Meninggalkan Asenovgrad, kendaraan meniti jalan berliku di sepanjang Sungai Chepelare. Kami melewati biara-biara Bizantium, sebuah benteng dari abad ke-13, serta begitu banyak marka yang menunjukkan arah ke reruntuhan istana, gereja, juga kuil. Menurut Dimitr, jalan penghubung Balkan dan Yunani ini telah dilalui pengelana selama 3.000 tahun. Seiring waktu, lembah-lembah menyempit dan hutan merekah.

Kala malam tiba, satu-satunya cahaya berasal dari lampu-lampu mobil yang kebetulan lewat. Negeri ini didominasi pedesaan. Sekilas tampak melarat. Muka-muka sayu berkeliaran. Bulgaria adalah tempat bagi bangunan bobrok, juga bagi gerobak kuda dan keledai berseliweran, termasuk di Sofia, Ibu Kota Bulgaria. Di banyak tempat lain di Eropa, pemandangan lesu semacam itu telah lama dihapuskan oleh kemakmuran.

Tapi itu semua bukanlah jati diri Bulgaria sebenarnya. Kemiskinan adalah pengingkaran akan  sejarah, alam, dan budayanya yang kaya. Negara yang merdeka dari cengkeraman Kesultanan Ottoman pada 1908 ini mengoleksi gereja-gereja agung, kota-kota tua yang menyimpan kisah-kisah perang, masjid megah bergaya Turki, sinagog berarsitektur Beaux-Arts, juga gunung-gunung berlapis hutan yang ditinggali beruang, serigala, babi hutan, serta elang.

Pantai-pantai yang membingkai Laut Hitam juga menawan, kendati banyak resor di sini dibangun di bawah panji Pax Sovietica. Meminjam slogan pemasaran negeri tetangganya, Montenegro, Bulgaria bagaikan manifestasi dari “kecantikan yang liar.” Sebuah kombinasi antara wajah Eropa tua dan kepolosan Eropa lama.

Villa Gella, opsi penginapan dengan fasilitas mumpuni.

Dua jam kemudian, kekecewaan karena gagal memasuki Buzludzha mulai terobati. Kami memasuki lahan parkir milik Villa Gella, sebuah oasis mewah yang langka di kawasan rural Bulgaria. Saat pedalaman negeri dilingkupi kegelapan, Villa Gella adalah satu dari sedikit tempat yang terus menyala. Eksteriornya tampak tradisional, tapi interiornya berkilau oleh perabotan modern, benda seni lokal dan asing, perapian yang terus berkeritik, serta enam kamar berdesain distingtif. Ruang publiknya nyaman untuk bercengkerama, baik di perpustakaan, ruang tamu, teras, bahkan sauna dan kolam renang yang terletak di sisi bawah bangunan lima lantai ini. Bertengger di lereng curam, pondokan ini juga menghadirkan panorama di sekitarnya, termasuk Pegunungan Rhodope yang mengular di sepanjang perbatasan lama antara negeri Tirai Besi ini dengan Yunani. Saat cuaca cerah, Perelik, gunung tertinggi di Rhodope, juga bisa terlihat.

Kiri-kanan: Kolam renang indoor di Villa Gella; Villa Gella, properti yang bertengger di ketinggian 1.700 meter di Pegunungan Rhodope.

Selain Villa Gella, alasan kedatangan saya lainnya adalah Kukeri, festival yang berakar pada tradisi pagan di masa lalu. Kukeri dirayakan di seantero Bulgaria, tapi perayaan paling tradisional tersaji di Desa Shiroka Laka, sekitar 10 menit berkendara dari Villa Gella. Dari foto-foto yang beredar, festival menyambut musim semi ini menyuguhkan penari dalam kostum absurd, kaum pria yang berdandan seperti perempuan buruk rupa, serta perempuan yang berdandan seperti pendeta urakan. Semua orang berjalan beriringan dalam parade akbar yang memandang datang dan perginya sebuah musim layaknya siklus kematian dan kelahiran.

Tapi acara itu masih dua hari lagi. Malam ini, agenda saya adalah pesta makan dan minum. Kedua pemilik properti, Dimka dan Ivan, memiliki kebun-kebun anggur yang memproduksi wine organik Terra Tangra. Sewaktu di Sofia, saya sempat menyeruput rosé wine buatan mereka, dan kini tak sabar mencicipi kreasi lainnya. >>