Andaz Xiamen, hotel baru yang didesain oleh JID, firma yang didirikan Jaya Ibrahim. (Foto: Derryck Menere/Hyatt)

Bulan ini, Andaz Xiamen resmi beroperasi. Terinspirasi rumah vernakular khas Nanyang, hotel ini memadukan dengan apik elemen modern dan tradisional. Satu fakta yang juga menarik, hotel ini dirancang oleh JID, firma yang didirikan oleh pria asal Yogyakarta—Jaya Ibrahim.

Dalam disiplin konstruksi hotel, arsitek dan desainer interior Indonesia punya reputasi yang cukup dihormati. Segelintir dari mereka sukses menggaet klien hotel waralaba, termasuk menggarap properti di luar negeri. Beberapa yang fokus ke pasar domestik, sukses memberi warna baru dalam desain, lewat sentuhan khazanah alam dan budaya lokal. Berikut sebagian kreasi mereka:  

Rumah Luwih, hotel di Gianyar yang dirancang Hadiprana. (Foto: Putu Sayoga)

1. Rumah Luwih, Gianyar
Hotel ini bersemayam di bibir Pantai Lebih (“luwih” artinya “lebih”), sekitar 30 menit dari Sanur. Perancangnya adalah Hadiprana, biro arsitektur yang didirikan oleh Hendra Hadiprana.

Khas Hadiprana, Rumah Luwih diperkaya nuansa Indonesia. Bangunannya berbentuk rumah gedongan yang berdiri anggun menatap laut. Interiornya merayakan keglamoran masa silam melalui kandil megah, lantai teraso, plafon sarat relief, serta taburan vas dan mebel kayu jati.

Tanah Gajah, bekas rumah liburan Hendra Hadiprana di Ubud. (Foto: Kar-Wai Wesley/Tanah Gajah)

Tentu saja, Rumah Luwih bukan karya Hadiprana satu-satunya. Dirintis pada 1958, biro ini pernah menangani begitu banyak properti, contohnya InterContinental Bali dan Royal Tulip Gunung Geulis. Sentuhan personal sang arsitek tersaji lebih kental di resor Tanah Gajah Ubud, bekas rumah retret Hendra Hadiprana.

Kolam renang di atap Ize Seminyak, hasil kreasi Studio TonTon. (Foto: Ize Seminyak)

2. Ize Seminyak
Hotel trendi di Jalan Kayu Aya, Ize memadukan arsitektur tropis dan estetika Skandinavia. Dari eksterior hingga interiornya, dinding beton bertemu mebel minimalis dan ornamen biru. Udara dan cahaya masuk lewat celah-celah panel yang dirakit bak gedek futuristik.

Studio TonTon berada di balik eksperimen itu. Firma ini dipimpin oleh Antony Liu dan Ferry Ridwan—dua bakat lokal yang gemar memberi tafsir berani pada aliran desain tropis. Satu keahliannya yang menonjol: memberi efek lapang memakai teknik manipulasi cahaya.

Kiri-Kanan: Kapel Infinity di Conrad Bali. (Foto: Pandu Adnyana/Conrad); Tangga di jantung Artotel Sanur. (Foto: Putu Sayoga)

Hotel lain yang menyimpan ciri khas Studio TonTon ialah Artotel Sanur, Le Meridien Jimbaran, The Bale Nusa Dua, serta Kosenda Jakarta. Di luar hotel, satu kreasi yang ikonis ialah kapel Infinity di Conrad Bali. Desainnya menciptakan tren rumah pernikahan transparan di Bali. 

Kamar di Morrissey, hotel yang didesain oleh firma Aboday. (Foto: Morrissey)

3. Morrissey, Jakarta
Walau dibuka sebelum Instagram ditemukan, Morrissey seolah dirancang untuk memuaskan hasrat memotret. Dari lobinya yang eksentrik, ruang hijau di jantungnya, hingga kolam renang di atapnya, hotel ini menyuguhkan komposisi visual yang atraktif.

Morrissey beralamat di Menteng. Hotel ini populer untuk durasi menginap jangka panjang. Kamarnya mirip apartemen studio. Ruang penatu disediakan. Menghibur para penghuni, patung anjing aneka pose disebar di kamar-kamarnya.

Area kongko di Artotel Thamrin, hotel artistik rancangan Aboday. (Foto: Artotel Thamrin)

Desainnya yang progresif tak cuma menggiurkan bagi tamu. Pada 2012, IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) Jakarta Awards memberi trofi terbaik kepada arsiteknya, Aboday, firma asuhan Rafael David dan Ary Indra. Hotel lain yang dirancang Aboday ialah Artotel Thamrin, penginapan artistik di Jakarta. 

Kiri-Kanan: Perpustakaan di U Janevalla; Desain melenggok U Janevalla terinspirasi dari tari Jaipong. (Foto: Evelyn Pritt/U Janevalla)

4. U Janevalla Bandung
Sang arsitek, Budi Pradono, menamainya “dancing hotel.” Bentuknya memang mirip tubuh yang sedang menari, dengan kaki, pinggul, dan pundak melenggok. Konsep unik ini dihasilkan dari interpretasi atas tarian Jaipong khas Sunda—pilihan yang juga merefleksikan lokasi hotel di Bandung.

Dalam tubuh asimetris 10 lantai, U Janevalla menaungi 119 kamar, plus restoran, perpustakaan, serta kolam renang di atapnya. Hotel bintang empat ini diresmikan pada April 2018. Alamatnya di Jalan Aceh, tak jauh dari mal legendaris Bandung Indah Plaza.

The Hermitage, hotel rancangan Jasin Tedjasukmana, menghuni gedung bersejarah. (Foto: The Hermitage)

5. The Hermitage, Jakarta
Jasin Tedjasukmana adalah salah satu alasan Universitas Parahyangan Bandung dijuluki pabrik arsitek andal. KIAT, firma miliknya, telah menyabet beragam penghargaan, termasuk Aga Khan Award. Portofolionya berisi rumah-rumah duta besar, gedung pemerintahan, hingga hotel.

Salah satu kreasi terbaik Jasin ialah The Hermitage. Hotel ini menghuni struktur sepuh bekas kampus dan kantor presiden pertama RI. Dalam fasad Art Deco, The Hermitage menaungi 90 kamar yang ditaburi mebel antik dan memorabilia. Pada 2015, hotel ini mengantarkan KIAT menyabet IAI Jakarta Awards.

Alila Manggis, salah satu proyek yang melibatkan Jasin Tedjasukmana. (Foto: Alila Manggis)

Hingga 2020, Jasin total telah terlibat dalam 10 proyek penginapan, sebagian bermitra dengan firma asing. Beberapa karya emasnya ialah The Dharmawangsa Jakarta, Alila Manggis, serta Alila Ubud.

Katamama, hotel bertubuh bata yang didesain oleh arsitek prolifik Andra Matin. (Foto: Katamama)

6. Katamama, Seminyak
Arsitek prolifik Andra Matin meninggalkan banyak jejak fenomenal, contohnya Salihara, Aquatic Center GBK, serta Bandara Blimbingsari Banyuwangi. Khusus sektor hotel, hanya ada satu kreasinya: Katamama

Hotel ini berlokasi di Seminyak, bertetangga dengan Potato Head Beach Club yang juga dirancang Andra Matin. Struktur utamanya dirakit dari 1,5 juta keping bata merah asal Tabanan. Tampilan monolitik ini sekilas mengingatkan pada kompleks Candi Muarajambi.

Barisan pembungkus teras kamar di Maya Sanur, resor rancangan arsitek senior Budiman Hendropurnomo. (Foto: Alex Soh/Maya Sanur)

7. Maya Sanur
Saat dibuka pada 2015, Maya Sanur langsung menyita perhatian berkat desainnya yang eklektik. Selain mengadopsi karakter tradisional Bali, elemen yang memang “wajib” di Sanur, resor ini memetik inspirasinya dari beragam khazanah. 

Sebagian bangunannya dicetak berjenjang dengan gaya brutalist. Beberapa kamar dilengkapi teras yang dibungkus brongsong raksasa. Sementara di tepi pantai berdiri Tree Bar yang—sesuai namanya—terinspirasi rumah pohon. Semua ini ditata apik di lanskap berbentuk bukit yang digerayangi tanaman.

Serambi area kongko Agra di Alila Solo, hotel yang didesain Budiman Hendropurnomo. (Foto: Alila Solo)

Otak di balik racikan semarak itu ialah Budiman Hendropurnomo, bagian dari firma Denton Corker Marshall. Budiman adalah arsitek dengan portofolio tebal. Khusus penginapan, kreasinya antara lain Tugu Malang, Anantara Uluwatu, Doubletree Jakarta, serta Alila Solo.

Interior The Dharmawangsa ditangani oleh Jaya Ibrahim, maestro di bidang desain interior. (Foto: The Dharmawangsa)

8. The Dharmawangsa, Jakarta
Hingga kepergiannya, Jaya Ibrahim, anak dari putri keraton Yogya dan diplomat Sumatera, terus menjadi enigma. Akan tetapi, di dunia desain, pamornya tak menyisakan pertanyaan.  

Dekat dengan Adrian Zecha, pendiri Aman Resorts, Jaya Ibrahim pernah terlibat dalam proyek Amanfayun dan Aman Summer Palace. Kreasi yang juga prominen ialah The Chedi Muscat, The Setai Miami, serta The Nam Hai (kini Four Seasons Hoi An).

The Nam Hai (kini Four Seasons), proyek yang melibatkan JID, firma milik Jaya Ibrahim. (Foto: Four Seasons Resorts)

Di Indonesia, Jaya Ibrahim menangani interior The Dharmawangsa, hotel ikonis Jakarta. Dia mengusung tafsir kontemporer atas citra glamor rasa Nusantara. Sang desainer juga sempat merancang propertinya sendiri—The Jaya Lombok. Resor ini dicanangkan menerima tamu mulai 2020, tapi laman reservasinya belum dibuka.