Klub sepak bola Bundesliga sudah merumput sejak 16 Mei. Tak lama berselang, kafe dan restoran kembali melayani makan di tempat. Awal Juni, bar sudah boleh menuang bir ke tamu. Selanjutnya, kelab malam akan diizinkan beroperasi mulai Juli atau Agustus.

“Setelah restoran boleh beroperasi, sebuah warung di dekat danau langsung didatangi banyak orang. Antreannya panjang sekali,” jelas Gita Saraswati, desainer interior asal Jakarta yang sedang berada di Jerman, melalui wawancara via telepon. “Tamu tetap mesti jaga jarak, dan saat warung sudah memenuhi kuota tamu, tidak boleh masuk.”

Gita mendarat di Jerman Februari silam dan belum bisa mudik hingga awal Juni akibat aturan lockdown. Dia menetap di Erlensee, sekitar 25 kilometer dari Frankfurt. Dari pengamatannya, new normal memang sudah dimulai di Jerman, tapi pengawasan tetap berlaku.

Minggu lalu misalnya, saat akan makan di restoran bersama teman-teman, Gita mesti mengisi data diri dan memastikan rombongannya beralamat maksimum di dua rumah. Akhir Mei, remaja di desa tetangganya didenda aparat akibat menyalahi batas maksimum kerumunan saat menanggap pesta. “Ada banyak aturan di sini, tapi sangat detail dan mudah dipahami,” tambahnya.

Kiri-Kanan: Jalan sepi dengan latar St. Paul’s Church, Munich, saat PSBB masih berlaku. (Foto: Yaro Felix Verfurth/Unsplash); Lewat aplikasi Robert Koch Institute, agensi pengawas wabah, warga bisa mengecek potensi infeksi Covid-19. (Foto: Mika Baumeister/Unsplash)

Jerman adalah salah satu negara Eropa pertama yang memasuki new normal—sebuah terminologi multi-tafsir yang umumnya didefinisikan sebagai periode ketika pembatasan aktivitas dicabut bertahap, sementara rasio penularan virus Covid-19 berada di ambang aman. 

Usai membuka pintu ekonomi di dalam negeri, Jerman berencana membuka gerbang ke luar negeri. Pada 15 Juni, negara ini akan mengizinkan lalu lintas manusia di perbatasan lewat skema travel corridor, terutama dengan negara yang punya kemiripan profil risiko dalam status epidemi.

Baca Juga: 12 Restoran Top Dunia Dibuka Kembali

Keputusan memasuki babak new normal dilatari keyakinan pemerintah dalam kesuksesan penanganan Covid-19. Per 10 Mei, saat normalisasi mulai digulirkan, Jerman mencatatkan 7.549 kematian akibat virus. Angkanya jauh lebih rendah dari Prancis dan Spanyol yang menembus 26.000 kematian, apalagi dari Italia dan Inggris yang melewati 30.000.

Di Jerman, kurva infeksi memang mulai melandai dan tingkat penularan virus menyusut. Proporsi jumlah pasien dalam kondisi kritis jauh di bawah negara-negara lain. Per 2 Juni, Kanada, yang jumlah kasusnya separuh dari Jerman, mencatatkan jumlah penderita kritis hampir empat kali lebih banyak. Apa rahasia Jerman?

St. Bartholomew’s Church di Bavaria, negara bagian yang mengizinkan misa dengan kapasitas terbatas 50 orang mulai 15 Juni. (Foto: Thomas Peham/Unsplash)

Dalam kolom yang ditulis untuk World Economy Forum, Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn menyebut tiga alasannya. Pertama, sistem layanan kesehatan yang prima dan mudah diakses. Kedua, waktu persiapan yang memadai untuk menghadapi virus. Alasan terakhir, Jerman punya banyak laboratorium untuk mengembangkan tes massal. Kapasitasnya, klaim Pak Menkes, mencapai satu juta diagnosis per hari—sangat mumpuni untuk negeri berpopulasi 83 juta jiwa.

Jens Spahn kemudian menyebut satu alasan lain yang melatari kesuksesan Jerman. “Kami berhasil memperlambat penyebaran virus karena mayoritas warga sudi bekerja sama,” tulisnya. Sikap kooperatif ini, tambahnya, ditunjang oleh transparansi pemerintah dalam memberikan informasi, termasuk mengakui hal-hal yang belum diketahui soal virus. “Ini satu-satunya cara membangun kepercayaan publik dalam melawan virus mematikan.”

Tapi kepercayaan publik mungkin bukan satu-satunya alasan warga patuh aturan. Juli Längerer, wanita yang lahir dan menetap di Stuttgart, menilai secara umum warga Jerman tidak suka dengan pembatasan sosial, termasuk soal aturan pemakaian masker. Akan tetapi, untuk kasus Covid-19, mereka lebih pasrah lantaran resah melihat tragedi di Italia. “Kepatuhan warga lebih didorong rasa takut,” ujarnya via telepon.

Juli bekerja sebagai konsultan bisnis. Dia mengaku menyambut baik keputusan pencabutan PSBB. Banyak perusahaan terpukul; beberapa bangkrut. Akibat panti penitipan anak ditutup, banyak ibu sulit kembali bekerja. “Saya rasa sudah waktunya bisnis dibuka, walau saya menangkap ada bias dalam penentuan mana yang boleh dibuka lebih dulu,” tambahnya. “Restoran boleh buka lebih awal, tapi pusat kebugaran tidak. Contoh lain: Orang dilarang kamping di tenda, tapi boleh tidur di dalam mobil di hutan.”  

Elbphilharmonie di Hamburg sudah membuka area plaza sejak 25 Mei, tapi konser baru digelar di September. (Foto: Jonas Tebbe/Unsplash)

Selama new normal, pemerintah menerapkan sejumlah restriksi. Mengikuti prinsip social distancing yang diperpanjang hingga 29 Juni, Bundesliga boleh digelar, asalkan tanpa penonton, dan pemain cadangan duduk terpisah bangku kosong. Toko berukuran di bawah 800 meter persegi boleh beroperasi, sementara sekolah dibuka sebagian, misalnya untuk keperluan ujian siswa.

Khusus kegiatan komunal, pemerintah membatasi kerumunan maksimum 10 orang. Silaturahmi di antara dua keluarga beda rumah sudah diizinkan, juga dengan batasan 10 orang. Di sisi lain, perbankan nasional Jerman menggandakan plafon nilai transaksi kartu tanpa PIN dari 25 ke 50 euro, demi mendukung “sistem pembayaran yang higienis.” 

Baca Juga: Panduan Terbang di Masa Pandemi

Aturan new normal pemerintah pusat itu bersifat umum. Tiap negara bagian luwes menerjemahkannya sesuai karakter setempat. Jerman adalah negara federal berisi 16 negara bagian, dan masing-masingnya punya otoritas penanganan wabah, termasuk dalam hal penegakan hukum terkait pandemi. “Aparat Bundesländer bertanggung jawab dalam menentukan hukuman untuk tiap pelanggaran,” tambah Dr. Annette Biener, Director Marketing & Sales South East Asia, German National Tourist Office. 

Kiri-Kanan: Stadion Allianz Arena di Munich kembali dipakai untuk laga Bundesliga. (Foto: Saurav Rastogi/Unsplash); BMW Museum di Munich dibuka kembali sejak 15 Mei. (Foto: Anastasia Dulgier/Unsplash)

Akibat otonomi daerah itulah, ada perbedaan aturan di antara negara bagian. Di Berlin misalnya, jarak minimum antar-orang ialah 1,5 meter di ruang tertutup dan lima meter di zona terbuka. Naik transportasi umum, bagian wajah harus ditutup, dengan masker atau syal. Restoran, hotel, dan salon sudah beroperasi sejak medio Mei. Untuk hajatan, plafonnya maksimum 200 orang sejak 2 Juni, lalu 500 orang mulai 16 Juni. 

Masih di Berlin, bar diizinkan menerima tamu sejak 2 Juni, dengan syarat tamu dilarang merapat ke meja bar. Layar tancap sudah boleh memutar film, sementara bioskop mulai 30 Juni. Menyambut new normal, biro pariwisata lokal menawarkan aneka diskon lewat kartu wisata WelcomeBackCard, sedangkan museum mengontrol populasi tamu harian lewat sistem tiket daring.

Bergeser ke negara bagian Bavaria, detail jadwal pembukaan dan regulasi sedikit berbeda. Bioskop bisa buka lebih dini, 15 Juni, begitu pula teater dan konser, dengan syarat maksimum penonton 50 orang untuk indoor. Pada 8 Juni, orang sudah boleh berenang di kolam umum, dan olahraga beregu (selain Bundesliga) yang melibatkan kontak fisik kembali diizinkan.

Gerbong lengang dengan tanda peringatan Covid-19 di Berlin pada 3 April. (Foto: Dmitry Dreyer/Unsplash)

Keputusan Jerman memasuki new normal itu membelah opini publik. Mei silam, protes pecah di sejumlah kota besar, termasuk Berlin, Munich, dan Stuttgart. Ribuan orang menuntut pemerintah segera mengizinkan pelaku usaha kembali beroperasi. Di antara mereka, ada kelompok ultra kanan, anti-vaksin, bahkan anti-masker.

Pada 31 Mei, giliran pendukung kelab malam menggelar protes di Berlin. Pada foto-foto yang heboh berseliweran di media sosial, lebih dari 1.000 orang menaiki perahu dan memenuhi Kanal Landwehr. Dikutip dari portal The Local, aksi itu bertujuan mendukung kelab malam yang belum bisa beroperasi di era new normal.  

Baca Juga: 5 Cara Hotel Tingkatkan Rasa Aman Tamu

Di kubu seberang, muncul kritik pedas terhadap pelonggaran PSBB. Dikutip dari portal DW, Chairman World Medical Association Prof. Frank Ulrich Montgomery menuding pemerintah Jerman meremehkan keselamatan publik dan bertindak hanya berdasarkan motif ekonomi. Kekhawatirannya beralasan. Awal Mei, beberapa hari setelah PSBB dikendurkan, jumlah kasus Covid-19 langsung bertambah. Robert Koch Institute, agensi pengawas wabah, melaporkan peningkatan reproduksi virus. Setelah selama tiga minggu berada di bawah angka 1, skalanya naik jadi 1.1, artinya 10 orang pengidap rata-rata menularkan virus kepada 11 orang lain.

Signal Iduna Park di Dortmund telah menggelar laga sepak bola sejak Mei walau tanpa penonton. (Foto: Marvin Ronsdorf/Unsplash)

Mengambil jalan tengah di antara pro dan kontra, pemerintah berprinsip aturan new normal bisa dievaluasi dan direm mendadak setiap saat, tergantung situasi lapangan. Ketika kasus bertambah, aturan diperketat. Kanselir Jerman Angela Merkel juga sempat membakukan parameternya: rezim PSBB akan dikembalikan di sebuah negara bagian jika jumlah kasus baru menembus 50 orang per 100.000 orang. 

Saat ini, selama skenario buruk tidak terwujud, Bundesliga akan terus mengobati kerinduan para penonton sepak bola, dan warga Jerman bisa bersiap menyambut musim liburan. “Satu yang pasti: liburan musim panas di Jerman akan dibatasi oleh aturan kebersihan yang lebih ketat,” pesan Dr. Annette Biener. Cristian Rahadiansyah