Lama terbengkalai, Buzludzha adalah warisan rezim komunis yang runtuh di Bulgaria pada 1990.

Oleh Warren Singh-Bartlett
Foto oleh Petar Peshev

Kami hendak mengunjungi Buzludzha, gedung beton berbentuk piring terbang. Di belakangnya menjulang menara ramping yang dihiasi bintang merah Soviet. Tentu saja, Buzludzha berasal dari zaman yang lebih gemerlap, persisnya masa kejayaan komunisme Bulgaria. Monumen yang didedikasikan bagi para pendiri partai itu diresmikan pada 1981. Kurang dari satu dekade berselang, ia dilupakan, menyusul transisi Bulgaria dan kawasan Eropa Timur menuju alam demokrasi.

Kendaraan kini memasuki medan yang berbeda: aspal tambal sulam yang berkelindan dengan rumput, lalu jalan tanah yang bergelombang. “Pegangan,” Dimitr memperingatkan. “Jika cara ini gagal, kita mungkin akan terperosok ke parit.” Saya mulai bertanya-tanya apakah ekspedisi ini sepadan dengan risikonya. Buzludzha sebenarnya tidak masuk agenda awal kami. Kami tadinya cuma ingin bertamu ke Desa Gela di Pegunungan Rhodope.

Tapi perjalanan dari Sofia ke sana dipenuhi begitu banyak godaan. Ketimbang mengambil jalan pintas, kami berbelok ke Kota Kazanlak dan Lembah Thracian Rulers untuk singgah di sejumlah tempat, salah satunya Shushmanets, kuil berusia 2.300 tahun yang pernah menjadi tempat para pendeta Thracian bermeditasi dalam kegelapan selama tiga hari. Dalam perjalanan ke Shushmanets itulah saya menangkap sosok Buzludzha, artefak yang juga mirip kuil, tapi dari zaman yang jauh lebih modern.

Dilihat dari kejauhan, lekukan Buzludzha begitu mengagumkan, begitu jemawa di tengah lanskap yang dingin. Tapi interiornya jauh lebih memukau, setidaknya jika saya merujuk pada foto-fotonya yang beredar di internet. Keagungannya memang telah dikikis waktu. Plafonnya rontok, dindingnya penuh lubang, dan kursi-kursinya reyot. Ornamen yang relatif utuh adalah mosaik di aula, serta lambang palu arit raksasa di langit-langit. Untuk melihat itu semua, perjalanan berat ini rasanya sepadan.

Dimitr tancap gas. Menerjang bubur salju dan padang rumput kuning, Land Rover menderu dan melaju. Tiga puluh detik kemudian, kami terbebas dari siksaan. Di etape berikutnya, kami menatap lereng yang sudah bersih dari salju, tapi senantiasa diterjang angin ganas.

Lanskap pegunungan magis.

Beberapa menit kemudian, saya berlari mendaki tangga menuju gerbang Buzludzha. Pintunya terkunci, tentu saja. Rantai melintang dan memblokade tamu. Layaknya tawaf di Kakbah, saya mengelilingi bangunan, berusaha menemukan celah, tapi usaha saya gagal.

Jendela-jendela yang dulu dipecahkan orang, kini ditutup berlapis. Sebenarnya ada celah kecil di salah satu sisi dinding, tapi butuh tangga untuk menjangkaunya. Gagal menembus segel, saya harus rela mengintip lewat lubang sempit pada lempengan baja pintu utama. Sempat tergoda untuk berlama-lama di sini, tapi awan mulai berkerumun dan angin kencang kembali berkesiur. Terancam beku, saya pun memilih minggat.

Saya berlalu dengan membawa tumpukan rasa kecewa. Kendati demikian, pengalaman ini mengingatkan saya akan sensasi kebebasan dari tahun-tahun pertama menetap di Lebanon, domisili saya sejak 1998. Saya menikmati semangat liar Dimitr, semua tantangan yang dihadapi di perjalanan, serta fakta bahwa yang kami lakukan menyerempet hukum.