Kiri-kanan: Sebuah mobil menyusuri jalur yang dikangkangi pegunungan terjal menuju kota Skardu di kawasan dataran tinggi Gilgit-Baltistan, sekitar 500 kilometer di utara Islamabad, Ibu Kota Pakistan. (Foto: Ronnachai Limpakdeesavasd/EyeEm/Getty Images); seorang penggembala wanita dengan busana tradisional di kawasan Deosai National Park, Skardu District. (Foto: Nadeem Khawar/Getty Images)

Oleh Trinity

“Lihatlah jendela di sebelah kanan Anda,” seru sang pilot ketika pesawat dari Islamabad memasuki langit kawasan Skardu. “Ada Nanga Parbat yang tingginya 8.126 meter di atas permukaan laut. Gunung tertinggi kesembilan di dunia!”

Baru kali ini saya melihat gunung yang tingginya melebihi tinggi jelajah terbang pesawat. Sosoknya mengingatkan pada Nanda Parbat, tempat Batman berlatih bela diri di Himalaya, yang ternyata berada di Pakistan!

Skardu, kota yang saya tuju, berada di Gilgit-Baltistan, kawasan di utara Pakistan yang ditumbuhi banyak gunung tinggi sebagian kelewat tinggi. Setidaknya 50 puncak di sini menjulang lebih dari 7.000 meter. Sebagai perbandingan, Jayawijaya, menara alam terjangkung di Indonesia, tingginya “hanya” 4.884 meter.

Lanskap semampai itulah yang membuat pengalaman terbang di sini terasa magis, walau kadang juga mencemaskan, seperti yang saya alami hari ini. Manuver pesawat saat menuju landasan memicu stres. Bandara Skardu terhampar di antara gundukan pasir putih. Di sekelilingnya, pegunungan bersalju menjulang bak tembok putih raksasa.

Pesawat akhirnya mendarat dengan selamat. Keluar dari pesawat, angin kering dan dingin menerpa di siang bolong, memaksa saya segera merapatkan jaket. Lima menit berselang, sebuah bus reyot datang untuk mengangkut penumpang menuju terminal. “Meski tidak tercatat, bandara ini memiliki landasan terpanjang di dunia, karena merangkap sebagai landasan Angkatan Udara Pakistan dengan pesawat-pesawat tempurnya. Maklum, di balik gunung itu adalah India,” jelas Hamid, pemandu saya.

Gilgit-Baltistan, yang luasnya setara Provinsi Sumatera Utara, terbagi dalam tiga zona utama: Gilgit, Baltistan, dan Diamer. Dataran tinggi berpopulasi 1,8 juta orang ini sudah lama tersohor akan keindahan alamnya. Di sini terdapat rantai pegunungan yang spektakuler, danau-danau indah berair pirus, serta gletser terbesar di dunia di luar kutub. Keajaiban natural lainnya tentu saja Cold Desert, hamparan gurun janggal yang sesuai namanya senantiasa dingin, bahkan tertutup salju sepanjang musim dingin.

Kendati begitu, hantu warisan masa silam membuat tanah cantik ini senantiasa dirundung murung. Gilgit-Baltistan, bagian dari Kashmir, berada di pusaran konflik teritorial antara Pakistan dan India. Dari balik gunung-gunung yang semampai, kedua negara bertetangga itu terus bersiaga, sigap menodongkan senjata, membuat hidup terasa genting dan tegang. Akibat sengketa pula, pesawat saya mesti sedikit memutar demi menghindari wilayah udara India.

Tiba di terminal bandara, saya langsung mendaftarkan diri di loket. Di sini, semua turis asing memang diwajibkan melakukan registrasi khusus. Pada selembar kartu, seorang petugas wanita yang ramah menuliskan nama, nomor paspor, tujuan, dan alamat penginapan saya. Dari bandara, saya kemudian berkendara selama setengah jam melewati jalan-jalan rusak menuju Skardu.

Kiri-kanan: Atap sebuah masjid tua berbahan kayu di Khaplu. (Foto: M.Omair/Getty Images); relief tua yang menampilkan Sang Buddha di Desa Satpara, Skardu. (Foto: Yasir Nisar/Getty Images)

Usai check in, saya bertamu ke rumah keluarga Hamid, pemilik penginapan. Di tengah sesi makan siang, saya diperkenalkan dengan kakak tertuanya, Ghulam. Kami bertiga makan di lantai berlapis karpet di ruang keluarga, sementara istri Hamid beserta anak-cucunya bersantap di dapur. Sesuai adat setempat, memang hanya kaum pria yang boleh menjamu tamu.

“Saya lahir dan besar di desa Chulunka di Ladakh. Ada sekitar enam puluh rumah di desa itu,” Ghulam membuka topik panas saat kami melahap kari sapi, dhal, dan naan mirip makanan India, tapi bedanya di sini daging sapi halal dikonsumsi. “Pada 1971, tiba-tiba saja desa kami diduduki tentara India, sehingga kami semua lari ke Khaplu. Kami meninggalkan semuanya: rumah, ladang, ternak. Ah, situasi itu sangat menyakitkan!”

Mendengar ceritanya, makanan saya seperti dibumbui rasa duka. Kisah suram perebutan wilayah masih basah di ingatan banyak orang, dan banyak saksi dari konflik tragis itu masih hidup untuk menceritakannya. “Desa kami sangat indah,” lanjut Ghulam dengan nada getir. “Semua orang berbahagia. Kami sering berbagi makanan dan bermain polo bersama. Entah kapan saya bisa kembali ke Chulunka.”

Belum kering air mata Ghulam, Hamid menimpali dengan drama lirih lainnya. “Teman saya lebih sedih lagi ceritanya,” kenangnya. “Suatu hari saat berbelanja ke pasar, dia mendadak tidak bisa pulang lantaran desanya dibarikade tentara India. Saudara-saudaranya di rumah tidak bisa berbuat apa-apa. Tiga puluh tahun berselang, ibunya akhirnya bertemu salah seorang anaknya saat naik haji di Arab Saudi.

Bergidik dihujani kisah emosional, saya mengalihkan fokus pada paras keluarga Hamid yang berbeda dari orang Pakistan kebanyakan. Mereka bermata sipit dan berkulit terang. Setelah saya tanya silsilahnya, mereka mengaku sebagai orang Balti keturunan Tibet. Bahasanya pun mirip dengan bahasa Tibet. Dari sinilah saya tahu mengapa Baltistan dijuluki “Little Tibet,” sedangkan Ladakh di India dijuluki “Great Tibet.”

Kiri-kanan: Seorang penggembala di Nagar Valley membuat yoghurt berbahan susu kambing. (Foto: Nadeem Khawar/Getty Images); jalan di Gilgit yang dibangun mengikuti aliran sungai. (Foto: Kwanjai Kamnerddee/EyeEm/Getty Images)

Sejenak membuka sejarah, konflik perbatasan di Kashmir berakar pada abad ke-19. Dulu, wilayah Kashmir dari Gilgit-Baltistan di sisi barat hingga Jammu-Kashmir di timur dikuasai oleh Dinasti Dogra yang tunduk di bawah pemerintahan kolonial Inggris di India. Selepas hengkangnya Inggris pada 1947, Pakistan dan India berpisah dengan menyisakan sejumlah problem tapal batas yang tak jelas ujungnya hingga kini.

Teritori Kashmir saat ini terbagi dalam tiga zona dengan tiga penguasa berbeda: 35 persen wilayahnya dikuasai oleh Pakistan yang membawahi Gilgit-Baltistan dan Azad Kashmir; 45 persen oleh India yang mencakup Jammu-Kashmir; sementara 20 persen sisanya oleh Tiongkok yang meliputi Aksai Chin dan Shaksgam Valley. Zona yang terakhir ini juga diperebutkan oleh India, membuat perseteruan geopolitik di sini kian runyam.

Mengunjungi daerah mana pun di Kashmir, isu perebutan wilayah adalah tema diskusi sehari-hari. Empat tahun lalu saya berkesempatan melawat Jammu-Kashmir di India. Suasana di sana jauh lebih mencekam. Di Bandara Leh, turis mesti mengisi formulir yang jauh lebih tebal dan rumit, juga melewati sesi wawancara intensif oleh aparat. Kendaraan militer dan bala tentara India terlihat di mana-mana, jauh lebih banyak jumlahnya daripada di Gilgit-Baltistan. (Bedanya, tentara India di Jammu-Kashmir lebih fokus meredam gerakan makar, sementara tentara Pakistan di Gilgit-Baltistan bersiaga menghadapi serangan India.)