Tren & Ancaman Tempat Instagramable

Relasi konvensional antara fotografi dan pariwisata memasuki babak baru di Indonesia. Banyak tempat wisata kini diciptakan atau dimodifikasi demi melayani gairah memotret dan tren media sosial. Polanya kian kentara, tapi dampaknya masih tanda tanya.

Panggung bambu dan instalasi berbahan ranting pohon kopi di sebuah hutan di Buleleng, Bali. Properti foto ini dipasang di area yang sebelumnya tak pernah dikenal sebagai objek wisata.

Artikel ini dinobatkan sebagai juara satu untuk kategori media cetak majalah di ajang Anugerah Pewarta Wisata Indonesia 2019 dari Kementerian Pariwisata. 

Teks & foto oleh Kurniadi Widodo

Duduk bersandar pada sebatang pohon di Bukit Mangunan, Bantul, di antara orang-orang yang hilir mudik untuk piknik, saya coba mengingat kembali rupa tempat ini tiga tahun sebelumnya. Terakhir datang, saya yakin betul tempat saya rehat ini masih dipenuhi belukar dan sepi manusia.

Dulu, pengunjung umumnya terkonsentrasi di kawasan hutan pinus, beberapa ratus meter dari tempat saya mengaso. Kini, area di pinggiran hutan pinus ini pun mulai ikut dikembangkan. Ada jalur pejalan kaki yang dipercantik barisan bunga jengger ayam. Ada kursi-kursi bersantai. Bahkan ada menara pandang berbahan kayu yang menyuguhkan vista lanskap selatan Yogyakarta dari atas bukit.

Kabut pagi membalut replika Menara Eiffel di Harau Dream Park, objek wisata berkonsep taman mini Eropa di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.

 

Dibantu akun-akun media sosial yang giat mewartakan segala hal yang “fotogenik,” tempat-tempat wisata baru semacam itu kerap dipadati pengunjung dalam tempo singkat. Uniknya, banyak orang pun datang demi mendapatkan foto-foto seperti yang terpampang di beragam media sosial tadi. Semua ini kemudian menciptakan semacam “rantai visual” yang terus memanjang: foto memopulerkan tempat wisata; orang ke tempat wisata untuk berfoto. Foto menjadi katalis sekaligus tujuan.

Fotografi sudah lama berkarib dengan industri pariwisata modern. Hanya beberapa tahun usai teknologi perekaman gambar diumumkan di Prancis pada 1839, juru-juru foto oportunis segera menjajaki kemungkinan mengeruk keuntungan dengan memanfaatkan media baru ini. Pada dekade 1850-an misalnya, muncul nama Platt D. Babbitt yang mendominasi bisnis foto wisata di Niagara. Foto-fotonya tak hanya dibawa pulang sebagai cenderamata oleh para pelancong, tetapi juga menarik calon pelancong baru untuk datang melihat sendiri panorama yang diabadikan foto-foto itu.

Keakraban pariwisata dan fotografi juga berlangsung di Indonesia. Penulis Karen Strassler mencatat sejak pertengahan 1970-an pemerintah memfasilitasi komunitas-komunitas foto amatir demi kepentingan industri pariwisata. Mereka mensponsori banyak lomba foto, yang sebetulnya merupakan metode murah untuk mengumpulkan foto sebagai materi promosi. Dalam perkembangannya, simbiosis itu sedikit banyak memengaruhi persepsi umum tentang apa yang lazim disebut “tujuan wisata.”

Beberapa tahun terakhir, saya mengamati betapa di Indonesia relasi konvensional antara fotografi dan pariwisata mulai mendapatkan narasi alternatifnya. Dalam industri pariwisata kontemporer, gairah memotret kian dominan dalam menggerakkan turis, sementara tren media sosial turut membentuk ruang.

Tebing Breksi, seonggok bukit sisa penambangan di sisi selatan kompleks Candi Prambanan, yang sejak 2015 dialihfungsikan menjadi tempat wisata baru.

Saat ini, daya tarik sebuah tempat wisata tampaknya bisa dibuat, diada-adakan secara instan, kerap cenderung serampangan. Bentuknya bisa beraneka ragam, tapi sebetulnya juga tipikal. Contohnya pemasangan nama objek wisata berukuran gigantik; panggung dan struktur semi-permanen yang dibuat artistik sesuai selera lokal; hingga peniruan mentah-mentah ikon wisata dari kota atau negara lain.

Ornamen dan instalasi itu terkadang diciptakan sebagai fitur tambahan di tujuan wisata yang sudah eksis dan dikenal khalayak luas. Dalam banyak kasus lain, mereka sengaja dipasang di lokasi yang tidak pernah dianggap sebagai tujuan wisata. Yang menarik perhatian saya, hampir semuanya dibuat dengan tujuan spesifik: sebagai latar berfoto pengunjung.

Kecenderungan itu sebetulnya tidak mengherankan jika dikaitkan dengan integrasi kamera dalam gawai komunikasi. Fenomena ini bisa dibilang telah mendemokratisasi profesi “fotografer.” Kamera kini di tangan banyak orang. Memotret adalah aktivitas massal. Faktor pendukung lain yang tak kalah penting tentu saja internet, atau lebih tepatnya media sosial. Memiliki 130 juta pengguna di Indonesia, Facebook adalah media dengan “tiras” tertinggi di negeri ini, disusul Instagram dengan 45 juta pengguna. Dalam konteks pariwisata, keduanya berpengaruh dalam menentukan tempat mana yang populer dan ke mana turis pergi.

Baca juga: Tanah Kelahiran Silat; 50 Tahun Tokoh Doraemon

Sisa pengecatan sebuah wahana baru di taman wisata Coban Talun, Malang.

Fenomena itulah yang menggelitik saya selama sekitar satu setengah tahun terakhir, yang kemudian mendorong saya menggarap proyek personal bertajuk Towards New Landscapes. Sebagian alasannya mungkin karena saya menetap di Yogyakarta, provinsi yang memunculkan banyak tempat wisata swafoto. Sebagian lagi karena lewat pengerjaan proyek ini saya jadi lebih banyak merenungi bagaimana fotografi—media visual yang saya pilih sebagai jalan hidup—bisa sedemikian memengaruhi orang hingga membentuk kultur baru.

Dulu, sebuah tempat galibnya marak difoto karena memang fotogenik secara natural. Kini, banyak tempat secara artifisial direkayasa supaya fotogenik, dengan harapan difoto oleh banyak orang. Salah satu contohnya saya temukan di Desa Kepuharjo, Yogyakarta.

Comments