Kereta Krakatau Ekspres melintasi daerah Jawa Barat.

Oleh  Ayos Purwoaji
Foto oleh Agung Parameswara

“Rasanya seperti naik speedboat,” kata Fatsi, “tapi di atas tanah.” Sejam sebelumnya, saya dan Fatsi adalah dua orang asing yang menunggu kereta di peron Stasiun Kediri. Di sekitar kami, beberapa orang berbincang dengan logat Jakarta yang canggung, khas perantau. Sisa-sisa suasana Lebaran masih terasa. Kami menanti Krakatau Ekspres, kereta dengan jalur terpanjang di Indonesia, yang bertolak sekitar pukul tujuh.

Para penumpang memasuki gerbong. Masinis dan kondektur mengenakan seragam terbaik mereka. Fatsi duduk tepat di depan saya. Ketika kereta mulai bergerak, saya membuka obrolan. Sebetulnya basa-basi belaka, agar perjalanan tak sepi-sepi amat.

Hanya segelintir penumpang yang berangkat dari Kediri. Gerbong lengang. Fatsi, remaja yang lugu dan bersemangat, berasal dari muara Sungai Kampar, Riau. Dia merantau seorang diri ke Jawa demi mencari tempat kuliah. “Kemarin ikut ujian masuk negeri tapi gagal,” kenangnya. Kali ini, dia mencoba peruntungan di dua kampus swasta di Yogyakarta. Untuk mendukung upayanya itulah dia mondok selama enam bulan di Pare, sebuah wilayah di Kediri yang dikenal sebagai pusat studi bahasa Inggris.

Kiri-Kanan: Bendera merah putih berkibar di Stasiun Notog, Banyumas; Masinis Agus Arifin (atas) dan Andi Chayo bersiap-siap berganti giliran tugas di Stasiun Madiun, Jawa Timur.

Kereta sunyi. Beberapa penumpang melanjutkan tidur mereka. Perjalanan menaiki sepur sebenarnya masih terasa asing bagi Fatsi. Menetap di daerah pesisir, perempuan muda ini lebih akrab dengan perahu. Riwayat tersebut membentuk persepsinya tentang pengalaman menaiki kereta: bergoyang-goyang bagaikan meluncur dengan speedboat.

Berbeda dari Fatsi, saya mengenal kereta sejak kecil, walau perkenalan pertama saya dengan kereta berakhir buruk: jatuh terjerembap hingga masuk ke kolong kursi akibat entakan keras dari lokomotif yang sedang dirangkaikan. Namun, di tahun-tahun setelahnya, kereta menyisakan begitu banyak kenangan menarik, termasuk saat saya kabur dari sekolah dan mendekati seorang gadis dengan playlist Renee Olstead!

Di Jawa, kereta menyimpan sejarah panjang. Diawali pembukaan jalur kereta api dari Semarang ke Tanggung pada 10 Agustus 1867, kereta berkembang menjadi alat transportasi yang vital bagi pemerintah kolonial. Perlahan, kereta dianggap simbol kemajuan dan penanda dari sebuah zaman baru. Saat itu, di Asia, hanya India dan Hindia Belanda yang mengadopsi teknologi kereta api. Tiongkok dan Jepang baru menyusul kemudian.

Seorang penumpang rehat di gerbong saat kereta meninggalkan Stasiun Pasar Senen, Jakarta.

Dalam bukunya, Rudolf Mrazek menyebut Kartini begitu jatuh cinta pada kereta api. Karena di atas kereta, Kartini bisa bertemu banyak orang, bersentuhan dengan mereka, mendengar banyak berita, menyimak desas-desusdi masyarakat. “Sekarang, kami terbangdengan sebuah badai di atas jalan besi itu,”tulis Kartini dalam sepucuk suratnya.

Sejak saat itu, kereta menjadi saksi dari segala perkembangan, pergolakan, dan perubahan yang terjadi di Jawa. Kereta mengirimkan serdadu Belanda dan memindahkan hasil bumi dari berbagai tempat di Jawa. Kereta juga mengangkut para pejuang kemerdekaan hingga para Bonek yang kelaparan.

“Sebetulnya ayah melarangku naik kereta,” sambung Fatsi. Dalam benak ayahnya, yang pernah merantau ke Jawa, kereta adalah moda yang tidak manusiawi. Penuh copet dan penipu. Panas dan berbau. Bahkan penuh sesak sampai ke atap-atapnya. Di mata ayahnya, kereta bukanlah simbol kemajuan.

Tapi sebetulnya itu gambaran yang agak ketinggalan zaman. Beberapa tahun terakhir, peraturan perkeretaapian diperketat, layanan bagi penumpang diperhatikan. Tidak ada lagi penumpang yang hampir mati kepanasan, karena setiap gerbong telah dilengkapi pendingin ruangan. Setiap pemegang karcis dijamin mendapat jatah kursi. Penumpang gelap diusir. Toiletnya resik, airnya lancar, dan dindingnya yang mengilat tampak rutin dipulas brasso. Di perjalanan, staf kebersihan rutin berpatroli memungut bungkus makanan yang berserakan di kursi-kursi penumpang. Di punggung seragam mereka terbordir tulisan “ON TRIP CLEANING” dalam huruf kapital yang gagah.

Kiri-Kanan: Dua pengayuh becak anggota Paguyuban Becak Stasiun Kediri; Palang pintu kereta dengan latar mural di dekat Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta.

Krakatau Ekspres transit sejenak di Stasiun Kertosono, Nganjuk. Beberapa penumpang naik, termasuk Adit, seorang mahasiswa yang berkuliah di Jogja. Dengan sopan, dia duduk di samping saya. Mahasiswa fakultas hukum ini terlihat sangat serius. Potongan rambutnya rapi, tutur katanya tertata. Di kampusnya, Adit bergabung dengan kelompok yang mengamati, mempelajari, dan menyelenggarakan sidang palsu. Bagi Fatsi, dia seperti tempat berkonsultasi yang pas. Sesaat kemudian Fatsi dan Adit pun terlibat pembicaraan bertema “siasat-menjadi-mahasiswa-di-Jogja.” Saya meninggalkan keduanya dan berjalan-jalan.

Kereta memasuki pemberhentian besar pertama, Stasiun Madiun. Di sini, Krakatau Ekspres singgah sekitar setengah jam. Saya turun dan melihat-lihat salah satu stasiun paling megah di Jawa ini. Bangunan utamanya yang berlanggam kolonial masih terjaga, termasuk atap-atapnya yang terbuat dari baja cor kualitas wahid berusia lebih dari seabad.

Peron tampak sepi. Di ruang tunggu, deretan kursi berlapis kain berwarna mutiara berjajar rapi, seperti yang biasa tampak dalam acara-acara protokoler pejabat. Satu dua petugas stasiun melintas. Tidak ada lagi pedagang asongan yang berlalu lalang. Mereka telah digeser oleh toserba waralaba dan kedai teh yang trendi.

Seorang petugas keamanan mengawasi Krakatau Ekspres di Stasiun Notog, Banyumas.

Saya beringsut ke gerbong saat peluit ditiup. Badai ini, seperti kata Kartini, kembali menyusuri jalan besi. Di sebuah gerbong, sepasang suami istri mengenakan batik dengan motif seragam. Saya mendekat dan berkenalan, seperti penguntit yang mengusik ketenangan. Setelah berbasa-basi—bakat alami saya sejak remaja—obrolan mengalir luwes.

Abu, sang suami, bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi di Jakarta Utara. Leni, istrinya, bekerja di Bogor. Kelar berlibur selama tiga minggu di kampung halaman, pasangan ini kembali ke Ibu Kota. Setiap kali mudik, mereka selalu menggunakan kereta. “Lebih cepat!” Abu beralasan. Kakaknya yang mudik dengan mengendarai mobil, tertahan dalam macet gila-gilaan di Brebes. “Baru nyampe rumah setelah dua hari di jalan.” Di antara jalur darat yang merisaukan dan pesawat yang belum menggapai semua kota sekunder, kereta adalah moda alternatif yang reliabel.

Mata saya menatap Tupperware berwarna-warni. Leni bergerak gesit membuka wadah-wadah di hadapannya. Ternyata isinya bekal makanan yang belum sempat mereka santap. Leni mempersilakan saya mencicipinya. “Sekarang kereta sudah enak, semua penumpang dapat tempat duduk,” kata Abu lagi, “tapi sayangnya enggak ada lagi penjual snack.”

Kiri-Kanan: Pertemuan rel sebelum Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta; Detail atribut jas kondektur Sumaryono.

Dulu, penumpang bisa menebak akurat lokasi stasiun berdasarkan profil pedagang asongannya. Setiap kota memiliki oleh-oleh dan jajanan khasnya. Satu yang paling unik tersaji saat menaiki kereta dari Surabaya menuju wilayah Tapal Kuda dan singgah di Stasiun Klakah, Lumajang. Di sini, selain buah-buahan, para pedagang menjajakan berbagai jenis hewan, sebut saja kupu-kupu, luwak, kelelawar, landak, bahkan kucing hutan.

Pemandangan semacam itu adalah bagian dari pengalaman yang membedakan kereta dari moda transportasi lainnya. Mungkin bisa disejajarkan dengan kekacauan romantis yang berserakan dalam jurnal Paul Theroux saat melintas negeri-negeri di Asia dengan kereta. Namun setelah kereta tampil steril, rapi, dan tertib, pedagang-pedagang raib.

Kereta tak ubahnya alat transportasi lain yang efisien dan membosankan. Kemajuan, dalam aspek tertentu, menghapus romantisme. Dan ada harga yang mesti dibayar untuk itu. Leni mengaku terpaksa mengandalkan bekal, sebab baginya makanan yang dijual di wagon terlampau mahal. Dia menyiapkan seporsi besar nasi dengan lauk pendamping antara lain tempe gembus, beberapa butir telur asin, dan beberapa lembar daging sapi yang diberi bumbu rempah, makanan favorit suaminya. Harum campuran lada dan kemiri menguap. Dagingnya terlihat empuk dalam kubangan saus berwarna cokelat muda.

Krakatau Ekspres melintasi kawasan Kutoarjo, Purworejo.

Saya tinggalkan Abu dan Leni menyantap makanan. Dengan perut keroncongan, saya menuju gerbong kafetaria. Saya menyusuri lorong dengan langkah sempoyongan saat kereta melewati beberapa tikungan. Sesampai di gerbong kafetaria, saya duduk menghadap jendela, lantas memesan segelas kopi hitam dan melongokkan pandangan ke luar. Krakatau Ekspres melewati sawah, hutan, sungai, jeram, perbukitan, dan segala imajinasi panoramik khas Mooi Indie yang dicemooh para pelukis era Sudjojono. Dari kejauhan, saya melihat areal pertanian yang dibabat habis oleh perumahan dan pabrik. Di sisi lain, barisan ekskavator menyasak lahan untuk proyek jalur lintas selatan Jawa. Tak lama lagi, saya membatin, pantai-pantai di selatan akan sama ramainya dengan pesisir utara.

Saya tiba-tiba teringat Gandhi, yang sepulangnya dari Inggris memilih menggunakan sepur untuk berkeliling India. Melalui kereta, Gandhi mengaku melihat “gambaran India yang sesungguhnya.” Kereta adalah alat transportasi tangguh yang menjangkau wilayah-wilayah yang belum tentu terjamah oleh moda transportasi umum lainnya. Di Jawa, keretalah yang menghubungkan dusun-dusun terpencil dengan kota-kota termegah. Di antara keduanya, kita bisa melihat kontras yang bisa saja menarik, atau justru ironis.

Kiri-Kanan: Seorang penumpang mengaji usai menunaikan salat di gerbong Krakatau Ekspres; Tuas untuk melepaskan gerbong.

Seorang pramugara menghidangkan segelas kopi hitam. Saya menyodorkan lima belas ribu rupiah. Seraya menyesap kopi panas, saya mengedarkan pandangan di gerbong kafetaria. Kehidupan di sini begitu semarak. Ada kesibukan, dagelan, dan aroma makanan. Gerbong kafetaria adalah tempat rehat favorit para petugas kebersihan dan aparat keamanan. Bagi saya, inilah pusat kehidupan di Krakatau Ekspres. Motornya adalah lima orang pramugara dan pramugari—pasukan antilapar yang memasok kebutuhan pangan bagi ratusan penumpang.

Diiringi dangdut koplo yang mengalun dari pengeras suara murahan, mereka berjibaku di balik meja bar: menata makanan yang masih hangat, memasukkannya ke kotak styrofoam, lalu mendistribusikannya dengan troli ke delapan gerbong. Putaran pertama dimulai setelah Stasiun Madiun. Kemudian mereka kembali berkeliling setelah kereta singgah di Jogja dan Purwokerto. Piket berakhir di Stasiun Cirebon. “Sampai Cirebon kira-kira pukul sembilan malam, itu tandanya kami close order,” ujar seorang pramugara.