Sepasang pengunjung berpose di sebuah lokasi foto berbentuk sarang burung di tepi Danau Buyan, Buleleng.

Pada 2010, erupsi Merapi menelan sekitar 300 korban jiwa, memaksa ribuan orang mengungsi, dan meluluhlantakkan sejumlah desa, termasuk Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan. Selepas bencana, warga setempat mencari solusi untuk bertahap hidup dengan memanfaatkan pariwisata. “Seluruh mata pencaharian kami ikut hancur bersama rumah,” kenang Sukemi, warga Kepuharjo. “Kami harus memutar otak menemukan penghasilan baru dalam kondisi yang serba-terbatas.”

Awalnya warga Kepuharjo ingin menjalankan usaha penyewaan jip wisata, tapi niat itu kandas karena ditentang oleh desa tetangga yang lebih dulu menjalani bisnis sejenis dan tidak ingin tersaingi. Dipaksa berpikir kreatif, warga pun sepakat menghimpun dana guna membangun tempat-tempat berfoto yang kebetulan sedang menjamur di banyak daerah.

Di atas tanah desa yang dilanda petaka, sekarang telah berdiri sebuah kompleks monumen batu yang kerap disambangi pengunjung. Kehadirannya tidak ada hubungannya dengan tragedi letusan. Monumen ini ditancapkan bukan untuk mengenang para korban. Bentuknya justru menyerupai Stonehenge, situs prasejarah ikonis yang berjarak hampir sepertiga keliling bumi dari sini.

Replika Stonehenge di Cangkringan di lereng Gunung Merapi. Terinspirasi foto di internet, objek wisata ini dibangun dan dikelola warga Desa Kepuharjo, yang rumah dan lahannya hancur akibat erupsi.

Stonehenge ala Cangkringan dikelola secara kolektif. Penghasilannya masuk kembali ke kantong warga, sesuai besaran investasi masing-masing orang di tahap inkubasi. Inisiatif ini awalnya sempat terhadang regulasi. Lokasinya masuk Kawasan Rawan Bencana III, yang tentu saja verboten untuk hunian. Tapi warga berdalih lokasi itu tidak mereka huni. Mereka hanya datang di pagi hari untuk membuka loket, lalu pulang sore harinya ke hunian tetap relokasi—siasat akal-akalan yang lazim ditemui di banyak tempat di Indonesia.

Lalu, kenapa Stonehenge? “Pasca-erupsi itu kan bongkahan batu vulkanis berserakan melimpah. Kami pikir kenapa tidak dimanfaatkan saja. Kami cari inspirasi di internet objek wisata yang berupa batu-batuan. Ketemunya Stonehenge itu,” jelas Sukemi terkekeh.

Berstatus tiruan, Stonehenge Cangkringan murni menyuguhkan permainan bentuk yang lepas dari konteks dan makna. Mengunjunginya adalah sebuah pengalaman estetis, bukan etis, apalagi historis. Kendati begitu, itu semua terbukti sudah memadai untuk menjaring banyak penggemar. Di zaman media sosial, visual menggerakkan orang, dan fotogenik adalah pangkal popularitas.

Proyek foto Towards New Landscapes saya kerjakan bertahap dengan cara menyambi. Di sela-sela aktivitas, saat berkesempatan singgah di kota-kota lain, saya selalu menyempatkan diri mencari tahu keberadaan objek-objek wisata “kekinian,” untuk kemudian mengunjunginya dan mencoba mengalami sendiri apa yang membuat mereka sedemikian populer.

Sebuah keluarga berfoto di panggung bambu yang dipasang di depan air terjun kecil di Buleleng.

Salah satu kasus unik dalam proyek ini saya temukan di Malang. Di sini, sebuah tempat merekah jadi destinasi swafoto tanpa diniatkan oleh perancangannya. Uniknya lagi, berkat kesuksesannya memukau pelancong, versi tiruannya pun bermunculan. Kampung Warna-Warni Jodipan di bantaran Sungai Brantas lahir dari tugas mata kuliah sebuah kampus. “Jodipan dulu dikenal sebagai kampung kumuh. Penduduknya dianggap jorok karena sering membuang sampah ke sungai,” tutur Arief, seorang teman asal Malang, yang mengantar saya berkeliling Jodipan.

Transformasi Jodipan dimulai pada 2016 ketika sekelompok mahasiswa mengerjakan tugas praktikum yang melibatkan penduduk setempat. Mereka gotong royong membersihkan kampung dan menggambar mural. “Tidak lama setelahnya, mereka menggandeng sebuah produsen cat lokal yang memiliki dana CSR untuk melanjutkan program itu dalam skala yang lebih masif. Tujuannya memperbaiki citra Jodipan di mata publik,” lanjut Arief.

Tak sampai 10 detik Arief selesai bercerita, sebuntal kantong plastik terlontar dari jendela sebuah rumah dan tercemplung di sungai. Kami cuma bisa saling memandang dan tersenyum kecut melihatnya. Jodipan tampil jauh lebih artistik. Sayangnya, perilaku manusia tidak bisa diubah lewat penampilannya.

Bermula dari proyek mahasiswa untuk memperbaiki citra kampung kumuh, Jodipan di bantaran Sungai Brantas justru menciptakan demam baru kampung warna-warni untuk memikat turis.

Terlepas dari iktikadnya untuk membalik citra, warna-warna meriah yang membalut Jodipan menarik banyak pengunjung yang ingin berfoto di berbagai sudutnya. Dampaknya, kampung tetangga di seberang ikut-ikutan mengecat dinding-dinding rumah. Kampung Kesatrian, yang sekarang lebih dikenal sebagai Kampung Tridi, turut mendulang keuntungan yang dipelopori Jodipan. Tak tanggung-tanggung, sebuah jembatan pejalan kaki yang menghubungkan kedua kampung dibangun demi mempermudah tur foto pengunjung.

Belakangan, satu kampung lagi di kawasan yang sama mengikuti jejak Jodipan dan Kesatrian, kali ini dengan menggunakan warna dominan biru demi merepresentasikan warna tim sepak bola kebanggaan Malang, Arema. Lumayan, jadi tidak perlu lagi jauh-jauh ke Jodhpur untuk melihat “Blue City.”

Meniru unsur-unsur familiar kerap menjadi jurus jitu untuk menjamin penerimaan publik. Contohnya saya temukan di Kampuang Sarosah, sebuah taman wisata di Lembah Harau, Sumatera Barat.