Candi Tinggi diambil dengan teknik fotografi landskap.

Oleh Fatris MF
Foto oleh Muhammad Fadli

Dari tepian Batanghari, perahu-perahu terlihat kecil bagai lalat di atas punggung naga. Tongkang-tongkang penambang pasir mengepulkan asap kelabu ke langit sejak fajar bangkit. Sementara di tubir sungai, rumah-rumah panggung berdiri di atas tiang-tiang penyangga dari kayu. Atapnya genting tembikar kusam, senada dengan permukaan Batanghari yang keruh.

Pagi tampaknya tidak dimulai dengan tergesa-gesa di sini. Kami menumpang getek dengan mesin berbahan bakar solar yang bunyinya memekakkan telinga. “Kenapa mesinnya berisik sekali, pak?” tanya saya pada Arif sang nakhoda. “Ha!?” jawabnya. Selalu begitu setiap kali saya bertanya. Mesin getek membuat kami diam dalam angan masing-masing. Setiap kata yang keluar ditelan bulat-bulat oleh deru mesin.

Perahu kecil bermesin tempel merayap pelan mengikuti arus Batanghari, meninggalkan kota Jambi, menuju hilir. Kadang, kami melewati jembatan yang panjang tempat truk-truk dengan bak besar sarat muatan sawit melintas. Sawit telah mengubah Jambi dari kota tertinggal menjadi kota kaya di tengah Sumatera, sebagaimana karet pada periode Hindia Belanda menyulap Kesultanan Jambi yang papa menjadi imperium makmur.

Berjarak 30 kilometer dari kota Jambi, di tanah seluas 20 kilometer persegi, terdapat sebuah kompleks situs bernama Muarajambi, rumah bagi bangunan-bangunan suci yang konon berasal dari abad ketujuh, warisan Kerajaan Melayu Kuno yang pernah jaya. Kompleks ini selama berabad-abad tenggelam ditimbun tanah dan ditutup hutan. Tapi dunia belum melupakannya. Pada abad ke-20, para arkeolog menemukan Muarajambi. Ke sanalah kami meluncur.

Kiri-kanan: Gerbang Candi Gedong II yang rapi; jalanan sepi menuju kompleks candi.

Beberapa penambang batu bara berskala kecil beroperasi di tepian Batanghari. Emas hitam itu tak lagi sepopuler di abad ke-19, namun sejumlah orang masih mengekstraknya. Sementara tambang emas dengan mesin pengeruk seadanya juga beberapa kali kami temukan terserak di pesisir sungai. Dari dasar Batanghari, pasir-pasir diangkat, disaring, lalu diperiksa dengan penuh kejelian dan kecemasan. Pada serpihan kemilau di tengah butiran hitam itu, ribuan keluarga menggantungkan hidup, ribuan nyawa menyandarkan harapan.

Masa kejayaan emas juga telah lama berlalu. Sejak abad ke-16, dari muara sungai besar itu hingga nun ratusan kilometer ke arah hulu di pedalaman Minangkabau, penduduk lokal mengeruk logam mulia. Bahkan, kerajaan-kerajaan patah tumbuh dan hilang-berganti di tanah Melayu berdasarkan fluktuasi kejayaan emas. Sumatera memang pulau emas—Swarnadwipa.

Getek yang kami tumpangi merapat tidak sampai sejam kemudian. Mesin tempel yang meraung-raung kini sunyi-senyap. Hutan hujan tropis terkangkang di hadapan. Pohon-pohon tinggi hijau memayungi tanah. Dalam bisu, Candi Tinggi menyambut kami. Bangunan yang terbuat dari batu bata kuning ini dikelilingi pohon-pohon besar yang rampak dan rindang. Candi Tinggi berbentuk persegi empat dengan tiga lapis anak tangga.

Tiga meter ke arah selatan, terdapat bangunan lain yang diperkirakan sebagai pendopo atau aula, ruangan tanpa dinding berukuran 40 meter persegi yang terdiri dari tiga atau empat lapis susunan bata. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Kota Jambi menyebutkan, di beberapa reruntuhan aula ini, pernah ditemukan benda-benda berbahan emas dan batu mulia. Lagi-lagi emas.

Kiri-kanan: Candi Gumpung tampak dari depan; pohon-pohon tinggi yang mengelilingi situs Candi Muarajambi.

Riwayat apakah gerangan yang hendak diungkapkan oleh candi-candi itu kepada kami? Catatan dari Song, dinasti yang berkuasa di daratan Tiongkok pada abad ke-10 hingga 13, menyebutnya Zhanbei. Catatan yang sama kadang menyebutnya San-bo-Zhai. Para sejarawan abad modern menerjemahkannya sebagai Jambi. Kota pelabuhan yang sempat penting. Kota pelabuhan utama Kerajaan Melayu Kuno yang pernah makmur.

Penduduk kota itu, menurut catatan Tiongkok tadi, sebagaimana dihimpun W. P. Groeneveldt dalam buku Nusantara dalam Catatan Tionghoa, memproduksi arak dari bunga, kelapa, pinang, atau madu. Mereka juga meracik musik dengan mengentakkan kaki ke tanah seraya bernyanyi. Dan mereka mengerek kota yang dikelilingi benteng bertubuh batu bata. Penduduk tinggal bertebaran di luar kota dan tidak membayar pajak.

Jambi di masa lalu berada dalam rute pelayaran yang sibuk antara Tiongkok dan India. Kota pelabuhan ini memainkan peran signifikan dalam perdagangan maritim kuno. Babad Dinasti Tang, yang memerintah pada abad ketujuh di Tiongkok, menyebutkan, selama abad ketujuh dan sembilan, Jambi mengirim utusan ke Tiongkok berulang kali. Duta dari Tiongkok juga beberapa kali berkunjung. Keduanya saling mengirimkan upeti dan hadiah. I-Tsing, pengelana Tiongkok, mencatat, pelabuhan Jambi ramai oleh kapal-kapal niaga.

Para peziarah Tiongkok yang hendak ke India, maupun sebaliknya, menghabiskan waktu yang panjang untuk singgah menunggu musim pelayaran di Jambi, kota pesisir yang terlindung dari pusaran arus samudra. Pusat-pusat studi agama Buddha kemudian berkembang di sana.

Sejumlah sumber mengklaim, Muarajambi merupakan kompleks perguruan yang dihuni ribuan cantrik (murid) dari berbagai negeri. Alhasil, terbangunlah sebuah jaringan kultural yang melintasi sejumlah kawasan: Tiongkok, kota-kota di semenanjung Asia Tenggara seperti Kamboja dan Campa, serta kota-kota di tanah Melayu seperti Palembang dan Jambi. Sebuah jaringan luas yang berakhir di India.

Jaringan yang dirintis para saudagar, peziarah, dan cantrik abad ketujuh itu masih dikenang. Sebuah pohon bodhi ditanam biksu Tibet yang berkunjung ke Muarajambi beberapa tahun silam. Di kakinya, kami duduk dan melepas dahaga. “Bayangkan, mereka membawa oleh-oleh ke sini,” ujar Haviz, pemandu kami. Oleh-oleh itu bernilai suci, inkarnasi pohon sakral tempat Sang Buddha Gautama memperoleh pencerahan. Sekarang, pohon itu menjulang tinggi. Sukar untuk sekadar melihat pucuknya.

Di hari berikutnya, kami melanjutkan ziarah ke Candi Gumpung, 200 meter dari Candi Tinggi. Bangunan yang terlihat seperti gapura setinggi enam meter ini menghadap ke timur, ke arah matahari muncul. “Puti Pinang Masak yang membangunnya,” kata seorang gadis.

Kiri-kanan: Candi Tinggi di kompleks Candi Muarajambi; Candi Gumpung tampak dari depan.

Dari Candi Gumpung, ada jalan kecil menuju Candi Gedong. Jalan kecil ini dihubungkan oleh jembatan yang melintasi kanal kecil. Candi Gedong bagai batu bata yang ditumpuk hampir tak berbentuk di bawah pohon-pohon besar. Lumut membalut di sana-sini. Hanya gerbangnya yang terlihat utuh menghadap ke arah saya—yang tanpa sadar sebenarnya sedang berdiri di atas sebuah candi.

Susah membedakan antara candi dan tanah. Sebagian reruntuhan belum dipugar sepenuhnya, terbengkalai dalam wujud onggokan batu bata yang rata-rata menghadap ke timur, dan dijaga kawanan nyamuk yang berkeliaran nakal. Dokumentasi UNESCO pada 2009 menyebutkan, Muarajambi mengoleksi 82 situs yang membentang sejauh 7,5 kilometer di tepian Sungai Batanghari. Beberapa ekskavasi setelah itu berhasil menemukan dua situs baru.

Di mana Puti Pinang Masak? Betulkah putri itu, yang dalam bahasa Melayu dilafalkan “puti”, membangun candi-candi di sini? Mungkinkah dia tokoh yang membeku dalam mitos Batanghari?

Puti Selaro Pinang Masak adalah penguasa Jambi sebelum Islam datang. Seorang ratu dari tanah Melayu, suku yang lebih dikenal sebagai penganut patriarkat. Lalu, pada abad ke-14, tersebutlah nama Ahmad Salim yang berlayar dari Turki (sebagian menyebutnya dari Persia) bersama beberapa anak semang. Ia hendak berdagang ke Selat Malaka yang terkenal sebagai tempat bermuaranya para pedagang dari penjuru bumi. Tanpa pengalaman yang mumpuni untuk mengarungi lautan, ia hampir terperangkap di Laut Cina Selatan yang dipenuhi perompak, hingga akhirnya tersesat di salah satu pulau di pesisir timur Jambi yang merupakan daerah kekuasaan Puti Selaro Pinang Masak. Puti cantik yang kulitnya putih kekuning-kuningan bagai pinang masak.

Pemandu kami melanjutkan ceritanya. Puti hendak melumpuhkan sekelompok orang yang tersesat itu, tapi niatnya diurungkan berhubung mereka datang tanpa senjata, tanpa niat invasi. Akhirnya Puti menjumpai mereka. Waktu membuat mereka saling jatuh cinta. Ahmad Salim, yang menganut Islam, diterima oleh Puti sebagai pendamping hidup. Secara perlahan, ajaran Buddha meredup. Puti hidup dalam keyakinan baru. Dan sesuai adat Melayu, lelaki bila sudah dewasa mesti diberi gelar. Maka Ahmad Salim dipanggil Datuk Paduko Berhalo. Gelar yang kemudian dijadikan nama pulau tempat ia terdampar: Pulau Berhala.

“Datuk itu hanya hidup dalam mitos, juga Puti Selaro Pinang Masak,” jelas Nurul Fahmi, pemerhati sejarah Jambi, ketika kami duduk di tepi sebuah telaga suci. Menurutnya, cerita itu bertentangan dengan data sejarah. “Kelemahan dari sejarah Jambi, tidak adanya bukti tertulis yang ditemukan,” ujar Kristianto yang bekerja sebagai pemugar candi. Misteri apa sebetulnya yang tersimpan di abad-abad yang tak tercatat itu?

Di Muarajambi terdapat sebuah pusat informasi yang sekaligus berfungsi sebagai museum kecil. Ketika kami masuk, ada arca Dwarapala yang bertampang ramah layaknya resepsionis. Arca batu setinggi orang dewasa itu tersenyum, terlihat lucu dan jenaka, walau pada wajahnya tumbuh misai yang lebat. Tangan kanannya memegang tameng, yang kiri memegang sesuatu yang telah patah. “Itu gada,” ujar penjaga.

“Tapi kenapa telinganya sumbing dan pecah?” tanya saya. Menurut pemugar candi, lokasi penemuan arca ini terpisah jauh dari penemuan kepingan telinganya yang telah sumbing. “Saya tidak tahu pasti,” kata penjaga, setengah berbisik. “Kata orang, mungkin penganut Islam fanatik di masa lalu telah memenggalnya, karena menganggapnya sebagai berhala. Tapi, kemungkinan itu kecil sekali.”

Puing-puing Candi Koto Mahligai yang dimakan alam.

Di pojok museum ada arca Prajnaparamita yang sani, namun tidak berkepala. Ia duduk bersila seperti sedang mempraktikkan ritual. Kepalanya telah raib, senasib dengan arca Gajah yang seperti dibelah dengan sengaja. Apa gerangan permusuhan yang terjadi dulu, itu pun jika memang benar ada permusuhan. Merujuk cerita, Ahmad Salim si penyebar Islam datang tanpa senjata.

Berbeda dari candi di Jawa, candi-candi di Sumatera hampir seluruhnya menggunakan batu bata sebagai bahan struktur utama. Itulah sebabnya mereka kewalahan bertahan menghadapi putaran zaman. Mayoritas rusak digerinda alam. Sulit menemukan candi di Muarajambi yang utuh. Candi Astano pun sumbing di sana-sini. Narasi riwayatnya somplak, hingga spekulasi-spekulasi berletusan tanpa kepastian. Tapi, tidakkah sejarah kerap terjebak dalam ketidakpastian?

Di depan Candi Astano, kanal jernih mengalir. Kami menaiki perahu kecil yang tersadai di pinggirnya, lalu melakoni tur melankolis layaknya bergondola di Venesia. Kami mendayung melewati pohon-pohon, membayangkan perjalanan suci para peziarah Buddha ke kawasan ini. Hidup terasa begitu seimbang. Di balik sana, Candi Teluk terletak di Desa Kemingkin, terpisah jauh dari kolega-koleganya di Muarajambi. Candi itu berebut wilayah dengan pabrik pengolahan kayu yang berdiri persis di lokasi yang sama.

Waktu bagai daun kering yang dengan gamang lepas dari tampuknya. Sore sudah datang lagi, sore keempat kami di Muarajambi. Dengan mobil, kami berangkat menuju kota Jambi yang tampak gemerlap dilihat dari Batanghari. Gedung-gedung terus menyeruak, mal tumbuh saban tahun. Perkembangan yang dibiayai oleh dua komoditas yang laris di pasar global: sawit dan karet.

Musik bernada janggal dari tempat-tempat hiburan di sepanjang jalan kota berdentum menusuk dada. Cahaya-cahaya lampu berkilauan. Saya, seperti arca Prajnaparamita yang tak berkepala, merasa sendirian dikebat sepi.

PANDUAN
Rute
Jakarta-Jambi dilayani antara lain oleh Garuda Indonesia  dan Lion Air. Dari pusat kota, kompleks Muarajambi bisa diakses dengan kendaraan sewaan selama 30 menit. Opsi lain adalah mengarungi Sungai Batanghari dengan perahu sewaan yang mangkal di sekitar Dermaga Pasar Angso Duo (Rp200.000-350.000 pp). Datang di musim hujan, saat debit air melimpah di sekitar candi, pengunjung bisa mengarungi jaringan kanal-kanal berusia belasan abad menggunakan perahu.

Penginapan
Karena penginapan yang memadai di sekitar Muarajambi belum tersedia, pengun-jung sebaiknya menginap di pusat kota. Abadi Suite Hotel & Tower (Jl. Prof. H.M.O Bafadhal No. 111; 0741/7555-800; abadisuite.co.id; doubles mulai dari Rp817.355) menyediakan 124 suite yang sebagian menghadap Sungai Batanghari. Dulu bernama Novotel, Novita Hotel (Jl. Gatot Subroto No. 44; 0741/27208; novitahotel.com; doubles mulai dari Rp700.000) terletak di pusat kota dan menawarkan akses mudah untuk menjelajahi kota.