Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

10 Hal yang Mesti Diketahui Sebelum Terbang di Masa Pandemi

Pada Februari 2020, lebih dari 20.000 kota di dunia masih terkoneksi oleh penerbangan komersial. Pada akhir Maret, angkanya susut hingga 6.500. Pandemi memukul industri penerbangan global. Tapi proses pemulihan mungkin akan dimulai bulan depan.

Beberapa negara kini mulai mengendurkan aturan PSBB. Di Eropa, sejumlah perbatasan akan dibuka terbatas lewat skema travel corridor. Membaca prospek itu, setidaknya sembilan maskapai telah mengumumkan jadwal penerbangan Juni 2020. Sebelum membeli tiket, ini 10 hal yang mesti diketahui. 

Suasana hening Frankfurt Airport saat periode pandemi. (Foto: Tobias Rehbein/Unsplash)

1. Cara mengetahui aturan di bandara tujuan atau transit?
International Air Transport Association (IATA), asosiasi beranggotakan 299 maskapai, telah menciptakan portal khusus untuk menginformasikan bandara yang masih beroperasi, lengkap dengan aturan visa, proses pemeriksaan penumpang, serta prosedur karantina. Khusus penerbangan domestik, cek berita terbaru di situs Angkasa Pura, pengelola mayoritas bandara di Indonesia. Angkasa Pura I menaungi 15 bandara di belahan tengah dan timur Indonesia, sementara Angkasa Pura II menaungi 19 bandara di sisi barat negeri.

Pesawat A330-300 yang dioperasikan oleh Garuda Indonesia. (Foto: EXMHGE/Airbus)

2. Harga tiket lebih murah akibat pandemi?
Tahun lalu, menurut laporan IATA, maskapai dunia berhasil menutup biaya operasional dengan 66 persen kursi terisi. Andaikan kapasitas dikurangi atas nama social distancing, angka minimum itu makin sulit dikejar—dan maskapai kini mengalami defisit kas. Singkat kata, tiket murah adalah skenario yang hampir mustahil terwujud. Dalam makalah yang ditulis untuk United States Studies Centre, Justin Wastnage bahkan berargumen Covid-19 akan menutup peluang kebijakan tiket promo. Saat ini, sistem reservasi maskapai memperlihatkan betapa harga tiket tak banyak berubah. Untuk penerbangan Jakarta-Bali pada 26-29 Juni 2020 misalnya, Garuda Indonesia mematok harga Rp3,3 juta. Di periode yang sama, tiket Jakarta-Singapura dengan AirAsia dihargai Rp2,7 juta.

The Wing, salah satu lounge Cathay Pacific di Hong Kong yang masih beroperasi di kala pandemi. (Foto: Cathay Pacific)

3. Lounge bandara masih beroperasi?
Sejak Maret, mayoritas lounge ditutup temporer, baik yang dikelola oleh maskapai ataupun operator independen seperti Plaza Premium Lounge, Global Lounge Network, dan Centurion Lounge. Sebagian yang masih buka menerapkan beragam batasan. JAL misalnya, mengganti servis prasmanan dengan makanan kemasan di beberapa lounge miliknya yang masih beroperasi, antara lain di Hong Kong, Bangkok, Kuala Lumpur, dan Hanoi. Sejak 1 April, Cathay Pacific menutup sementara semua lounge, kecuali di Shanghai Pudong Airport, serta The Wing First Class dan Business Class Lounges di Hong Kong. 

Hampir seluruh bandara dan maskapai mewajibkan penumpang mengenakan masker. (Foto: Anna Shvets/Pexels)

4. Penumpang wajib memakai masker?
Regulasi terkait pandemi yang diterapkan di darat umumnya berlaku pula di udara, termasuk soal pemakaian masker. Sejak Mei 2020, mayoritas maskapai mewajibkan penumpang membawa maskernya sendiri.

American Airlines, salah satu maskapai yang membagikan masker kepada penumpang, setidaknya untuk saat ini. (Foto: American Airlines)

5. Bagaimana jika penumpang lupa membawa masker?
Kemungkinan besar Anda akan dilarang terbang, bahkan mungkin dilarang memasuki bandara. Hanya segelintir maskapai yang cukup royal membagikan masker gratis kepada penumpang, setidaknya untuk saat ini, contohnya United Airlines, American Airlines, dan Allegiant Air.

Awak kabin Emirates mengenakan alat pelindung diri selama pandemi. (Foto: Emirates)

6. Aturan masker juga berlaku bagi kru maskapai?
Kru juga wajib mengenakan masker, baik di pesawat maupun bandara. Beberapa maskapai bahkan memberikan alat pelindung diri (APD) kepada pramugara dan pramugari. April silam, AirAsia melansir pakaian hazmat. Di bulan yang sama, Emirates dan Korean Air mengumumkan pakaian pelindung disposable untuk para kru. Pertengahan Mei, Qatar Airways juga meluncurkan pakaian hazmat. 

Interior kabin ekonomi Finnair, maskapai yang akan mengatur penumpang duduk berjauhan “sebisa mungkin” selama pandemi. (Foto: Finnair)

7. Penumpang boleh duduk bersebelahan?
Tak ada kewajiban bagi maskapai memberi jeda kursi kosong di antara penumpang. Di sisi lain, penumpang tak dilarang duduk bersebelahan. Saat ini, maskapai hanya mengupayakan, atau setidaknya menganjurkan, social distancing. American Airlines mengosongkan 50 persen kursi tengah, tapi ini dilakukan lantaran penerbangan sedang sepi. Finnair mengaku akan mengatur penumpang duduk berjauhan “sebisa mungkin.” Alaska Airlines menganjurkan penumpang menggeser jadwal terbang jika pesawat sudah padat. Sementara Singapore Airlines akan mengosongkan kursi bila diinstruksikan oleh otoritas setempat. “Jika ingin duduk terpisah dari penumpang lain, penumpang bisa meminta kru untuk mengatur kembali jarak antar kursi,” tambah Glory Henriette, Manager Public Relations Singapore Airlines di Indonesia.

Alat pelindung diri dikenakan awak Qatar Airways, maskapai yang tetap menyajikan inflight meals selama pandemi. (Foto: Amer Sweidan/Qatar Airways)

8. Makanan akan disajikan selama terbang?
Tiap maskapai punya kebijakannya sendiri. Emirates tetap menyajikan makanan, tapi dalam format kotak bento. Singapore Airlines menghentikan temporer layanan inflight meal untuk penerbangan di Asia Tenggara dan rute Tiongkok. American Airlines menyiapkan makanan hanya di penerbangan berdurasi di atas empat jam. Sementara Qatar Airways tetap menyajikan makanan, serta menawarkan alternatif makanan kemasan untuk mengurangi kontak fisik. “Semua peralatan makan dicuci dan dibilas dengan air bersih demineralisasi pada temperatur suhu yang dapat membunuh bakteri patogen,” tambah Nurlaila Purnamasari, Marketing Officer Qatar Airways di Indonesia.

Proses sterilisasi kabin Lion Air, maskapai yang memakai filter HEPA di armadanya. (Foto: Lion Air)

9. Seberapa aman udara di kabin pesawat?
Hampir semua pesawat modern dilengkapi filter HEPA (high efficiency particulate air), termasuk pesawat yang dipakai Garuda Indonesia dan Lion Air. Seperti yang lazim dipakai di rumah sakit, termasuk ruang operasi, HEPA dipercaya sanggup menyaring 99,97 persen mikroba, debu, dan partikel kontaminasi. Memang, belum ada penelitian tentang efektivitas HEPA menangkal Covid-19. Akan tetapi, menurut Dr. David Powell, Medical Advisor IATA, HEPA membuat peluang risiko tertular virus di pesawat justru lebih kecil ketimbang di ruang tertutup lainnya. 

Dua kabin Suite A380 Singapore Airlines bisa dilebur untuk menciptakan matras dua orang. (Foto: Singapore Airlines)

10. Adakah kursi pesawat yang menawarkan isolasi diri?
Beberapa maskapai menciptakan kursi kelas bisnis berbentuk bilik tertutup, contohnya Club Suite British Airways, Business Suite Asiana Airlines, dan Business Suite Malaysia Airlines. Jika terbang bersama keluarga, Qatar Airways memiliki Qsuite yang bisa dimodifikasi menjadi ruang berisi empat orang. Di kategori kelas satu, Singapore Airlines menawarkan Suite romantis di armada jumbo A380, sedangkan Etihad menawarkan The Residence yang menyerupai griya tawang: terdiri dari zona makan, kamar mandi, dan ruang tidur.   

Show CommentsClose Comments

Leave a comment

0.0/5