Barisan vila di Hurawalhi Island Resort, Maladewa. (Foto: Cristian R)

Lelah menanti giliran vaksin? Liburan ke Maladewa mungkin bisa jadi solusinya. Negara kepulauan di Samudra Hindia ini berencana memberikan vaksin Covid-19 kepada turis asing. 

Rencana bombastis ini dilontarkan oleh Menteri Pariwisata Abdulla Mausoom pada Februari 2021 di hadapan anggota parlemen. Dikutip dari media lokal Raajje dan Times of Addu, Mausoom merangkum kampanyenya dengan istilah 3V, singkatan dari Visit, Vaccinate, Vacation.

Di atas kertas, kampanye 3V terbilang cerdik. Jarak antara vaksin dosis pertama dan kedua mencapai 2-3 minggu, lalu butuh 2-3 minggu lagi untuk membentuk imunitas tubuh. Artinya, setiap “turis pasien” akan berlibur minimum sebulan di sini. Pajak yang dipetik negara lebih dari cukup untuk membeli vaksin. 

Akan tetapi, dalam praktiknya, 3V mungkin sulit dieksekusi. Produksi vaksin terbatas dan distribusinya belum merata. Maladewa pun baru mulai memberikan vaksin AstraZeneca kepada warganya pada Februari, dan belum jelas apakah ada stok tersisa untuk turis.

Pesawat amfibi mendarat di perairan Veligandu Island Resort, Maladewa. (Foto: Adam Azim)

Hingga kini belum ada keterangan jadwal dan biaya 3V. Yang jelas, kampanye ini lahir dari kondisi genting. Maladewa masuk daftar negara yang paling bergantung pada dolar pelancong. Sekitar sepertiga PDB-nya bersumber dari pariwisata, dan pandemi  telah memukul telak perekonomiannya. Pada 2020, negara ini hanya membukukan sekitar 550.000 kunjungan turis asing, susut dari 1,7 juta pada 2019.

Memasuki 2021, arus turis mulai memperlihatkan perkembangan positif. Pada dua bulan pertama, pos imigrasi Maladewa menstempel 188.000 paspor asing, dengan 164 di antaranya asal Indonesia. Walau begitu, di periode yang sama, jumlah kasus Covid-19 ajek meningkat. Membuka 2021, ada 47 kasus baru. Di ujung Februari, ada 196 kasus. 

Datangnya vaksin kini meniupkan harapan baru. Tahun ini, Maladewa berambisi menjala 1,5 juta turis internasional. Jika laut pirus dan resor mewah tak cukup untuk mengejar target itu, ‘vaccine tourism’ mungkin bisa jadi solusinya. Cristian Rahadiansyah