Eropa Buka Akses Turis Lewat Skema ‘Travel Corridor’

Menyambut liburan musim panas, perbatasan dibuka terbatas dan bertahap. Sistem 'diskriminasi' akan diterapkan.

Seorang wanita menanti penerbangan di bandara di kala pandemi. (Foto: Anna Shvets/Pexels)

Menyambut liburan musim panas, Uni Eropa akan membuka perbatasan internalnya secara bertahap. Keputusan ini diambil demi memulihkan sektor pariwisatanya yang terpukul akibat pandemi Covid-19. Pada 2019, pariwisata menyumbang sekitar 10 persen PDB dan menyerap 13 juta tenaga kerja di kawasan ini. 

Dikutip dari Euractiv, rencana Uni Eropa itu dimuat dalam dokumen yang disusun oleh European Commission. Di dalamnya tertulis ada tiga tahap pembukaan perbatasan. Pertama, membuka perbatasan hanya untuk perjalanan penting, misalnya keperluan medis. Kedua, membuka perbatasan di antara negara-negara yang memiliki kesamaan dalam aspek profil risiko dan kadar pemulihan pandemi—skema yang populer dengan istilah travel corridor. Terakhir, membuka tapal batas sepenuhnya. 

Tahap pertama sudah berjalan, sedangkan tahap kedua mulai memicu polemik. Negara-negara Schengen sebenarnya dilarang melakukan diskriminasi. Artinya, jika perbatasan satu negara sudah dibuka, seluruh warga dari negara anggota lain harus diizinkan masuk. Tapi sepertinya beberapa anggota Uni Eropa akan melanggar prinsip ini. Lagi pula, secara legal, keputusan pembukaan perbatasan berada di tangan masing-masing negara. Berikut beberapa negara yang siap menerapkan sistem travel corridor:

Rummu, permukiman kecil di utara Estonia. (Foto: Ivars Krutainis/Unsplash)

Estonia-Lithuania-Latvia
Mulai 15 Mei, ketiga negara tetangga di tepi Laut Baltik ini sepakat membolehkan warganya saling melintasi perbatasan, sementara turis asing dari negara lain diwajibkan menempuh prosedur karantina. Hingga 14 Mei, merujuk Ncov2019 Live Data, trio Baltik ini secara kolektif mencatatkan 4.207 penderita Covid-19.

Holocaust Memorial di Berlin, Ibu Kota Jerman. (Foto: Muhammad Fadli)

Jerman-Austria-Swiss  
Pada 13 Mei, saat menghadap parlemen, Kanselir Jerman Angela Merkel mematok 15 Juni sebagai titik awal bagi pembukaan perbatasan di seantero Uni Eropa. Dia lalu memakai tanggal itu untuk membuka gerbang lalu lintas manusia antara Jerman, Austria, dan Swiss. Negara lain yang dipertimbangkan Jerman dalam skema travel corridor ialah Prancis. 

Imerovigli, desa pesisir di Pulau Santorini, Yunani. (Foto: Hello Lightbulb/Unsplash)

Yunani-Siprus-Israel
Hampir seperempat tenaga kerja Yunani berkecimpung di sektor pariwisata. Karena itu devisa turis sangatlah vital bagi perekonomiannya, terlebih negara ini sedang dililit banyak utang. Di tahap awal, Yunani berencana membuka travel corridor dengan Siprus dan Israel. Mengutip Visit Greece, hotel dan restoran akan diizinkan beroperasi mulai 1 Juni, sedangkan turis bisa kembali berjemur di Santorini mulai 1 Juli, walau dengan syarat membawa bukti bebas infeksi virus.

Panorama Cesky Krumlov, kota wisata di Republik Cheska. (Foto: Muhammad Fadli)

Republik Cheska-Slovakia-Austria
Dilaporkan oleh Prague Morning, Menteri Luar Negeri Tomas Petricek mengatakan perbatasan negaranya akan dibuka untuk turis dari Slovakia dan Austria mulai Juli. (Tanggal pasti belum dilansir.) Pada tahap berikutnya, Republik Cheska akan memberi izin masuk bagi pendatang asal Polandia dan Jerman.  

Air terjun Kirkjufellsfoss dengan latar Gunung Kirkjufell di Islandia. (Foto: Koushik Chowdavarapu/Unsplash)

Islandia   
Berbeda dari anggota Uni Eropa lain, Islandia tidak menerapkan skema travel corridor. Dikutip dari Iceland Review, Perdana Menteri Katrin Jakobsdottir pada 12 Mei mengumumkan rencana membuka bandara bagi seluruh turis, termasuk dari luar kawasan Schengen, mulai 15 Juni. Kendati begitu, tiap pengunjung akan dites usai mendarat. Islandia adalah salah satu negara tersukses dalam penanganan pandemi. Dari 1.802 penderita, 1.780 di antaranya sudah sembuh, dan tidak ada kasus baru sejak 7 Mei.

Comments