Sawah terhampar di Pejeng, desa elok yang berjarak empat kilometer dari pusat Ubud.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Putu Sayoga

Pada 2013, saat Ayundari sedang membangun rumah barunya di Desa Pejeng, salah seorang tukangnya tiba-tiba mendapati sebongkah benda keras di dalam tanah. Bentuknya tak jelas. Mungkin arca. Barangkali sarkofagus. Belum sempat benda itu ditelaah, Ayu langsung menguburnya kembali. “Takut tanah saya dijadikan situs arkeologi,” jelasnya.

Ayu bukan satu-satunya yang mengalami peristiwa semacam itu. Pejeng, desa sederhana di Gianyar, menyimpan banyak artefak di tanahnya. Penemuan tak sengaja sudah berulang kali terjadi di sini. Pernah pada 2014 seorang pembajak sawah tanpa sadar melindas seonggok patung. Tahun lalu, selembar prasasti ditemukan di samping jalan yang membelah desa.

Banyaknya harta karun sejarah itulah yang mendorong lahirnya kesimpulan Pejeng pernah menampung pusat kerajaan Bali kuno, walau hingga kini belum jelas betul kerajaan mana yang dimaksud dan siapa penguasanya. Maklum, belum semua teka-teki terpecahkan, lantaran banyak petunjuk masih terkubur di tanah. Pejeng hingga kini masih menjadi pertanyaan yang menggantung dari masa lalu.

Kiri-kanan: Petilasan berisi ceruk pertapaan Kebo Iwa; Sarkofagus di Museum Arkeologi Gedong Arca.

Pejeng berlokasi di perbatasan antara Ubud dan Tampaksiring. Tanahnya subur. Lebih dari separuh lahannya diukir sawah, dengan irigasi subak dipasok oleh dua sungai besar yang bermakna penting dalam spiritualitas Bali: Petanu dan Pakerisan. Selain keduanya, ada lima tukad (anak sungai) yang membelah desa ini secara vertikal. Mempertimbangkan topografinya saja, masuk akal memang jika di sini pernah eksis sebuah kerajaan Bali yang galibnya dicirikan oleh lokasi di tepi sungai.

Sebagian arsip masa lalu desa ini tersimpan di Museum Gedong Arca. Dalam bangunan yang diresmikan pada 1974 ini terpajang ratusan artefak hasil ekskavasi. Koleksinya antara lain koin, makam batu, perkakas rumah tangga, hingga catatan lontar. Beberapa benda bersumber dari periode ketika waktu belum ditulis.

Tapi sebenarnya belum ada dokumentasi final perihal jumlah artefak yang ditemukan di Pejeng. Menurut Nyoman Adi, staf Gedong Arca, angkanya dipastikan menembus 500 buah, mayoritas didapat bukan dari penggalian ilmiah, melainkan penemuan yang tak disengaja. Sulitnya pendataan itu juga disebabkan banyak orang enggan menyerahkan benda temuannya. Selain karena malas berurusan dengan amtenar, seperti dalam kasus Ayu, warga memandang artefak sebagai ornamen keramat yang seyogianya terus dikeramatkan. Alih-alih diberikan kepada Balai Purbakala, mereka justru membersihkannya, membalutnya dengan kain, lalu menyimpannya di pura sebagai sarana upacara. “Di sini artefak masih menjadi bagian dari peradaban yang hidup,” tambah Nyoman.

Kiri-kanan: Penjaga situs pertapaan Kebo Iwa; Koleksi Museum Arkeologi Gedong Arca.

Salah satu pura yang laris dijadikan tempat menyimpan artefak ialah Penataran Sasih. Interiornya ditaburi puluhan benda purba, termasuk patung-patung yang sebagian tak jelas lagi parasnya. Satu koleksinya yang paling tersohor ialah Bulan Pejeng, sebuah nekara hitam berbentuk moko. Tingginya 186 sentimeter. Kata Nyoman, Bulan Pejeng adalah nekara moko terbesar di Asia Tenggara. Awalnya, genderang misterius ini dibiarkan tergeletak di tanah. Tak ada yang berani menyentuhnya karena takut kualat, walau warga akhirnya sepakat menempatkannya di pura dengan posisi ditopang kayu sebagaimana beduk di masjid.

Mengandung banyak artefak, Pejeng kadang terasa menyerupai sebuah petilasan. Tiap lapisan tanahnya bagaikan susunan bab dalam kitab sejarah. Dulu, itu semua sempat membuatnya cukup terkenal. Tamu-tamu pertama desa ini, selain kaum penjajah, ialah arkeolog. Selain artefak, Pejeng mengoleksi beragam situs kuno. Di belahan selatan desa misalnya, ada Gua Gajah peninggalan abad ke-11. Di jantung desa, ada Candi Tebing Kelebutan yang menempel anggun pada dinding sungai. Berpindah ke sisi utara, ada ceruk pertapaan Kebo Iwa, semacam Patih Gajah Mada versi Bali. Desa yang unik memang. Walau berjarak hanya empat kilometer dari kedai Starbucks Ubud, Pejeng mampu melemparkan kita ke zaman ketika manusia belum mengenal kopi.

Kiri-kanan: Candi Tebing Kelebutan melekat pada tebing sungai yang membelah Desa Pejeng; Sate babi yang dijual di muka rumah warga.

Ini kunjungan pertama saya ke Pejeng. Seperti banyak orang, saya awalnya datang untuk melawat situs-situs kuno, sebuah laku ziarah yang kadang memberi sensasi petualangan ala Indiana Jones. Ke mana pun saya melangkah, nyaris selalu tersimpan penggalan kisah yang menyurutkan waktu. Kendati begitu, selama empat hari di sini, saya juga menemukan Pejeng sebenarnya tak cuma menawarkan jendela ke masa lalu. Daya tarik desa ini tidak seluruhnya bersumber dari dalam tanah.

Pejeng dalam banyak hal masih setia merawat karakter desa asli Bali. Warganya terbiasa membiarkan sepeda motor terparkir tanpa dikunci. Ibu-ibunya aktif ikut kerja bakti. Anjing-anjing lokal berjaga hampir di setiap rumah, kadang seraya mengawasi ayam-ayam aduan yang dikurung di serambi. Ini mungkin tidak elok ditulis, tapi satu tanda lain Pejeng masih sebuah “desa” ialah adanya bapak-bapak yang tak sungkan buang air besar di saluran irigasi.

Kiri-kanan: Etha Widiyanto, pengelola Omah Apik; Bubur Bali di Pasar Pejeng.

Kecuali soal buang air tadi, menyusuri desa ini jugalah pengalaman visual yang menyenangkan. Banyak rumah ditaburi ukiran layaknya pura, dan banyak pura dicetak gigantik laksana puri. Kadang sukar membedakan antara hunian dan rumah ibadah. Pejeng memiliki sembilan pura besar dan lebih dari 50 pura keluarga. Dalam kalender adat, itu artinya ada banyak upacara. Seorang warga menyampaikan dalam setahun hanya ada sekitar 30 hari di mana upacara absen.

Mungkin berkat karakternya yang guyub, Pejeng sempat digemari sebagai “destinasi residensi” kaum seniman. Minim kebisingan, desa ini menawarkan atmosfer yang kondusif untuk berkarya. Krijono, pelukis ekspresionis asal Jakarta, pernah bermukim di sini. Pada 1974, Dullah, kurator seni rupa istana, mendirikan sanggar lukis di Pejeng dan membimbing banyak seniman muda lokal. Saat itu, setidaknya untuk sejenak, Pejeng terlihat akan menjadi kampung seni baru di Bali.

Kondisinya kini tak jauh berbeda. Pejeng masih kalem dan dikenal hanya oleh kalangan terbatas. Turisnya minim, begitu pula hotelnya. Di sini hanya ada beberapa penginapan sederhana, ditambah segelintir vila privat yang menyepi di bantaran sungai. Desa ini, sebagaimana banyak artefaknya, relatif masih tersembunyi dari radar.

Kiri-kanan: Sawah di tepi Omah Apik, tuan rumah Festival Tepi Sawah; Soang kembali ke kandang.

Tapi tak semua orang mengeluh. Bagi sebagian orang, citra klandestin Pejeng justru membuat desa ini terlihat seksi sebagai “destinasi alternatif.” Menurut Etha Widiyanto, pengelola penginapan Omah Apik di Pejeng, mayoritas tamunya datang untuk menikmati “Ubud versi lengang.” Memang, kontras dari Ubud, Pejeng tak ditaburi kafe dan restoran. Di sini hanya ada satu cabang Indomaret dan satu kedai JFC restoran favorit John Legend. Kawasan tersibuknya ialah pasar becek di tepi jalan raya menuju Istana Tampaksiring. Di luar itu, kita hanya akan menemukan toko-toko kelontong di muka rumah yang sepertinya didirikan demi mengisi waktu senggang si empunya rumah.

Satu-satunya keramaian di Pejeng saat ini barangkali Festival Tepi Sawah, pergelaran tahunan yang dipusatkan di Omah Apik. Ajang ini dirintis pada 2017 oleh Etha bersama kedua rekannya yang punya reputasi harum di belantika musik Nita Aartsen dan Anom Darsana. Nita, alumni Moscow Conservatory, tersohor sebagai “duta piano nasional,” sementara Anom adalah pakar tata suara yang pernah terlibat dalam banyak festival, termasuk Montreux Jazz.

Ibarat ajang world music versi Indonesia, Festival Tepi Sawah mengeksplorasi khazanah musik Nusantara. Balawan, Bonita, dan Trie Utami pernah mengisi panggungnya. Di luar nama-nama beken itu, ada musisi gamelan Made Agus Wardana dan Sanggar Ceraken. “Idenya berangkat dari kesadaran tentang minimnya pengetahuan kita seputar musik Indonesia,” jelas Etha, wanita asal Purbalingga yang menetap di Bali sejak 1993. “Banyak musisi kita terkenal di luar negeri, tapi justru kurang dikenal di negerinya sendiri.”

Kiri-kanan: Salah seorang tamu asing di Omah Apik; kolam renang di Omah Apik.

Selain Festival Tepi Sawah, Pejeng memiliki Fascinating Rhythm, sesi kumpul musisi yang bergulir saban bulan sejak 2016, juga di Omah Apik. Di tiap jilidnya, Etha dan kawan-kawan mengundang musisi untuk unjuk kebolehan dan berbagi pengetahuan. “Aliran seninya harus unik,” tambah Etha tentang sistem kurasinya. “Kami pernah menggelar misalnya kelas musik Kuba dan gamelan mulut.”

Kehadiran ajang-ajang musik itu tak ayal menciptakan pemandangan yang kontras sekaligus janggal. Di atas tanah desa yang mengandung penggalan-penggalan masa silam ini, kita diajak menyimak nada racikan masa kini. Rajaraja yang dulu bertakhta di Pejeng mungkin tak pernah menyangka wilayah kekuasaannya akan dijadikan wadah penjelajahan musik.

Ketika ditanya tentang kemungkinan ajang musik membuat Pejeng kian laris di kalangan turis, Etha memberi jawaban yang ambivalen. Dia ingin Pejeng berkembang, tapi juga berharap desa ini “begini-begini saja.” Dari diskusi dengan sejumlah warga, pandangan terbelah itu ternyata juga bagian dari keunikan desa ini. Pejeng tak satu suara dalam urusan pariwisata. 

Suasana Festival Tepi Sawah, ajang yang mengeksplorasi khazanah musik Nusantara.

Dewa Suamba misalnya, sudah lama berupaya mempromosikan desanya. Mantan wartawan Bali Post yang mengurus portal resmi Pejeng ini aktif memberitakan desanya, termasuk jika ada situs sejarah yang rusak. Studio foto miliknya bahkan difungsikan layaknya pusat informasi turis. “Kami ingin dapat limpahan turis dari Ubud,” katanya. “Banyak turis melewati Pejeng, tapi sedikit sekali yang menginap di sini.”

Kontradiktif dari harapan itu, Tjokorda Gde Agung, Perbekel Desa Pejeng, memandang cemas prospek pariwisata. “Saya tidak tertarik lagi bicara pariwisata,” kata pria yang gaya bicaranya frontal seperti Ahok ini. Atas alasan itu pula, Cok Agung pernah menolak memfasilitasi pengusaha yang ingin membangun resor, juga menampik proposal penelitian desa wisata. Alih-alih menjaring investor dan turis, Pak Kades memilih mengalokasikan energinya untuk mengembangkan sistem irigasi dan bank desa. “Bali tidak butuh lagi pertumbuhan, melainkan keseimbangan,” tambahnya.

Perbedaan sikap itu terkesan janggal lantaran Pejeng sebenarnya sudah mengambil kuda-kuda untuk memasuki industri pariwisata. Pada 2015, desa ini merumuskan peta biodiverseni yang merangkum aset sosial dan hayatinya, sebagai landasan bagi pariwisata yang ramah lingkungan. Di dalamnya tercantum antara lain informasi satwa, situs sejarah, hingga warung tradisional. Menurut redaktur majalah Epicure, Eve Tedja, yang dulu memimpin proyek peta biodiverseni, Pejeng “asetnya luar biasa kaya, tapi tidak tergali dan terpetakan dengan baik.”

Kiri-kanan: Restoran di Omah Apik; Balawan, salah seorang partisipan Festival Tepi Sawah 2019.

Peta biodiverseni sangatlah langka untuk standar Bali. Setidaknya di Gianyar, hanya Pejeng yang memilikinya. Sayang, peta ini berhenti di atas kertas. Rute-rute wisata yang dirancang merujuk pada peta, kini mangkrak sebagai himpunan garis dan data. Promosinya mandek dan pemandu turnya sampai sekarang belum tersedia.

Saat ditagih program lanjutan peta biodiverseni, Cok Agung berkelit dengan mengatakan pentingnya merawat alam. Jika dicerna lebih cermat argumennya, Pak Kades sejatinya tidak anti-turis. Dia hanya belum menemukan formula realistis untuk merealisasikan idealismenya soal pariwisata. “Saya ingin Pejeng seperti taman nasional saja,” lanjut pria berdarah bangsawan ini. “Turisnya kalau bisa hanya 20 orang per hari.” Baginya, “Ubud versi lengang” ini jangan sampai berubah jadi Ubud jilid dua.

Pejeng mungkin bukan cuma teka-teki dari masa lalu. Desa ini juga memunculkan pertanyaan valid untuk masa kini: seperti apa pariwisata yang ideal di Bali?

Kiri-kanan: Sastrawan gaek Made Taro menghadiri Festival Tepi Sawah 2019; Made Taro, tokoh dunia dongeng Bali.

PANDUAN
Bagian dari Kabupaten Gianyar, Desa Pejeng (pejeng.desa.id) berjarak sekitar empat kilometer dari pusat keramaian Ubud. Ada beberapa penginapan di sini, salah satunya Omah Apik (Jl. Kenyem Bulan; 0361/944-324; omahapik.com; mulai dari Rp700.000), sebuah resor butik yang melingkar di tepi sawah. Ini tipikal penginapan sederhana di mana tamu menulis sendiri daftar minuman yang dikonsumsi, sementara kopi dan teh tersedia gratis di restoran. Tiap bulan, Omak Apik menanggap Fascinating Rhythm, tempat musisi unjuk kebolehan dan berbagi pengetahuan. Saban tahunnya, ada ajang Festival Tepi Sawah (festivaltepisawah.com) yang didedikasikan untuk mengeksplorasi khazanah musik Nusantara.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Oktober/Desember 2019 (“Pejeng Partikular”)