkap dengan balkon privat; kanan: hidangan bebek khas Alila Seminyak.

Berkat fitur yang minimalis, kamar-kamarnya terasa lapang. Di tipe ocean suite misalnya, tidak ada meja kerja, tidak ada pemisahan wastafel pria dan wanita yang menjadi ciri khas Alila. Balkonnya dilengkapi sofa untuk bersantai, sementara bathtub-nya diletakan di dekat jendela agar kita bisa berendam seraya menikmati panorama samudra.

Resor ini dirancang oleh Gaurang Khemka dari URBNarc, firma yang sebelumnya menangani Indian Heritage Centre di Singapura. Secara umum, karakter desain Alila masih terjaga. Ada lantai batu putih yang anggun, papan-papan kayu yang dibariskan apik, serta kamar-kamar yang merangkul alam berkat pintu kaca yang bisa digeser sepenuhnya.

Sesuai filosofi bisnis Alila, resor ini juga menerapkan sejumlah prinsip ramah lingkungan. Sebagian tubuh resor dibuat dari materi daur ulang. Di dalam kamar, AC akan padam otomatis ketika pintu dibuka. Inilah sebagian alasan Alila Seminyak lolos uji EarthCheck dengan poin yang impresif.

Fasilitas andalannya adalah Beach Bar bertubuh kayu yang terletak di samping Party Pool. Dari Kamis hingga Minggu, tempat ini memutar nomor-nomor easy listening racikan DJ Eric Reithler-Barros asal New York.

Melihat desain, menu, dan hiburannya, Beach Bar jelas berniat menjadi wadah hangout alternatif yang lebih “dewasa” di kawasan Seminyak. Dan mungkin karena membidik segmen yang lebih dewasa, tempat ini tutup lebih awal—pukul 23. Tapi kaum nokturnal tak perlu bingung mencari tempat untuk memuaskan insomnia, sebab Alila Seminyak hanya dipisahkan oleh selembar dinding dari Potato Head Beach Club.

Daya Tarik

  • Beach Bar, wadah hangout yang menyuguhkan koktail berkelas, panorama Samudra Hindia, dan pentas DJ Eric Reithler-Barros asal New York.
  • Sesi yoga gratis yang digelar pagi hari di tepi pantai.
  • Menu ayam Tabanan, ramen, dan bulgalbi barbequed short beef ribs.

Jl. Taman Ganesha 9; Petitenget, Kerobokan; 0361/3021-888; alilahotels.com; doubles mulai dari Rp3.457.000.

Fasad Rumah Luwih.

Rumah Luwih
Hotel butik independen yang berniat memulihkan pamor kawasan pesisir selatan Gianyar.
Oleh Reza Idris

Area pesisir selatan Gianyar kerap dijadikan contoh dari dampak buruk reklamasi laut di Bali. Akibat pengurukan perairan Pulau Serangan pada awal 1990-an untuk pembangunan resor, gerak alami arus terganggu, hingga arus pun berbelok, kemudian melabrak dan menggerus banyak pantai yang menjulur di tepian Jalan Profesor Ida Bagus Mantra —jalur sibuk yang menghubungkan kawasan Sanur dan Karangasem. Di pesisir yang pernah menjadi korban abrasi itulah Rumah Luwih berdiri.

Keputusan yang cukup berani memang, tapi hotel ini sebenarnya punya aset yang mumpuni untuk memikat tamu. Dan jika eksperimennya sukses, ia bisa menjadi titik awal dari pulihnya pamor pesisir Gianyar.

Rumah Luwih bersemayam di lahan seluas satu hektare di bibir Pantai Lebih (“luwih” berarti lebih) yang berpasir hitam. Lokasinya cukup strategis, sekitar 30 menit dari Sanur. Kendati begitu, kawasannya masih relatif hening. Kecuali sejumlah vila privat, tak ada hotel lain di sekitarnya. Pusat keramaian terdekat adalah Bali Safari & Marine Park, Pasar Seni Sukawati, dan Komune Beach Club yang terpisah jarak delapan kilometer.

Kiri: kolam renang luas dengan pemandangan pantai; kanan: interior The Dining Room, satu-satunya restoran di Rumah Luwih.
Kiri: kolam renang luas dengan pemandangan pantai; kanan: interior The Dining Room, satu-satunya restoran di Rumah Luwih.

Mengusung arsitektur rumah kolonial di tepi pantai, sosok Rumah Luwih sejenak mengingatkan kita pada hotel-hotel mewah di kawasan Lagoi dan Nongsa. Halaman hotel menjulur ke arah pantai serta menampilkan taman yang dibelah jalur pejalan kaki dan dipercantik danau artifisial. Dari taman ini pula kita bisa melihat Pulau Nusa Lembongan di seberang lautan.

Hotel anggun ini didesain oleh Hadiprana, salah satu firma paling senior di Indonesia, yang pernah terlibat dalam proyek Chedi Club Tanah Gajah dan InterContinental Bali. Memasuki Rumah Luwih, tamu akan disambut oleh lobi lapang berdesain semi-terbuka dengan langit-langit tinggi. Interiornya merayakan pesona glamor masa silam melalui kandil megah, pintu dan jendela berukuran besar, serta lantai teraso. Ornamen klasik seperti vas, lukisan, dan mebel kayu jati, berserakan di pojok-pojok ruangan.

Hampir semua benda ini, menurut staf hotel, diseleksi secara personal oleh sang arsitek. Rumah Luwih memayungi 75 kamar. Prabanggana, kamar tipe terendah, memiliki luas 40 meter persegi, sedangkan kamar di kategori tertinggi, Aruna Suite, menawarkan area lapang 200 meter persegi, lengkap dengan ruang tamu yang menatap kolam renang infinity. The Dining Room, satu-satunya restoran di hotel ini, menyajikan kuliner Peranakan dan Eropa klasik. Fasilitas lain hotel adalah spa yang diasuh oleh Martha Tilaar.

Hotel independen yang diprakarsai pengusaha Veroline Kurniawan ini juga membidik segmen resepsi. Aset andalannya adalah kapel di tepi pantai dan taman yang berkapasitas 500 tamu.

Daya Tarik

  • Kamar nomor 233 yang dilengkapi balkon yang menghadap kolam, danau, taman, dan laut.
  • Luwih Garden, taman seluas 200 meter persegi di sisi barat properti yang bisa disulap menjadi area kenduri.
  • Kolam renang sepanjang 50 meter yang dihiasi motif buatan Hadiprana pada dasarnya.

Jl. Prof. Ida Bagus Mantra Km. 20, Gianyar; 0361/200-5899; rumahluwih.com; doubles mulai dari Rp.1.800.000.

Restoran di Four Points Kuta yang bersemayam di tepi kolam renang laguna.

Four Points Kuta
Hotel perdana Four Points di Indonesia yang terletak di sentra wisata pertama di Bali.
Oleh Yohanes Sandy

Menengok lokasinya, kita mungkin merasa skeptis bisa menemukan penginapan berkualitas prima. Four Points by Sheraton Bali, Kuta, teronggok di permukiman padat Banjar Pengabetan. Akses masuknya sempit: hanya cukup dilalui satu mobil. “Menemukan surga memang tidak gampang,” seloroh Masri, General Manager.

Lantai dasarnya dihuni restoran, sementara lobinya bertengger di lantai dua dengan konsep semiterbuka. “Kami ingin menyambut tamu dengan embusan angin sepoi-sepoi,” tambah Masri. Desain hotel mengadopsi gaya modern kontemporer yang jamak di Bali. Lobinya kaya sentuhan natural, mulai dari perabot kayu hingga lampu-lampu gantung berbahan rotan.

Arsitektur Four Points Kuta ditangani oleh tim dari Four Points Group, sementara interiornya diotaki oleh Zohra Boukhari, desainer terpandang kelahiran Maroko, yang pernah menggarap DaLa Spa dan Restoran Taman Wantilan di Four Seasons Jimbaran.

Kanan: area santai di puncak gedung; kanan: kolam lagunanya cukup luas untuk hotel di tengah-tengah pemukiman penduduk.
Kanan: area santai di puncak gedung; kanan: kolam lagunanya cukup luas untuk hotel di tengah-tengah pemukiman penduduk.

Mengandalkan kepiawaiannya dalam menata dan memadukan benda antik, Zohra berhasil meramu atmosfer vintage yang memikat. Di restoran misalnya, dia menempatkan cermin besar dengan bingkai kuno, meja-meja yang dibentuk dari besi solid dan kayu mentah, serta serangkaian kursi besi yang dilapisi anyaman rotan.

Four Points Kuta menaungi 163 kamar dan 22 suite. Tiap unitnya dilengkapi fitur standar seperti mesin peracik kopi, koneksi internet gratis, dan kotak penyimpanan. Satu fitur unggulannya adalah signature bed Four Points yang sangat nyaman. Tak banyak sentuhan desain yang memukau di kamar, kecuali mungkin area balkon yang dibelah dua guna menampung balkon standar dan balkon berdinding kaca di mana tamu bisa melihat pemandangan tanpa tersengat terik.

“Kamarnya didesain bagi turis independen yang fleksibel dan easy going—sesuai dengan napas Four Points,” tutur Masri. “Desainnya simpel, namun menarik. Beberapa fiturnya dirancang untuk memudahkan tamu, misalnya colokan USB untuk mengisi baterai HP.”

Four Points Kuta membidik turis yang ingin menikmati kawasan paling semarak di Bali. Hotel ini berjarak hanya selemparan batu dari Jalan Legian. Pantai Kuta bisa dijangkau dengan berjalan selama 10 menit. Andaikan tamu malas beranjak dari hotel, Four Points Kuta telah menyiapkan tiga wadah alternatif untuk membunuh waktu: kolam laguna dengan jacuzzi; rooftop bar Vertigo; serta “taman bir” Best Brews.

Vertigo bersemayam di lantai enam dan dilengkapi kolam renang. Sementara Best Brews bercokol di teras hotel serta menyuguhkan live music saban malam.

Daya Tarik

  • Kolam renang laguna yang dilengkapi kolam khusus anak dan jacuzzi.
  • Best Brews, “taman bir” yang bercokol di halaman hotel dan menyuguhkan live music saban malam.
  • Vertigo Rooftop Bar, area bercengkerama yang dilengkapi kolam renang.

Jl. Benesari, Banjar Pengabetan, Kuta; 0361/8496-606; fourpointsbalikuta.com; doubles mulai dari Rp1.100.000.

Yacht yang tersedia untuk disewa tamu di Plataran Menjangan.

Plataran Menjangan
Opsi baru di Buleleng bagi kaum petualang dan pencinta alam.
Oleh Reza Idris

Seperti Aman dan Tugu, merek Plataran dicirikan oleh desain bergaya butik, lokasi premium, dan—jika memungkinkan—pengalaman liburan yang mengajak tamunya menyelami alam liar. Semuanya berhasil diwujudkan di properti barunya di Bali.

Plataran Menjangan berlokasi di bibir Taman Nasional Bali Barat, suaka seluas 19 ribu hektare yang menampung 160 spesies satwa, termasuk burung jalak Bali yang merupakan ikon fauna Pulau Dewata. Menjangkau resor ini menuntut kesabaran, sebab TN Bali Barat sebenarnya lebih dekat ke Banyuwangi ketimbang Denpasar. Dari bandara, kita mesti membelah pulau dengan menyusuri jalan berkelok di pinggang perbukitan, kemudian menembus hutan dan jalur setapak berbatu.

Waktu tempuhnya sekitar empat jam. Plataran Menjangan baru dibuka November silam. Ini resor premium kedua di kawasan TN Bali Barat. Seniornya, The Menjangan, sudah beroperasi sejak 2002.

Kiri: menikmati sesi afternoon tea sambil melihat pemandangan hutan dan laut; kanan: plunge pool yang tersedia di tiap vila.
Kiri: menikmati sesi afternoon tea sambil melihat pemandangan hutan dan laut; kanan: plunge pool yang tersedia di tiap vila.

Kedua properti ini sekarang bertetangga, terpisahkan hanya oleh selembar tembok dan barisan pohon trembesi. “Kami ingin mengakomodasi tamu pasangan dan keluarga,” ujar Yusuf Arif Rahman, Resor Manager. Khusus tamu pasangan, tersedia 20 vila bergaya joglo yang dibariskan di tubir pantai. Sementara untuk tamu keluarga, Plataran Menjangan menawarkan Residence Suite, kompleks berisi tiga bangunan yang memayungi total 42 suite. Fitur standar di kamar antara lain televisi layar datar, iPod dock, serta koneksi internet dengan kecepatan 2,41 Mbps.

Tamu memiliki segala fasilitas yang dibutuhkan untuk menikmati liburan di resor, tapi tawaran terbaik tempat ini sebenarnya berada di luar bangunan. Plataran Menjangan menawarkan beragam paket petualangan alam. Tamu bisa melakoni bird-watching sembari trekking menyusuri rute sepanjang tiga kilometer.

Tamu juga bisa mencoba kayaking menyusuri hutan bakau, snorkeling di Pulau Menjangan, atau berlayar di Teluk Banyuwedang dengan yacht milik resor. Resor ini didesain oleh Terry Armand Architect. Kreasi teruniknya adalah Oktagon, bangunan berbentuk segi delapan setinggi tiga lantai di sisi timur resor. Struktur berbahan bata merah ini memayungi rooftop lounge, kolam renang sepanjang 20 meter, pool bar, serta restoran yang menyajikan menu Indonesia dan Mediterania.

Restoran lainnya, Wantilan Open Kitchen, bersarang di lobi dan mengandalkan menu mango salad dan tom yum talay. Tempat ini juga menyuguhkan sarapan, dan tamu mungkin akan mengenangnya sebagai pengalaman sarapan terbaik di Bali. Sembari menyeruput kopi, kita bisa menyaksikan kawanan rusa berkeliaran, menyerap panorama pagi di Selat Bali, serta mengintip puncak Gunung Raung dan Ijen di pulau seberang.

Daya Tarik

  • Wantilan Open Kitchen, tempat sarapan yang menyuguhkan panorama lautan.
  • Aktivitas seperti trekking dan kayaking yang bisa dinikmati gratis, ditambah tur pesiar yang digelar berdasarkan pesanan.
  • Oktagon, gedung bata yang memayungi restoran, rooftop lounge, dan kolam infinity.

Jl. Raya Seririt, Gilimanuk, Buleleng; 0361/411-388; plataran.com; vila mulai dari Rp6.177.000.

Kiri-kanan: Dinding Alaya Kuta berhiaskan mural; area kolam renang di Alaya Kuta.

Alaya Kuta
Hotel yang membuat Kuta layak dilirik oleh generasi pencinta desain.
oleh Cristian Rahadiansyah

Jimmy Gunawan adalah satu dari segelintir hotelier lokal yang berani bereksperimen dengan desain. Awalnya, dia terjun ke bisnis hotel dengan mendirikan Villa de Daun, sebuah wadah retret di tepi jalur gaduh Legian. Setelah itu, dia menghadirkan Tanaya, penginapan B&B dengan desain rumahan yang anggun. Kini, lewat Alaya Kuta, Jimmy mendemonstrasikan permainan desain yang atraktif.

Alaya Kuta adalah properti yang lazim kita temukan dalam portofolio Design Hotels. Hotel butik ini bagaikan sebuah kolase dari banyak gaya: bohemian, kolonial, Indocina, dan Bali kontemporer. Desainnya kaya permainan bentuk yang membuat bangunan hotel terasa bernyawa.

Memasuki lobi, kita akan disambut oleh instalasi mobil Formula1 yang bertuliskan “Democracy Kills.” Karya evokatif ini dibuat dari seng yang dipenuhi lubang bekas tembakan peluru. Penciptanya, Pintor Sirait, berusaha mengkritisi konsep demokrasi Barat yang kerap menyita banyak korban. Sebuah karya yang menggigit untuk standar lobi hotel.

Kiri: kamar dengan sentuhan batik; kanan: restoran dengan interior cantik.
Kiri: kamar dengan sentuhan batik; kanan: restoran dengan interior cantik.

Menyusuri lantai-lantai hotel, kita akan menemukan banyak ventilasi yang membuat hotel ramping ini senantiasa terasa lega. Sebagian ventilasi dicetak menarik, misalnya dalam wujud kembang adamantium yang melubangi dinding merah—sentuhan kreatif yang mengingatkan kita pada Barai Spa di Thailand.

Sebagian elemen desainnya terinspirasi budaya lokal. Di depan lift terpasang instalasi seni yang dibuat dari perkakas bajak sawah. Sedangkan di kamar, terdapat tanda “do not disturb” yang diukir pada sebatang bambu. Tentu saja, artwork yang paling atraktif adalah dinding lima lantai di dekat kolam renang yang menampilkan ornamen lamak Bali.

Sukun, restoran di hotel ini, tak luput dari sentuhan artistik. Plafonnya dilapisi mural, sedangkan area makannya ditaburi kursi buatan Alvin-T. Di kala malam, Sukun diterangi oleh lampu-lampu gantung yang menyerupai bintang laut. “Kami juga mengawinkan fesyen dan hospitality,” tambah Jeffrey Wibisono, General Manager. “Seluruh seragam karyawan dirancang oleh Peggy Hartanto.”

Alaya Kuta menaungi 116 kamar, termasuk delapan suite. Seluruh kamar dilengkapi balkon atau beranda privat. Di dalam kamar, kita bisa menemukan gorden yang merefleksikan ombak, papan-papan yang disusun bergelombang di tepi balkon, serta wallpaper yang memajang foto-foto peselancar karya Jason Childs. Semua ini bertujuan merefleksikan reputasi Kuta sebagai destinasi pantai.

Alaya Kuta dirancang oleh Made Wijaya dan Grounds Kent Architects—duet yang sebelumnya berkolaborasi di proyek hotel Alaya Ubud. (Sebenarnya, dalam hal desain, Alaya Kuta merupakan penyempurnaan dari kreasi keduanya di Ubud.) Melihat permainan desainnya, Alaya Kuta agaknya turut berjasa membentuk stigma baru Kuta sebagai kawasan yang peduli pada estetika.

Daya Tarik

  • Democracy Kills, instalasi karya Pintor Sirait yang dibuat dari seng yang dipenuhi lubang bekas tembakan peluru.
  • Nasi raja, menu andalan Restoran Sukun, yang berisi antara lain sate lilit, kenus mebase, udang panggang, dan plecing gonda.
  • Kolam renang yang dinaungi artwork setinggi lima lantai.

Jl. Kartika Plaza, Gang Puspa Ayu 99, Kuta; 0361/755-380; alayahotels.com; doubles mulai dari Rp3.100.000.

Bangunan di Mandapa dikerek di sepanjang sungai.

Mandapa, a Ritz-Carlton Reserve
Resor yang menempati lahan cantik “terakhir” di tepian Sungai Ayung.
Oleh Cristian Rahadiansyah

Dengan status “Ritz-Carlton Reserve,” Mandapa memang bertengger di level termewah dalam keluarga besar Ritz-Carlton. Tapi “mewah” sebenarnya kata yang sulit digelembungkan lagi di tepian Sungai Ayung.

Ayung bagaikan sebuah episentrum resor. Di bibir sungai inilah hotel-hotel paling prestisius di Ubud bertaburan, sebut saja Alila, Four Seasons, Kupu-Kupu Barong, juga Amandari. Bersaing dengan mereka, Mandapa mengandalkan lanskapnya yang elok.

Resor ini menempati sebidang lahan yang menyerupai bet pingpong di tepi sungai—tempat magis yang dulu terpampang di banyak kartu pos. Sebagian orang bahkan menjulukinya “lahan cantik terakhir di Ubud.”

Berkat lanskap itu pula, kompleks resor terlihat unik. Jika banyak tetangganya berdiri memanjang di tubir Ayung, Mandapa ditata melingkar mengikuti meander sungai. Mayoritas vilanya ditancapkan di bantaran sungai, begitu pula restoran dan pondokan spa. Lanskap resor ditata oleh John Pettigrew yang pernah menggarap Ubud Hanging Gardens.

Kiri-kanan: Suasana makan malam di tengah hamparan sawah; akomodasi tipe vila di Mandapa dilengkapi kolam privat.

Mandapa, properti Ritz-Carlton Reserve ketiga di dunia, menyuguhkan 35 suite dan 25 vila. Ukuran suite mulai dari 100 meter persegi, sementara vila mulai dari 430 meter persegi. Opsi terbaik adalah vila yang menatap sungai atau sawah.

Interior vila menampilkan kriya yang terinspirasi alam, misalnya sink kayu buatan tangan dan shower bertubuh tembaga. Tapi elemen yang paling menawan adalah lampu-lampunya yang didesain artistik. Ada lampu yang menyerupai tetesan embun. Ada pula kandil yang disusun dari cangkang kerang simping. Semua kriya itu berpadu dengan fitur-fitur modern yang lazim kita temukan di sebuah city hotel, misalnya internet TV dan kloset elektrik dengan penghangat.

Restoran Kubu menjadi daya tarik lain dari Mandapa. Arsitekturnya merefleksikan tren penggunaan bambu sebagai pengganti kayu. Didesain oleh Miles Humphreys, salah seorang pakar desain tropis, Kubu menampilkan atap berbentuk daun dan barisan pondokan makan berwujud bawang raksasa.

Restoran ini meracik menu Mediterania dengan sentuhan gastronomi molekuler. Dapurnya dipimpin oleh Maurizio Bombini, mantan koki Bulgari Bali. Seperti banyak resor di Ubud, Mandapa menyuguhkan beragam aktivitas yang berkutat pada tema kesehatan dan budaya. Anda bisa menonton pentas tari Bali, mempelajari sistem subak di sawah, atau mengikuti sesi yoga gratis saban pagi dan sore. Membunuh waktu dengan membaca di tepi kolam tak kalah menyenangkan, sebab para patih (julukan butler di sini) bakal menyuguhkan minuman gratis yang berbeda setiap jamnya, mulai dari air kelapa hingga moktail tradisional.

Daya Tarik

  • Kubu, restoran bertubuh bambu yang menyuguhkan menu Mediterania.
  • Suckling pig yang dimasak selama 36 jam dan disajikan di Sawah Terrace, restoran yang didesain berundak layaknya sawah terasering.
  • Pondokan spa yang ditata memajang di bantaran Sungai Ayung dan dilengkapi vitality pool.

Jl. Kedewatan, Banjar Kedewatan; 0361/4792-777; ritzcarlton.com; doubles mulai dari Rp6.240.000.

Salah satu kolam renang di Suarga Padang Padang.

Suarga Padang Padang
Rumah baru bagi kaum peselancar yang peduli pada lingkungan.
Oleh Yohanes Sandy

Pernah bergelut di bisnis tekstil, Frederik Wittesaele tahu betul bencana yang akan menimpa jika sebuah perusahaan mengabaikan prinsip-prinsip ramah lingkungan. Kesadaran itu pula yang dicamkannya ketika mencetuskan Suarga Padang Padang, resor yang terletak di atas pantai selancar Padang Padang.

Berikhtiar menghadirkan kemewahan yang bersahabat dengan alam, Frederik menggunakan banyak bahan daur ulang untuk merangkai resornya. Guna mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, dia memasang panel surya sebagai sumber listrik. Dan karena “ramah lingkungan” juga mencakup “lingkungan sosial,” pria asal Belgia itu berbelanja kebutuhan harian resor dari para pemasok lokal. “Resor ini ramah lingkungan, berkontribusi pada kehidupan sosial masyarakat, namun di saat yang bersamaan ia juga merupakan bisnis yang berorientasi pada laba,” tutur Frederik.

Kiri: akomodasi tipe Paviliun; kanan: desain tempat tidur yang unik dengan AC di atasnya.
Kiri: akomodasi tipe Paviliun; kanan: desain tempat tidur yang unik dengan AC di atasnya.

Suarga mengantongi 36 pilihan akomodasi yang terbagi dalam tiga tipe: kamar, paviliun, dan vila. Desainnya memancarkan karakter rustic yang hangat dan bersahaja, terutama berkat dominannya penggunaan materi kayu, baik pada dinding, atap, maupun lantai. Kata Frederik, kayu-kayu itu didatangkan dari sejumlah daerah, seperti Kalimantan, Bandung, dan Surabaya. “Usianya mencapai puluhan tahun,” ujarnya. “Biasanya merupakan kayu bekas jembatan yang sudah tak terpakai atau bekas rumah tua.”

Tipe paviliun merupakan magnet terbesarnya. Desainnya mengadopsi gaya rumah panggung yang beratapkan ilalang. Interiornya dipercantik hiasan kalung buatan Papua dan foto suku-suku pedalaman di Indonesia. Daya tarik lainnya adalah kamar mandinya yang beralaskan kayu dan berdinding batu asal Sumba. Area lapang ini juga dilengkapi wastafel yang dibuat dari kayu sepanjang hampir dua meter bekas jembatan di Gresik.

Di kamar, beberapa fitur standar hotel absen, sebut saja televisi. AC tersedia, walau Anda mungkin akan lebih memilih menyejukkan kamar mengandalkan semilir angin laut. Kulkas juga tersedia, dan isinya adalah botol-botol berisi air minum dari Tanah Lot. “Kami tak menawarkan kemewahan yang superlatif, tapi kami menjanjikan pengalaman menginap yang berkesan,” ucap Frederik berpromosi.

Suarga memayungi satu restoran dan satu lounge yang ditempatkan dalam sebuah bangunan megah yang dikangkangi atap bambu dan bersanding apik dengan kolam renang infinity. Sejalan dengan prinsip “hijau” resor, seluruh menu di restoran diracik dari bahan-bahan lokal yang tersedia dalam radius 50 kilometer. “Kami tidak menyediakan sajian berbahan daging sapi karena tidak ada produsen wagyu dalam radius tersebut,” pungkas Frederik.

Daya Tarik

  • Dugong Restaurant & Lounge yang menawarkan aneka hidangan lezat yang diracik dari bahan-bahan lokal.
  • Kolam renang infinity yang menyuguhkan panorama Samudra Hindia dari bibir tebing.
  • Tipe Paviliun yang dihiasi sejumlah kriya dan dilengkapi kamar mandi lapang beralaskan kayu.

Jl. Pantai Labuan Sait, Pecatu; 0361/4725-088; suargapadangpadang.com; doubles mulai dari Rp3.721.000.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Maret/April 2016 (“Bali Baru”)