Mematuhi anjuran physical distancing, banyak restoran memperlebar jarak meja dan kursi. Di Amsterdam, sebuah pusat seni mengajukan solusi baru demi menambah rasa aman para tamu. 

Mediamatic, institusi seni yang dirintis pada 1983, menciptakan produk inovatif bernama Serres Séparées. Bentuknya mirip rumah kaca, tapi fungsinya sebagai bilik makan privat, dengan kapasitas maksimum dua orang.

Serres Séparées sudah dites pada 27 April silam. Bilik ini dibariskan di tepi kanal dan kelak ditempatkan di Mediamatic ETEN, restoran yang menyajikan makanan organik dan berjarak sekitar 15 menit jalan kaki dari Central Station Amsterdam. Menurut keterangan resmi Mediamatic, Serres Séparées akan dioperasikan setelah PSBB dicabut. “Bilik rumah kaca ini direkomendasikan untuk pasangan yang sudah tinggal bersama,” tambahnya.  

Barisan bilik makan Serres Séparées saat dites oleh Mediamatic akhir April silam. (Foto: Willem Velthoven/Mediamatic)

Serres Séparées bukan kreasi yang sepenuhnya baru tentu saja. Banyak restoran menawarkan bilik privat untuk makan malam romantis, terutama di malam Valentine. Akan tetapi, selepas pandemi, produk semacam ini agaknya akan menemukan momentum untuk dipasang massal di restoran.  

Baca Juga: Ragam Cara Restoran Dunia Melawan Pandemi

Ambil contoh The Barn di Inggris. Di pelatarannya, restoran ini memasang lima kubah transparan yang dinamai dining pod. Bentuknya mirip kantor Amazon di Seattle, tapi dalam versi mini. Kubah di The Barn berkapasitas dua hingga enam orang. Masing-masingnya dilengkapi pendingin dan pemanas udara. Demi menghindari kontak fisik, pramusaji menghidangkan makanan di meja di luar kubah, untuk kemudian dicomot oleh tamu.

Contoh serupa bisa ditemukan di Lady Byrd Cafe, Los Angeles. Sejak Mei, restoran ini mengisi area parkirnya dengan rumah-rumah kaca yang berkapasitas dua hingga enam orang. Keputusan ini diambil demi menawarkan physical distancing sekaligus memberi alternatif yang lebih aman bagi penggemar al fresco dining di musim panas.

Rumah kaca di Lady Byrd Café menawarkan physical distancing bagi penggemar al fresco dining. (Foto: Ali Buck/Lady Byrd Cafe)

Mungkin terilhami tren itu, perancang produk mulai terjun ke bisnis kursi physical distancing. Peluang pasar di ceruk baru ini memang cukup besar. Physical distancing telah menjadi norma baru di masyarakat. Bahkan setelah vaksin Covid-19 didistribusikan, kita masih akan merasa waswas saat berdekatan dengan orang lain.

Mei silam, desainer Prancis Christophe Gernigon meluncurkan tudung pelindung transparan yang dinamai Plex’eat. Bentuknya mirip tudung lampu, tapi berukuran besar dan berdesain trendi. Fungsinya ialah melindungi tubuh bagian atas saat kita makan di restoran. “Plex’eat menawarkan restoran kemungkinan dibuka lebih cepat dengan lebih aman,” jelas Christophe dalam siaran persnya. 

Tudung transparan Plex’eat diluncurkan Mei silam oleh desainer Prancis Christophe Gernigon. (Foto: Christophe Gernigon Studio)

Plex’eat punya banyak keunggulan. Berbeda dari partisi di tengah meja, tudung ini tidak mengganggu proses makan. Selain itu, pemilik restoran bisa memaksimalkan kapasitas interior. Tak perlu memberi jeda satu kursi kosong, lantaran tiap orang sudah terkurung secara individual. Dan ada lagi satu manfaat lain yang tak disengaja dari Plex’eat: membendung aroma mulut.   

Baca Juga: 18 Restoran Elite Gelar Lelang Makan Untuk Amal

Dikutip dari Associated Press, Christophe mengaku telah mendapatkan lebih dari 200 order Plex’eat. Salah satu klien pertamanya ialah restoran H.A.N.D. di Paris. Mei silam, saat restoran di Paris diizinkan kembali melayani tamu, H.A.N.D. memasang beberapa Plex’eat di interiornya. Didesain ergonomis, tudung ini memang berhasil menjaga estetika ruangan. Kecuali memasang pengait di plafon, pemilik restoran tak perlu melakukan banyak modifikasi interior.Cristian Rahadiansyah