Salah satu kolam renang di Suarga Padang Padang.

Suarga Padang Padang
Rumah baru bagi kaum peselancar yang peduli pada lingkungan.
Oleh Yohanes Sandy

Pernah bergelut di bisnis tekstil, Frederik Wittesaele tahu betul bencana yang akan menimpa jika sebuah perusahaan mengabaikan prinsip-prinsip ramah lingkungan. Kesadaran itu pula yang dicamkannya ketika mencetuskan Suarga Padang Padang, resor yang terletak di atas pantai selancar Padang Padang.

Berikhtiar menghadirkan kemewahan yang bersahabat dengan alam, Frederik menggunakan banyak bahan daur ulang untuk merangkai resornya. Guna mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, dia memasang panel surya sebagai sumber listrik. Dan karena “ramah lingkungan” juga mencakup “lingkungan sosial,” pria asal Belgia itu berbelanja kebutuhan harian resor dari para pemasok lokal. “Resor ini ramah lingkungan, berkontribusi pada kehidupan sosial masyarakat, namun di saat yang bersamaan ia juga merupakan bisnis yang berorientasi pada laba,” tutur Frederik.

Kiri: akomodasi tipe Paviliun; kanan: desain tempat tidur yang unik dengan AC di atasnya.
Kiri: akomodasi tipe Paviliun; kanan: desain tempat tidur yang unik dengan AC di atasnya.

Suarga mengantongi 36 pilihan akomodasi yang terbagi dalam tiga tipe: kamar, paviliun, dan vila. Desainnya memancarkan karakter rustic yang hangat dan bersahaja, terutama berkat dominannya penggunaan materi kayu, baik pada dinding, atap, maupun lantai. Kata Frederik, kayu-kayu itu didatangkan dari sejumlah daerah, seperti Kalimantan, Bandung, dan Surabaya. “Usianya mencapai puluhan tahun,” ujarnya. “Biasanya merupakan kayu bekas jembatan yang sudah tak terpakai atau bekas rumah tua.”

Tipe paviliun merupakan magnet terbesarnya. Desainnya mengadopsi gaya rumah panggung yang beratapkan ilalang. Interiornya dipercantik hiasan kalung buatan Papua dan foto suku-suku pedalaman di Indonesia. Daya tarik lainnya adalah kamar mandinya yang beralaskan kayu dan berdinding batu asal Sumba. Area lapang ini juga dilengkapi wastafel yang dibuat dari kayu sepanjang hampir dua meter bekas jembatan di Gresik.

Di kamar, beberapa fitur standar hotel absen, sebut saja televisi. AC tersedia, walau Anda mungkin akan lebih memilih menyejukkan kamar mengandalkan semilir angin laut. Kulkas juga tersedia, dan isinya adalah botol-botol berisi air minum dari Tanah Lot. “Kami tak menawarkan kemewahan yang superlatif, tapi kami menjanjikan pengalaman menginap yang berkesan,” ucap Frederik berpromosi.

Suarga memayungi satu restoran dan satu lounge yang ditempatkan dalam sebuah bangunan megah yang dikangkangi atap bambu dan bersanding apik dengan kolam renang infinity. Sejalan dengan prinsip “hijau” resor, seluruh menu di restoran diracik dari bahan-bahan lokal yang tersedia dalam radius 50 kilometer. “Kami tidak menyediakan sajian berbahan daging sapi karena tidak ada produsen wagyu dalam radius tersebut,” pungkas Frederik.

Daya Tarik

  • Dugong Restaurant & Lounge yang menawarkan aneka hidangan lezat yang diracik dari bahan-bahan lokal.
  • Kolam renang infinity yang menyuguhkan panorama Samudra Hindia dari bibir tebing.
  • Tipe Paviliun yang dihiasi sejumlah kriya dan dilengkapi kamar mandi lapang beralaskan kayu.

Jl. Pantai Labuan Sait, Pecatu; 0361/4725-088; suargapadangpadang.com; doubles mulai dari Rp3.721.000.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Maret/April 2016 (“Bali Baru”)