Reportase oleh Gabrielle Lipton, Anitha Silvia, Christopher Hill, Anita Surewicz, Cristian Rahadiansyah, Samantha Francis, dan Chelsea Samantha

Chambers Lawn di The Taj Mahal Palace (Foto: Fram Petit/The Taj Mahal Palace)

The Taj Mahal Palace
117 Tahun
Ini bukan hotel tertua di India, tapi barangkali yang paling terkenal. Kisahnya pernah direkam di beragam medium, mulai dari novel Night in Bombay karangan Louis Bromfield, hingga serial Around the World in 80 Days garapan Michael Palin. Pada 2018, pengalaman tragisnya sebagai target serangan teroris dituangkan dalam film Hotel Mumbai. Alkisah, pada 2008, Lashkar-e-Taiba sengaja menarget hotel ini lantaran menganggapnya sebagai simbol kemajuan India. Dua tahun selepas tragedi itu, Presiden Amerika Serikat Barack Obama datang menginap dan menyebut The Taj Mahal Palace sebagai simbol ketangguhan warga India. Apa pun maknanya, hotel ini telah menjadi bagian integral dalam perjalanan India sejak zaman kolonial Inggris.

Kiri-kanan: Dua orang wanita berada di tangga ikonis hotel berusia 117 tahun ini; kolam renang The Taj Mahal Palace. (Foto: The Taj Mahal Palace)

The Taj Mahal Palace, properti yang didirikan oleh pengusaha Jamsetji Tata, membuka pintunya kali pertama pada 16 December 1903, dua dekade sebelum gapura ikonis Gateway of India di sampingnya diresmikan. Berdiri agung dan anggun di tepi Laut Arabia dengan fasilitas yang kelewat mewah di zamannya (misalnya listrik, elevator, hingga butler berbahasa Inggris), penginapan ini sukses menjala tamu dari kalangan elite, termasuk saudagar, musisi, aktor, hingga maharaja. Pada 1973, The Taj Mahal Palace mendirikan menara baru sekaligus menambah jumlah kamarnya menjadi 543 unit. Fasilitasnya kini meliputi salon, spa, delapan restoran dan bar, serta sebuah galeri yang memajang karya-karya seniman ternama lokal. Apollo Bunder, Mumbai, India; tajhotels.com.

Kiri-kanan: Seorang staf kebersihan di teras salah satu bungalo di Tandjung Sari; seorang staf Tandjung Sari melintas di samping bungalo nomor delapan yang pernah diinapi David Bowie. (Foto: Johannes P. Christo)

Tandjung Sari
58 Tahun
Berbeda dari hotel umumnya, Tandjung Sari merupakanhasil evolusi dari rumah pribadi menjadi penginapan. Kisahnya dimulai saat duet pemburu barang antik Wija dan Judith Wawo-Runtu mendirikan rumah di Sanur pada 1962. Berkat aktivitas bisnis, keduanya rutin kedatangan tamu, sebagian kadang bermalam hingga Wija pun memutuskan membangun rumah tamu. Tanpa disadari, sayap baru itu terus bertambah hingga sebuah hotel butik pun tercipta. Pada masa-masa awal beroperasi, tiap bungalo disewakan seharga Rp2.000 per malam, sementara sarapan dibanderol Rp1.000. Selain diplomat dan sosialita, buku tamunya ditaburi sejumlah nama selebriti. Bungalo nomor 23 misalnya, pernah ditinggali oleh Yoko Ono dan Ringo Starr, sementara bungalo nomor delapan dihuni oleh David Bowie dan Mick Jagger.

Bermula dari sebuah rumah, Tandjung Sari tekun merawat karakternya yang “rumahan,” sesuai dengan moto yang diwariskan oleh Wija, “Hotel saya adalah ruang duduk saya, dan tamu saya adalah sahabat saya.” Seluruh karyawannya, misalnya, sengaja tidak menyematkan name tag di dada, karena ini bukan praktik yang lumrah di rumah. Kompleks guyub ini sekarang menampung 29 bungalo yang terkoneksi oleh gang-gang berlumut yang dinaungi pohon Kamboja dan diselipi pelinggih. Tentu saja, beberapa bungalo telah direnovasi, tapi nuansa nostalgianya dipelihara, misalnya lewat penggunaan lampu kerek dan tegel motif batik. Jl. Danau Tamblingan 41, Sanur, Bali; tandjungsarihotel.com.

Interior Strand Suite yang mewah. (Foto: The Strand)

The Strand
119 Tahun
Saat The Strand didirikan pada 1901, Yangon masih bernama Rangoon, sebuah kota kolonial berpopulasi sekitar 230.000 jiwa. Kala itu, hotel ini ibarat sebuah simbol kemewahan dan modernitas. Tingginya tiga lantai, kepalanya dimahkotai pedimen besar, sementara interiornya menampung 32 kamar. Lebih mencolok lagi, The Strand adalah salah satu bangunan pertama di Rangoon yang dialiri listrik, sekaligus persinggahan favorit bagi banyak figur kondang, contohnya George Orwell, Noel Coward, serta Somerset Maugham.

Selama lebih dari seabad beroperasi, The Strand telah berulang kali direnovasi, termasuk oleh Adrian Zecha, pria berdarah Indonesia-Cheska yang juga pendiri Grup Aman, kemudian oleh GCP Hospitality, grup yang mengambil alih manajemen hotel ini pada 2013. Operasi bedah wajah terakhirnya dilansir pada 2017. Mitra utama proyek ini, Firma P49 Deesign asal Bangkok, menjadikan The Strand tampil lebih bugar dengan sentuhan estetika modern dan fitur kontemporer, tanpa mengusik karakter lawasnya. Di kamar-kamarnya kini terdapat matras baru, TV layar datar berbingkai perak, serta sofa-sofa yang dilapis ulang. Sejalan dengan penyegaran fisik itu, tawaran segar terhidang di ketiga gerai F&B, contohnya barisan koktail baru di Sarkies Bar, sarang kongko yang mengabadikan nama pendiri hotel ini—Sarkies Brothers. Strand Road 92, Yangon, Myanmar; hotelthestrand.com.

Authors’ Lounge di Mandarin Oriental Bangkok. (Foto: Mandarin Oriental Bangkok)

Mandarin Oriental Bangkok
144 Tahun
Kerap dijuluki La Grande Dame, Mandarin Oriental Bangkok adalah hotel dengan riwayat terpanjang di Asia Tenggara. Lahir pada 1876 dengan nama The Oriental, properti ini dirancang untuk menampung para tamu dan saudagar asing, menyusul keputusan Kerajaan Siam membuka pintu perdagangan internasional. Pada 2008, aktanya diganti menjadi Mandarin Oriental Bangkok.

Kiri-kanan: Interior area makan di Authors’ Lounge; ruang tamu di Chao Phraya Room. (Foto: Mandarin Oriental Bangkok

Pada 2016, merayakan ulang tahunnya yang ke-140, hotel ini menggelar gala meriah yang dihadiri keluarga kerajaan Thailand, seraya memperlihatkan ke publik dua sayap bangunannya yang telah direnovasi di bawah arahan desainer interior terkenal Jeffrey Wilkes. Authors’ Wing, yang merupakan bangunan orisinal hotel, kini menampung Grand Royal Suite, akomodasi ultramegah berisi enam kamar tidur, lift privat, dapur, serta ruang makan berkapasitas 12 orang. Sayap lainnya, Garden Wing, menaungi empat ruang spa dan 12 unit Garden Suite yang menghidangkan panorama Sungai Chao Phraya.

Hotel bintang lima ini sekarang mengoleksi 331 kamar, ditambah sembilan restoran dan bar. Le Normandie, restoran Prancis andalannya yang dibuka pada 1958, berhasil menyabet dua bintang Michelin pada 2019. The Bamboo Bar, gerai senior lainnya yang dilansir pada 1953, sukses bertengger di posisi kedelapan Asia’s Best Bars 2019. Oriental Avenue 48, Bangkok, Thailand; mandarinoriental.com.