Kiri-kanan: Tegel bermotif batik kreasi pelukis Donald Friend di bungalo nomor delapan di Tandjung Sari; seorang staf Tandjung Sari melintas di samping bungalo nomor delapan yang pernah diinapi David Bowie.

“Hotel saya adalah ruang duduk saya, dan tamu saya adalah sahabat saya,” begitu moto Hotel Tandjung Sari yang diwariskan dari sang pendiri, Wija Wawo-Runtu. Terdengar seperti slogan pemasaran memang, kecuali jika kita membuka riwayatnya. Berbeda dari banyak hotel lain, Tandjung Sari merupakan buah evolusi dari rumah pribadi menjadi penginapan.

Khas hotel senior di Sanur, Tandjung Sari tekun merawat masa silamnya. Menelusurinya serasa sedang keluyuran di sebuah banjar. Kompleks guyub ini mengoleksi 29 bungalo yang terkoneksi oleh gang berlumut yang dinaungi pohon kamboja dan diselipi pelinggih. Sebagaimana sebuah banjar pula, ia tumbuh “organik.” Banyak bangunan terlihat asimetris lantaran beradaptasi dengan posisi pohon di sekitarnya.

Kisah Tandjung Sari bermula saat pasangan Wija dan Judith kerap melawat Bali untuk berburu barang antik. Keduanya awalnya kerap menumpang di rumah Jimmy Pandy, seorang pemilik galeri. Setelah bisnisnya mulai mapan, Wija mendirikan sebuah rumah pada 1962, tak jauh dari kediaman Pandy. Rumah inilah yang kemudian bertransformasi jadi hotel. Wija rutin kedatangan tamu, terutama diplomat dan sosialita penggemar barang antik. Berhubung mereka kerap bermalam, Wija lama-kelamaan mesti membangun rumah tambahan. Tanpa disadari, sayap baru itu terus bertambah hingga sebuah hotel butik pun tercipta.

Kiri-kanan: Seorang staf kebersihan di teras salah satu bungalo di Tandjung Sari, penginapan yang dirintis pada 1962 oleh pasangan Wija dan Judith Wawo-Runtu; Aviadi Purnomo, General Manager Tandjung Sari yang juga menantu Wija Wawo-Runtu.

Pada masa awal beroperasi, tiap rumah disewakan dengan tarif Rp2.000 per malam, seperti yang tertera pada kuitansi bertitimangsa 1963 dengan kop bertuliskan “Tandjung Sari Beach Bungalows.” Waktu itu pula, sarapan ditawarkan seharga Rp1.000, sementara makan siang dan makan malam Rp750.

Bermula dari rumah, Tandjung Sari setia menjaga karakternya yang “rumahan.” Seluruh karyawannya tidak menyematkan name tag di dada, karena ini bukan praktik yang lumrah di rumah. Banyak bungalonya telah direnovasi, tapi identitas aslinya dirawat. Bantal-bantalnya dibungkus sarung batik. Ruang duduknya diterangi lampu kerek. Lantainya dilapisi tegel bermotif batik. “Tiap bungalo juga tidak dilengkapi televisi,” tambah Aviadi Purnomo, General Manager, saat memperlihatkan bungalo yang pernah dihuni David Bowie.

Perjalanan hotel ini telah direkam dalam Tandjung Sari: A Magical Door to Bali, buku yang diterbitkan dalam rangka ulang tahun emasnya. Hotel rancak ini memang patut didokumentasikan. Meski riwayatnya rendah hati, Tandjung Sari memberi sumbangsih besar dalam disiplin desain hotel. Aviadi, yang juga menantu Wija, bercerita bagaimana hotel ini mencomot inspirasi desainnya dari banyak kutub. Salah satu inovasinya yang revolusioner ialah outdoor shower, kombinasi antara fitur impor dan konsep pancuran komunal di desa.

Berkat desainnya yang eklektik itu pula, Tandjung Sari sering dijadikan referensi oleh perancang hotel. Arsitek tersohor asal Sri Lanka, Geoffrey Bawa, pernah singgah dan berkolaborasi untuk menghasilkan desain resor tropis yang kemudian menjadi ciri khasnya.

Halaman Tandjung Sari yang dipenuhi pepohonan rimbun.

Tandjung Sari, bersama para tetangganya di selatan Bali, mewakili generasi penginapan yang lahir di masa Orde Lama. Pada 1956, tulis Adrian Vickers dalam Bali Rebuilds Its Tourist Industry, Bali mengoleksi 40 penginapan berbentuk losmen, hotel, dan pesanggrahan. Mereka terkonsentrasi dari Ubud menuju kawasan selatan.

Nasib berbeda dialami belahan utara Bali. Industri perhotelan merayap lamban. Vickers mencatat sekitar selusin hotel dan losmen di Singaraja, beberapa dimiliki muslim pendatang yang sepertinya melayani perantau asal Jawa Timur. Satu-satunya hotel senior di utara yang masih bertahan hingga kini barangkali hanya Handara Golf Resort di Bedugul.

Handara dibuka pada 1976. Pendirinya, Ibnu Sutowo, adalah figur berpengaruh yang tumbuh dalam payung Dwifungsi ABRI. Dia meresmikan Handara di tahun yang sama dengan pengunduran dirinya dari jabatan Direktur Utama Pertamina. Dalam autobiografinya, Saatnya Saya Bercerita!, sang kolonel mengaku mengenal golf dari Jenderal Achmad Yani.

Kiri-kanan: Suasana pagi di Handara Golf Resort, properti yang bersemayam di antara Danau Beratan dan Danau Buyan; interior vila yang dilengkapi perapian kayu bakar di Handara Golf Resort, properti yang dibuka pada 1976 oleh Ibnu Sutowo.

Handara bersemayam di antara Danau Beratan dan Danau Buyan. Panoramanya mengagumkan. Atmosfernya sejuk, terutama saat kabut merayap turun. Suatu kali, saat berjalan-jalan di padang golf, saya mendapati seekor ayam hutan berkeliaran di dekat tee box.

Sebagian pondoknya telah direnovasi. Di pondok saya, seluruh mebel dipelitur ulang, walau banyak barang sebenarnya masih warisan lama, termasuk kursi besi berukir, handuk putih yang kasar, dan lampu meja yang tak lagi menyala. Sekilas mirip properti dalam film-film arahan Arifin C. Noer. Berhubung udara di luar senantiasa dingin, AC tidak tersedia. Alih- alih, kamar dilengkapi penghangat pijar.

Di pagi hari, saya sempat memasuki pondok termewah yang sedang dibersihkan. Bentuknya chalet dengan cerobong asap. Lantainya parket kayu. Nuansa countryside Eropa terasa kental di interiornya. Saya pun mulai membayangkan pemandangan dari film-film klasik: seorang jenderal Dunia Ketiga tengah mengisap cerutu Kuba di muka perapian kayu bakar. Di hotel- hotel tua, imaji dari masa lalu sepertinya tak pernah benar-benar berlalu.

Panduan
Hotel pertama di Bali, Inna Bali Heritage (Denpasar; innabaliheritagehotel.com; mulai dari Rp300.000), menawarkan kamar-kamar bergaya asrama. Di Sanur ada Grand Inna Bali Beach (Sanur; grandinnabalibeach.com; mulai dari Rp611.000), hotel bintang lima pertama di Bali. Tetangganya, Segara Village (Sanur; segaravillage.com; mulai dari Rp2.000.000), menaungi 125 kamar. Sekitar 15 menit berjalan kaki dari sini, Tandjung Sari (Sanur; tandjungsarihotel.com; mulai dari Rp3.000.000) menawarkan bungalo-bungalo bersejarah, termasuk bungalo 23 yang pernah ditinggali Yoko Ono. Tjampuhan (Ubud; tjampuhan-bali.com; mulai dari Rp1.600.000) tak cuma merawat rumah warisan Walter Spies, tapi juga menciptakan menu yang terinspirasi sang artis. Di utara, Handara Golf Resort (Buleleng; handaragolfresort.com; mulai dari Rp1.000.000) menaungi pondok-pondok di tengah alam rindang pegunungan.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Juli/September 2018 (“Pondok Petilasan”).