Fasad CoBrA Museum.

CoBrA Museum
CoBrA adalah gerakan seni avant-garde yang tumbuh pasca-Perang Dunia II. Pencetusnya seniman-seniman muda progresif asal Copenhagen, Brussels, dan Amsterdam—tiga kota yang kemudian disingkat menjadi CoBrA.

CoBrA Museum menempati bangunan bata yang bersemayam di luar pusat kota. Karya-karya CoBrA di sini umumnya berisi figur-figur yang terdistorsi, komposisi yang semi-abstrak, serta goresan kuas yang emosional. Karya-karya mereka seperti bersemayam di antara estetika yang menakutkan dan horor yang memikat. Para penggiat gerakan ini kerap menggali kegelisahan anak-anak, penderitaan kaum difabel, serta benda-benda mitologi dari seni tribal.

CoBrA tumbuh dari kegerahan perupa muda terhadap sikap kaku lembaga-lembaga seni. Di Belanda, tiga motor gerakan ini—Karel Appel, Corneille, dan Constant Nieuwenhuys—menginginkan seni membawa perubahan riil di masyarakat, bukan sekadar benda dekorasi yang komersial. Di Indonesia, CoBrA mungkin bisa disejajarkan dengan Gerakan Seni Rupa Baru yang dicetuskan 41 tahun silam. Selain memajang karya-karya permanen, CoBrA Museum rutin menggelar pameran temporer yang mengajak perupa generasi sekarang untuk memberikan tafsir dan konteks segar pada karya-karya lawas CoBrA. cobra-museum.nl.