Forbidden City di Tiongkok yang ramai didatangi turis. (Foto: Ling Tang)

Opsi isolasi yang telah diterapkan sejumlah negara dalam beberapa bulan belakangan ini diyakini telah menekan penyebaran COVID-19. Bersamaan dengan laporan kasus corona yang kian menurun, setidaknya beberapa negara mulai longgarkan kebijakan lockdown, dan telah menjalani aktivitas seperti semula.

Tiongkok
Sejak 8 April lalu, Tiongkok telah mencabut lockdown di Wuhan. Warga dapat meninggalkan rumah meskipun masih dipantau via aplikasi di ponsel. Hanya warga yang mendapat QR hijau yang diperbolehkan ke luar rumah.

Vietnam
Vietnam menjadi salah satu negara yang paling tanggap menghadapi COVID-19. Negara dengan penduduk sekitar 95 juta orang ini sudah mendeklarasikan perlawanan terhadap COVID-19 sejak Januari. Vietnam memulai lockdown pada awal April lalu sehingga banyak bisnis yang harus tutup. Tetapi akhir April, Vietnam sudah melonggarkan lockdown setelah tak ada kasus baru COVID-19 selama enam hari berturut-turut. Dikabarkan lockdown di Vietnam berakhir tanpa ada korban yang meninggal.

India
India mulai melonggarkan lockdown sejak 25 April, dan mengizinkan toko-toko kecil kembali beroperasi, namun jumlah karyawan hanya diperbolehkan hanya 50 persen dalam satu gedung untuk tetap menerapkan social distancing.

Malaysia
Perdana Menteri Malaysia, Muhyiddin Yassin mengumumkan lockdown akan dilonggarkan pada 4 Mei. Dengan pelonggaran ini, hampir seluruh sektor usaha yang tidak melibatkan terlalu banyak orang sudah diperbolehkan untuk kembali dibuka, termasuk restoran. Namun, perbatasan antar negara bagian masih ditutup. Warga Malaysia masih dilarang untuk mudik saat Hari Raya Idul Fitri nanti dan diwajibkan mengenakan masker dan mempraktikkan social distancing. Sementara kegiatan olahraga yang melibatkan kurang dari 10 orang, seperti jogging, badminton, atau bersepeda, sudah diperbolehkan.

Pantai Bondi di Australia yang kembali diserbu turis lokal usai aturan lockdown dicabut. (Foto: Paula-Jorunn Naes)

Australia
Penurunan kasus di Australia membuat pemerintah memutuskan untuk melonggarkan lockdown pada akhir April. Meski begitu, Perdana Menteri Australia Barat, Mark McGowan mengatakan masyarakat harus tetap mematuhi dan menerapkan jaga jarak selama periode ini. Australia sebelumnya telah menerapkan lockdown parsial dengan menutup perbatasan dalam dan luar negeri serta meniadakan aktivitas ekonomi sejak 25 Maret.

Selandia Baru
Selandia Baru melonggarkan aturan lockdown yang ketat pada 27 April silam. Bisnis dan beberapa sekolah mulai kembali dibuka. Dalam laporan terakhir, pemerintah setempat hanya melaporkan adanya penambahan lima kasus. Total lockdown di Selandia Baru berlangsung hampir selama lima minggu. Saat ini, restoran sudah mulai buka, tetapi bioskop, perpustakaan, dan museum masih tutup.

Italia
Italia telah mengizinkan perusahaan dan beberapa sektor kembali beraktivitas mulai 4 Mei 2020. Pencabutan aturan pembatasan wilayah bakal dilakukan secara bertahap. Meskipun warga sudah dapat kembali bekerja di kantor dan perjalanan antar-wilayah diperbolehkan, namun pemerintah tetap meminta warga untuk berhati-hati. Selain itu, Italia juga akan kembali membuka dua bandaranya. Sementara untuk kegiatan sekolah dilaporkan akan tetap tutup sampai September.

Warga lokal dapat kembali bersepeda di Nyhavn, København, Denmark. (Foto: Max Adulyanukosol)

Denmark
Pemerintah Denmark telah melonggarkan kebijakan lockdown secara bertahap, sejak pertengahan April lalu. Namun pemerintah masih menutup area perbatasan, bar, restoran, pusat perbelanjaan, melarang pertemuan lebih dari 10 orang, dan membatasi perjalanan ke luar negeri.

Republik Ceko
Pemerintah Ceko melonggarkan kebijakan lockdown pada 20 April lalu dengan membuka sektor pasar dan bisnis. Nantinya pemerintah akan secara bertahap melonggarkan pembatasan dengan membuka sekolah, pasar, bahkan mengizinkan pesta pernikahan meski hanya bisa dihadiri 10 orang. Selain itu, warga dapat bepergian ke luar negeri untuk melakukan urusan bisnis. Namun, dengan syarat akan menjalani karantina mandiri selama 14 hari.

Jerman
Sejak 20 April, pemerintah Jerman telah membuka sektor bisnis, disusul oleh pembukaan sejolah-sekolah secara bertahap. Negara ini memprioritaskan pembukaan sekolah dasar dan sekolah menengah. Meskipun begitu Jerman tetap melarang warganya untuk berkumpul di area publik dan tetap mewajibkan social distancing.

Austria
Pada 14 April, toko-toko di Austria kembali dibuka, tapi dengan persyaratan ketat dan bertahap. Toko yang boleh dibuka adalah yang memiliki luas tak lebih dari 400 meter persegi, termasuk toko perkakas rumah tangga dan perkebunan. Jumlah pengunjung yang datang juga masih dibatasi. Pusat perbelanjaan, supermarket, hingga salon kecantikan juga akan segera beropersi normal. Restoran dan hotel diperkirakan baru boleh buka pada pertengahan Mei.

Kebijakan karantina di Swiss kembali dibuka secara bertahap. (Foto: vaun0815)

Swiss
Swiss melonggarkan lockdown dalam tiga tahapan hingga Juni mendatang. Tahapan pertama dimulai 27 April, yakni dibukanya kembali berbagai layanan personal, seperti salon kecantikan, pangkas rambut, hingga fisioterapis dengan pengunjung yang terbatas. Tahapan kedua adalah dibukanya kembali sekolah-sekolah pada 11 Mei. Sementara tahapan ketiga adalah kembali aktifnya sejumlah tempat masyarakat berkumpul seperti restoran dan bar pada 8 Juni.

Prancis
Sempat menjadi salah satu titik penularan terbanyak di Eropa, kini Prancis berencana akan melonggarkan lockdown mulai 11 Mei mendatang setelah hampir dua bulan melakukan isolasi wilayah. Sejumlah sekolah hingga pasar akan kembali dibuka. Meski begitu, masyarakat tetap diharuskan menggunakan masker. Para pekerja juga dianjurkan untuk bekerja dari rumah selama beberapa minggu meski lockdown dilonggarkan.

Inggris
Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, memutuskan untuk melonggarkan lockdown setelah Inggris melewati puncak pandemi corona. Namun, sebagian warga Inggris lebih memilih untuk tetap memberlakukan karantina mandiri karena masih was-was dengan penularan.

Spanyol
Pemerintah memberlakukan lockdown setelah Spanyol terdampak virus corona paling parah kedua di Eropa setelah Italia. Namun sejak akhir April, Perdana Menteri Pedro Sanchez mengatakan telah melonggarkan kebijakan tersebut.

Rumah kayu yang berada di Hamnøy, Norwegia. (Foto: Seth Kane)

Norwegia
Norwegia sudah melonggarkan karantina wilayah pada 27 April lalu, dengan membuka sekolah menengah dan universitas. Selain itu, larangan tinggal di rumah sudah dicabut dan beberapa sektor kesehatan kembali diizinkan bekerja.

Israel
Israel mulai bertahap longgarkan lockdown terhitung sejak 19 April. Beberapa sektor bisnis kembali beroperasi. Namun beberapa wilayah masih akan memberlakukan lockdown dengan meliburkan sekolah-sekolah dan meminta masyarakat agar tidak ke luar rumah.

Mesir
Mesir melakukan lockdown sejak 15 Maret dengan menutup bandara, sekolah, universitas, dan pusat kebugaran. Namun menyambut bulan Ramadan, kebijakan tersebut justru dilonggarkan. Perdana Menteri Mostafa Madbouly menyatakan kegiatan bisnis akan diizinkan untuk beroperasi kembali serta jam malam akan dipangkas. Namun, masjid tetap ditutup dan kegiatan keagamaan masih dilarang.

Afrika Selatan
Pemerintah resmi memutuskan untuk melonggarkan lockdown mulai 1 Mei silam. Sebelumnya, masyarakat diminta untuk tetap di rumah sejak 27 Maret, dan hanya diizinkan meninggalkan rumah untuk membeli makanan, obat-obatan, dan perawatan medis.

Nigeria
Pemerintah Nigeria akan melonggarkan kebijakan lockdown di tiga kota besar, yakni Kota Lagos, Abuja, dan Ogun yang akan dilakukan secara bertahap, sehingga masyarakat diperbolehkan ke luar untuk bekerja, membeli makanan, berolahraga, dan pergi ke fasilitas kesehatan namun tetap waspada dengan menerapkan protokol kesehatan.

Pertokoan dan transportasi umum di New York akan kembali beroperasi normal dalam beberapa pekan mendatang. (Foto: ben o’bro)

Amerika Serikat
Meskipun di Amerika Serikat jumlah kasus virus Corona tertinggi, yakni tembus satu juta lebih kasus. Namun Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan untuk mencabut aturan lockdown secara nasional mulai awal Mei. Pelonggaran lockdown itu, bertujuan untuk kembali membuka perekonomian di Amerika.