Di tengah meja makan tersaji beragam menu tradisional yang dikemas inovatif. Sementara di tepian jamuan, gabus syrah wine Yatrus telah dicabut. Rasanya halus sekaligus kuat. Kandungan tannin-nya berhasil mengusir dingin malam ini. Pagi baru datang dan saya berkendara menuju “neraka.” Atau lebih tepatnya, menuju Hades. Dunia kegelapan mengenal banyak pintu: Danau Avernus, Fengdu, Glastonbury Tor, Gunung Osore. Semuanya tergantung pada mitologi yang Anda baca. Tapi bagi orang Yunani kuno, gerbang utama ke neraka adalah sebuah gua di Rhodope yang bernama Dyavolsko Garlo. Terjemahannya: “Tenggorokan Iblis.”

Di gua inilah musisi mitologis Thracian bernama Orpheus berusaha membangkitkan Eurydice, istrinya, dari kematian. Caranya adalah membujuk Hades dengan mengandalkan kemampuannya bermusik. Orpheus musisi yang kelewat lihai. Tak seorang pun, termasuk penguasa dunia kegelapan, sanggup melawan sihir dari lyre (harpa berbentuk U) yang dipetiknya.

Singkat cerita, taktik Orpheus moncer. Roh istrinya diizinkan keluar dari alam astral. Tapi ada syaratnya: Orpheus hanya boleh memandang istrinya setelah mereka berdua beranjak dari gua. Celakanya, ketika sedang menuntun istrinya, Orpheus menoleh. Nada-nada syahdu yang meluncur dari dawainya tak berdaya melihat belahan jiwanya buyar dan kembali ke kegelapan.

Mengusir roh jahat; Sungai Trigrad mengalir ke Tenggorokan Iblis, lalu terjun dari ketinggian sekitar 40 meter.

Saya memasuki Tenggorokan Iblis melalui terowongan kayu yang dibuat beberapa dekade silam. Saat lorong menukik ke sebuah podium di atas aula besar, suara cucuran air terdengar riuh. Sungai Trigrad penuh murka mengirimkan airnya dari ketinggian 42 meter ke lantai gua. Di kejauhan terlihat seutas jalan sempit yang dihiasi anak tangga. Barangkali itulah rute yang dulu ditempuh Orpheus. Sulit melewatinya tanpa tali pengaman. Orpheus agaknya tak cuma memiliki kemampuan bermusik, tapi juga kenekatan.

Tapi gua ini tak cuma soal mitologis dewa-dewi. Ia punya misteri lain yang hingga kini belum terjawab. Setelah terjun bebas ke lantai gua, Sungai Trigrad menghilang di bawah sebidang dinding batu, lalu menyeruak kembali setengah kilometer kemudian di luar gua. Di sinilah letak misterinya: benda apa pun yang jatuh ke air di dalam gua tak pernah muncul lagi.

Beragam cara pernah ditempuh untuk mencari penjelasannya. Tes memakai zat pewarna menyimpulkan sungai ini memiliki banyak liku di bawah tanah, kira-kira sepanjang 20 kilometer. Benda apa pun yang tercemplung akan tersangkut, terjebak, atau tersesat di salah satu keelokan tersebut, baik berupa batang pohon, kaleng soda, ataupun manusia.

Kata pemandu saya, seorang penyelam Jerman masih raib ditelan Trigrad. Dia orang terakhir yang mencoba memetakan jaringan bawah tanah sungai ini, kira-kira pada 1970-an. Teknologi canggih juga pernah dicoba dan hasilnya setali tiga uang. Kata pemandu saya lagi, semua robot yang diutus ke sungai mendadak berhenti mengirimkan sinyal tak lama setelah menyelam. Mungkin akibat arus kencang atau sedimen. Atau barangkali, akibat intervensi dewa-dewi.

Langit sedang murung, tapi Desa Shiroka Laka tetap bergairah menyambut Festival Kukeri. Geladi resik berlangsung di sebidang lahan parkir dekat gerbang desa. Para partisipan membawa kostum dan melatih gerakan. Di seberang mereka, kemeriahan lain berlangsung di jalan utama: pengunjung mengerubungi stan-stan penjaja topeng, sweter bulu, karpet warna-warni, dan, seperti pasar lain di dunia, aneka benda murah buatan Cina. Stan-stan makanan juga marak. Pukul 10 pagi, para pedagang telah membariskan daging sapi rebus, sosis panjang, kebab, kentang goreng, juga gulali berwarna ceria.

penonton Festival Kukeri di Desa Shiroka Laka.

Bersama Darina Dobreva, staf Villa Gella, saya datang lebih awal demi mengamankan posisi menonton terbaik di depan alun-alun. Dengan hanya 10 menit tersisa sebelum festival dimulai, saya memutuskan berkelana dan melihat-lihat.

Dalam beberapa hari terakhir, saya telah berulang kali melewati Desa Shiroka Laka, termasuk tadi malam saat menghadiri konser yang digelar siswa-siswa National School of Folk Arts. Di lobi sebuah gedung tua, para pementas berpakaian warna-warni penuh bordir dan memerankan karakter punakawan, pengemis, istri petani, pasukan kavaleri, kesatria, serta ratu gipsi. Mereka lebih terlihat bak pengungsi dari masa silam, namun nyanyian mereka punya sihir yang melintasi masa. >>