Kolam renang Shanti terhampar di salah satu klaster kamar Andaz Bali. (Foto: Ary Bestari/Andaz Bali)

Oleh Cristian Rahadiansyah 

Dinaungi pohon-pohon rimbun dan jangkung, Andaz Bali terkesan seperti penginapan uzur berusia puluhan tahun. Tapi resor ini sebenarnya baru diresmikan pada 9 April 2021. Properti Andaz pertama di Indonesia ini menempati lahan tua warisan Bali Hyatt, properti legendaris bertitimangsa 1973.  

Andaz Bali hadir di momen yang runyam. Virus Covid-19 terus menjalar. Perbatasan masih tertutup bagi turis asing. Beradaptasi dengan pandemi, resor bintang lima ini menerapkan protokol kesehatan yang cukup ketat, bahkan lolos akreditasi Global Biorisk Advisory Council (semacam sertifikat CHSE internasional), empat bulan sebelum menerima tamu pertamanya. 

Kiri-kanan: Patung Gajah di muka lobi Andaz Bali; Gerbang terakota di sisi depan resor. (Foto: Andaz Bali)

Merek
Merek Andaz sudah eksis cukup lama. Ia diluncurkan pada 2007, dengan properti debutnya berlokasi di London. Jika namanya masih asing di telinga, itu mungkin karena ekspansinya ke Asia Tenggara baru dimulai pada 2017, dengan dibukanya Andaz Singapore. Dalam keluarga besar Hyatt, Andaz tergolong kategori premium. Secara hierarkis, ia berada di kasta kedua bersama Alila, satu tingkat di bawah Park Hyatt.

Wok Wok, restoran utama yang mengeksplorasi tradisi dapur Asia. (Foto: Andaz Bali)

Konsep
Andaz—kata Hindi yang berarti “gaya personal”—berkiblat pada konsep hotel butik. Tiap propertinya diberi keleluasaan untuk mengusung karakternya masing-masing, asalkan masih sejalan dengan identitas mereknya yang menonjolkan muatan lokal. Itu artinya, tak ada Andaz yang sama, baik dalam hal arsitektur, makanan, hingga ornamen interior dan seragam karyawan.

Juga menarik, fleksibilitas dalam hal rasa dan visual ini dilebarkan ke bidang servis. Satu contoh aplikasinya: tamu bisa duduk di restoran mana saja dan memesan makanan dari restoran mana saja. Contoh lainnya: semua tamu, terlepas dari pilihan kamarnya, boleh mengakses club lounge. Andaz menyebut pendekatan luwes ini dengan istilah “unscripted”—sebuah eksperimen yang revolusioner, mengingat Hyatt adalah grup waralaba dengan SOP yang ketat.

Area teras menatap taman rindang di kamar tipe deluxe. (Foto: Andaz Bali)

Lokasi
Andaz Bali bersemayam di alamat termahal di Sanur—Jalan Danau Tamblingan. Dulu, Sanur adalah sentra wisata yang berdenyut kencang. Di sinilah Bali melahirkan hotel bintang lima pertamanya, kompleks vila butik pertamanya, juga hotel internasional pertamanya. Di antara turis generasi pertama di Sanur, ada nama Le Mayeur, Mick Jagger, serta Yoko Ono.

Kondisinya kini memang sudah berubah. Sanur justru lebih tersohor sebagai destinasi yang kalem. Kontras dari Seminyak dan Kuta yang trendi dan riuh, kawasan pesisir timur ini dibalut atmosfer yang guyub. Tak heran, di Sanur, lintasan joging lebih ramai ketimbang beach club, kelas yoga lebih laris ketimbang pesta, musik jazz lebih populer ketimbang disko (ini pula alasan Indra Lesmana menetap di sini). Dan lazimnya tempat yang menghadap matahari terbit, pagi di Sanur dimulai lebih semangat, sementara malam ditutup lebih cepat. 

Kiri-kanan: Dinding kolase motif tegel di restoran Blue Oven; Penataan bangunan Andaz Bali menyesuaikan keberadaan pohon-pohon tua yang tumbuh sejak lahan ini dihuni Bali Hyatt. (Foto: CR)

Desain
Hotel bergaya Bali bukan sesuatu yang baru di Sanur. Kawasan ini bahkan membakukan “karakter lokal” sebagai syarat pembangunan hotel. Melihat konsepnya, Andaz Bali memang tak kesulitan memenuhi kaidah administrasi tersebut. Tapi yang membuat resor ini lebih spesial ialah ikhtiarnya untuk memberi tafsir segar atas pakem puritan “hotel khas lokal.” Ibarat lagu, ia adalah nomor klasik dengan remix kontemporer.

Duet perancang resor ini, Tierra Design dan Design Studio Spin, mencomot inspirasi dari beragam era dan lokasi demi mewujudkan konsep desa modern. Memasuki resor, tamu awalnya disambut gerbang berlanggam candi Hindu, lalu mendarat di lobi yang dinaungi lampu-lampu gigantik berbentuk tetesan air. Usai proses check in bersama karyawan berbalut batik modis, tamu akan menemukan alun-alun yang dilengkapi bale kulkul. Area komunal ini dikelilingi kamar-kamar yang ditempatkan di atas ruang serbaguna dan restoran—penataan janggal yang terilhami ruko-ruko di kawasan pecinan Jalan Gajah Mada, Denpasar. Selepas alun-alun, Andaz Bali memberi sensasi sebuah banjar. Resor ini dibelah-belah jalan setapak yang diselingi taman tirta, pancuran lingga yoni, pohon kamboja, serta dinding-dinding terakota yang digerayangi tanaman merambat. Singkat kata, menginap di Andaz Bali, tamu akan merasa sedang berlibur di Bali.

Kamar mandi lapang di kamar tipe suite. (Foto: Andaz Bali)

Kamar
Kompleks ini mengoleksi 127 kamar bertubuh bata. Luasnya mulai dari 66 meter persegi, lebih lapang dibandingkan tetangganya, Hyatt Regency Bali. Selain itu, ada 22 unit vila, dengan empat di antaranya berbaris di tepi pantai. Sejalan dengan tema “desa,” kamar-kamarnya disebar dalam konsep klaster yang menyerupai dusun-dusun di sebuah desa besar. Demi memudahkan orientasi, mereka dinamai sesuai arah mata angin dalam bahasa Bali: Daja, Dangin, Dauh, dan Delod.

Memasuki kamar, perpaduan elemen baru dan lama menjadi formula yang dominan. Ada anyaman gedek di langit-langit, partisi bambu di teras, serta headboard berbungkus batik. Dari kutub yang kontras, ada kloset dengan penghangat elektrik, cermin berbingkai ring light, lampu yang diaktifkan sensor gerak, serta televisi 65 inci dengan fitur Chromecast. Resor ini sepertinya ingin menjadi desa yang digemari milenial. Rina Mariani, sang general manager, menggambarkannya sebagai resor yang “mengajak Anda melihat kehidupan desa di Bali 20 tahun mendatang.”  

Kiri-kanan: Lampu berbentuk tetesan air menerangi lobi berdinding kayu berukir; Sarapan berisi Bedugul berries, telur dengan bacon, serabi, serta kopi dari Expat Roaster. (Foto: CR)

Kuliner
Sarapan dipusatkan di restoran Wok Wok. Buku menunya ditaburi hidangan lokal seperti bubur suro, babi guling rillette, Bedugul berries, serta soto Madura dengan betis sapi rebus asal AS. Untuk minuman, opsinya meliputi kopi dari Expat Roaster Kerobokan, teh buatan Made Tea Ubud, serta beberapa jamu. Berpindah ke bibir pantai, ada Fisherman’s Club yang terinspirasi kedai-kedai seafood Jimbaran. Sebelum memilih meja, tamu bisa memilih hasil laut segar yang dijejer di atas jukung, lalu menyantapnya bersama pale ale buatan Buleleng.

Selain kedua restoran di atas, Andaz Bali memiliki Blue Oven yang mengolah tradisi dapur Mediterania, serta Fire Fox yang didedikasikan bagi kaum karnivor. Seluruh kreasi dapur di resor ini disajikan di piring Jenggala dan Kevala, serta disupervisi oleh Nadine Waechter-Moreno, satu dari segelintir executive chef perempuan di Indonesia (juga di dunia).     

Bangunan di sekitar alun-alun terinspirasi pecinan di Jalan Gajah Mada, Denpasar. (Foto: CR)

Fasilitas
Desa modern ini dilengkapi tiga kolam renang. Di luar itu, ada dua kolam berbentuk laguna yang disediakan bagi penghuni kamar tipe lagoon access. Di tepi resor ada kids club Kemu Mai (“ke sana ke mari”), sementara di samping alun-alun terdapat ruang serbaguna Studios untuk aneka kenduri dan hajatan. Fasilitas lain resor ini, Shankha Spa, terletak di perbatasan dengan Hyatt Regency Bali dan bisa diakses oleh tamu dari kedua properti. Zona hening ini menaungi pusat kebugaran, sauna, jacuzzi, serta 10 ruang spa yang menawarkan pijatan khas Nusantara. 

Jl. Danau Tamblingan 89A, Sanur, Bali; 0361/320-1234; hyatt.com; mulai dari Rp3.597.000.