Pagar proyek sebuah taman wisata yang tengah dibangun di Lembah Harau, Sumatera Barat.

Setahun belakangan, taman ini sangat populer berkat keberadaan sebatang pohon kering yang ramai digunakan untuk berfoto. Selain itu, ada wahana-wahana rekreasi seperti balon terbang, sepeda gantung, serta sampansampan di kanal. Kalau saja tidak dikelilingi percakapan dalam bahasa Minang, saya mungkin akan merasa sedang berada di taman wisata keluarga di Jawa.

Beberapa bulan silam Kampuang Sarosah menghadirkan Harau Dream Park, kompleks berisi replika ikon-ikon Eropa. Di sini terpajang Big Ben, kincir angin yang dibubuhi tulisan “I amsterdam,” juga Stonehenge dalam versi yang lebih mini dibandingkan Cangkringan. “Di situ nanti untuk Menara Pisa,” jelas seorang penjaga taman usai saya bertanya tentang sebidang area yang tertutup bedeng.

Harau Dream Park juga menawarkan beberapa bilik penginapan. Fasilitasnya terkesan apa adanya, malah cenderung mirip indekos, tetapi mereka yang bermalam di sini setidaknya bisa sesumbar pernah melihat Menara Eiffel dari jendela kamar ketika bangun pagi.

Gapura batu imitasi di area hutan Coban Talun, Malang.

“Kalau akhir pekan atau hari libur, yang datang ke sini bisa mencapai empat ribu orang dalam sehari,” ujar seorang pemuda yang berjaga di gerbang taman. Mendengarnya, saya melirik karcis masuk seharga Rp15.000 di tangan, mencoba menghitung pemasukan yang diraup pengelola taman. Posisi Lembah Harau cukup strategis, kira-kira separuh perjalanan antara Padang dan Pekanbaru, sehingga bisa menarik pengunjung dari kedua daerah itu. Belum lagi di dekatnya ada Kota Payakumbuh yang tersohor berkat wisata kuliner 24 jamnya.

Berjalan kaki menyusuri Lembah Harau yang sejuk, melihat air terjun yang mengintip dari balik pepohonan rindang yang dihinggapi burung murai dan monyet ekor panjang, saya tak habis pikir kenapa tempat semolek ini perlu ditambahi wahana-wahana buatan. Sepertinya kini berkembang logika berpikir yang berbeda dalam melambungkan pamor tempat wisata. Autentisitas dipandang tak lagi mencukupi, hingga muncul semacam perlombaan untuk menambahkan ornamen artifisial dan efek dramatis yang memikat secara visual, walau acap mengusik dan rentan merusak ekosistem.

Loket masuk sebuah taman bunga di gumuk pasir Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta.

Di sekitar Kampuang Sarosah kini bermunculan taman rekreasi lain dengan konsep sejenis. Saya sempat melewati pagar sebuah proyek yang dilapisi spanduk bertuliskan “Istana Kelinci Harau.” Berada di lembah permai yang kerap disebut Yosemite-nya Indonesia ini, diapit tebing-tebing granit curam yang menjulang 200 meter, semua itu sepertinya tak lagi cukup untuk menarik minat wisatawan.

Sketsa semacam itu bisa ditemukan di banyak objek wisata kekinian lain di Indonesia. Mereka mungkin tidak tertulis dalam panduanpanduan wisata arus utama, tapi keberadaannya yang tak kunjung surut menandakan ini bukan hanya tren sesaat pula. Saya tak punya bekal keilmuan yang mumpuni untuk bisa memprediksi arah perkembangan wisata lokal ini. Sebagai fotografer, yang bisa saya lakukan hanyalah merekamnya sebagai catatan untuk ditelisik lebih lanjut di kemudian hari.

Dalam abad ke-21, konvensi-konvensi lama tentang apa itu objek wisata dan bagaimana turis memandangnya berubah drastis secara organik tanpa kendali dari pihak-pihak yang sebelumnya memiliki otoritas terhadapnya. Kini, objek wisata tidak lagi sebatas eksotisme alam, buah pikir arsitek, atau warisan peradaban purba. Banyak tempat bisa diciptakan secara instan semata dengan merujuk internet, tagar, atau trending topic.

Fotografi dan media sosial berperan instrumental dalam pergeseran itu. Banyak tempat wisata dirancang demi memuaskan rasa haus publik untuk memotret dan menambah feed media sosial. Sebaliknya, tren media sosial mendorong banyak tempat wisata dimodifikasi agar relevan dengan selera visual publik.

Bagian dari taman rekreasi Kampuang Sarosah, Harau Dream Park memajang replika tengara-tengara ikonis Eropa, plus sejumlah bilik penginapan yang menyuguhkan Menara Eiffel tiruan dari jendelanya.

Melalui Towards New Landscapes, saya berusaha merekam fenomena pariwisata kontemporer di Indonesia itu, sekaligus pengaruhnya pada beragam isu, termasuk pembangunan ekonomi berkelanjutan, perubahan fungsi lahan dan ruang, persepsi psikologis publik, juga dampak-dampak lainnya yang hingga kini belum terpetakan.

Kembali ke Bukit Mangunan, ketika saya menikmati angin semilir Bantul, seorang perempuan muda tiba-tiba menghampiri saya. “Maaf mengganggu, boleh nggak minta tolong fotokan kami di sana?” pintanya halus seraya menunjuk sebuah sudut berisi bangunan kayu. Di lokasi yang ia tunjuk, teman-temannya menanti sembari cekikikan.

Muda-mudi berfoto dengan latar sebuah bangunan mirip kastel di bilangan Gondomanan, Yogyakarta. Gedung berdesain ajaib ini sebenarnya tidak dibuka untuk umum dan tidak pula didesain sebagai objek wisata.

Saya menghampiri mereka. Baju-baju dirapikan, lensa kamera tertuju pada wajah-wajah riang, dan saya pun akhirnya ikut ambil bagian dalam fenomena pariwisata kontemporer dengan merapal mantra ampuh khas juru foto hajatan: “Oke, lihat sini semua ya. Senyum… satu… dua…” Cekrek!

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Juli/September 2019 (“Vakansi Visual”).