Kiri-kanan: Cerobong asap di atas dapur Inna Bali Heritage, hotel pertama di Bali yang didirikan pada 1928; Anak Agung Ngurah Yuda, petugas keamanan yang sudah bekerja selama 30 tahun di Inna Bali Heritage, mengikuti jejak ayahnya.

Pada 1928, dua peristiwa monumental yang kontradiktif terjadi di Nusantara: deklarasi Sumpah Pemuda dan peresmian Bali Hotel. Yang pertama mengungkapkan hasrat untuk melahirkan sebuah nasion yang melebur perbedaan. Yang kedua bagian dari agenda kolonial Belanda untuk memperkuat cengkeramannya. Keduanya masih berjejak hingga hari ini.

Bali Hotel berawal sebagai asrama kru KPM. Hotel ini dimulai dengan 12 kamar. Selang beberapa tahun, jumlahnya ditambah jadi 39, masing-masingnya dilengkapi ketel. Usai dinasionalisasi, namanya diganti jadi Natour Bali, lalu Inna Bali Hotel. Belakangan, namanya direvisi lagi menjadi Inna Bali Heritage Hotel.

Kompleks ini terbagi dua, terbelah Jalan Veteran. Kamar termewah, nomor 77, pernah ditinggali sejumlah kepala negara. Tapi hotel ini sepertinya lebih membanggakan kamar nomor tujuh yang pernah ditiduri Charlie Chaplin. Poster sang maestro pantomim terpajang di restoran yang dinaungi pelang orisinal hotel.

Interior ruang makan Inna Bali Heritage Hotel.

“Barang-barang peninggalan Belanda dulu banyak, tapi sebagian sudah dilelang. Sendok, piring, gelas,” ujar Anak Agung Ngurah Yuda, staf keamanan hotel. Selain berjaga di pos, bapak berkumis tebal ini lazim membawakan koper tamu ke kamar. Almarhum ayahnya juga bekerja sebagai satpam di hotel ini selama 30 tahun, sebelum akhirnya pensiun pada 1981 dengan pesangon Rp10.000.

Menginap di sini ibarat membuka jendela ke masa silam. Atmosfer lawasnya terpelihara. Bentuknya masih menyerupai asrama yang monoton, walau karakternya lebih condong ke langgam jengki, aliran desain yang tumbuh pada 1950-an. Di restorannya, musik keroncong mengalun saban malam. Di beberapa kamar, kita masih menemukan televisi tabung. Layaknya hotel sepuh, soket di kamar minim dan posisinya kurang strategis.

Kiri-kanan: menu yang terinspirasi pelukis Walter Spies di Tjampuhan, hotel yang bermula sebagai rumah tamu Puri Ubud; seorang staf Hotel Tjampuhan membuka gembok di pintu vila di yang pernah ditinggali oleh pelukis Rusia Walter Spies dari 1930 hingga 1940.

Bali Hotel dicatat sejarah sebagai hotel pertama di Bali. Tapi pulau ini sebenarnya memiliki penginapan lain yang juga lahir pada 1928—Hotel Tjampuhan. Lokasinya di Ubud, selemparan batu dari Blanco Museum. Hotel berlanggam Bali puritan ini bersemayam di lereng. Jauh di kakinya, Sungai Oos mengalir ritmis, lalu menubruk Sungai Cerik—peleburan yang disebut “tjampuhan” dalam bahasa setempat.

Tjampuhan bermula sebagai rumah tamu Puri Ubud. Dari semua tamunya, ada satu nama yang terus dikenang penuh rasa bangga—Walter Spies, juru sungging asal Rusia. Kita ingat, Spies, bersama Rudolf Bonnet dan Tjokorda Gde Agung Sukawati, merupakan aktor utama dalam kelahiran Pita Maha, kolektif yang berpengaruh dalam skena seni Bali.

Rumah Spies masih dilestarikan, juga disewakan. Atapnya ilalang. Interiornya kaya ukiran. Beberapa langkah dari terasnya terhampar sebuah kolam teratai yang damai. Selain bekas rumahnya, memori Walter Spies dirawat di restoran yang berlokasi di muka hotel. Memesan “Walter Spies Menu,” saya mendapatkan paket komplet yang terdiri dari sup ayam, rendang sapi, ayam betutu, udang bumbu suna cekuh, sate lilit, tempe bacem, perkedel kentang, serta sepiring pencuci mulut berisi dadar gulung dan irisan pisang gula aren. Pelukis yang kerap tampak murung itu ternyata menginspirasi hidangan yang membuat bahagia.