Sepeda terparkir di bantaran kanal di Amsterdam, kota di mana populasi sepeda mengalahkan manusia. (Foto: Donang Wahyu)

Mengarungi Amsterdam, kita akan mendapati betapa sepeda menguasai jalan-jalan kota. Tiap harinya, ribuan sepeda melesat ramai ibarat wabah belalang. Mereka bermanuver gesit di antara mobil dan turis, juga berjejer dan bertumpuk di lahan-lahan parkir.

Statistik kota menjelaskan pemandangan itu. Di Amsterdam ada lebih banyak sepeda ketimbang manusia (822.000 manusia berbanding 881.000 unit sepeda). Dari mahasiswa hingga polisi, Amsterdammers mengayuh rata-rata dua kilometer per harinya. Bahkan Raja Willem-Alexander terkenal hobi bersepeda. 

Ada beragam alasan kenapa sepeda populer di Amsterdam. Jika kita merujuk sejarah, penyebab awalnya lebih bersifat pragmatis: parkir mahal, bensin mahal, kecelakaan berkendara kian tinggi, dan kemacetan makin kronis.

Seorang wanita mengayuh sepeda sewaan di New York City, kota dengan jalur sepeda terpanjang di dunia. (Foto: Tom Dillon/Unsplash)

Alkisah, pada 1950-an, sepeda mulai tersisih dari jalan-jalan Amsterdam. Seperti banyak kota yang sedang menikmati pertumbuhan ekonomi, warganya gemar mengendarai mobil atau sepeda motor.

Kondisinya mulai bergeser dua dekade berselang, ketika jalanan kian sesak, juga kian berbahaya. Pada 1971, kecelakaan berkendara merenggut 3.300 nyawa, sekitar 400 di antaranya anak-anak. Dari sinilah sepeda menemukan momentum untuk kembali dilirik. Terlebih, pada 1973, harga bensin meroket akibat perang di Timur Tengah.

Baca Juga: Bersepeda Menyusuri Tembok Besar Tiongkok

Awalnya dipilih lantaran ‘terpaksa,’ sepeda kemudian jadi moda utama. Usai merasakan manfaat sepeda, pemkot berinvestasi pada infrastruktur, demi menjadikan sepeda tradisi komunal yang berkelanjutan. Hingga 2019, Amsterdam memiliki 767 kilometer bicycle network, menjadikannya kota dengan jalur sepeda terpanjang di Belanda. 

Apa yang berlangsung di Amsterdam itu dipelajari banyak kota lain. Satu hikmah penting yang dipetik: jalur sepeda amat vital untuk menggairahkan minat gowes. Jalur khusus ini memudahkan pergerakan, juga menyediakan rasa aman, terutama di kota dengan kondisi jalan mengkhawatirkan. 

Di New York City misalnya, setelah jalur sepeda dipasang di Columbus Avenue, aktivitas bersepeda meningkat 56% di hari kerja, sementara tingkat kecelakaan susut 34%. Jakarta memperlihatkan tren serupa. Usai jalur sepeda dipasang di 17 ruas jalan, penggunaan sepeda melonjak 500%, sementara tingkat kecelakaan drop 13%, menurut Dinas Perhubungan Jakarta.

Baca Juga: Amsterdam Hapus Kedai Ganja & Rumah Bordil

Terbukit bermanfaat, jalur sepeda pun terus dibangun di banyak kota. Motif paling jamaknya ialah mengurai kemacetan. Ambil contoh Barcelona. Kota paling macet di Spanyol ini menciptakan 211 kilometer jalur sepeda, plus menyebar 6.000 unit sepeda publik dengan sistem bike-sharing. Di tahap berikutnya, kota ini menargetkan menambah jalur sepedanya agar 95% warga bisa menemukan lintasan maksimum 300 meter dari rumah.

Motif lain membangun infrastruktur sepeda ialah keuntungan ekonomi: warga lebih sehat, emisi lebih rendah, dan biaya kemacetan lebih kecil. Kopenhagen, di mana populasi sepeda mengalahkan mobil, mendapatkan nilai ekonomi 4,80 krone (Rp11.000) dari tiap orang yang mengayuh pedal setidaknya satu kilometer per hari.

Kiri-Kanan: Sepeda elektrik Jump dari Uber. (Foto: Spencer Davis/Unsplash); Pengendara sepeda di Place des Pyramides, Paris. (Foto: Khamkéo Vilaysing/Unsplash)

Berdasarkan data dari 100 pemkot, plus survei dan laporan media lokal, jalur sepeda terpanjang terdapat di kota-kota negara maju. New York City bertengger di puncak klasemen, disusul oleh Wina, Helsinki, dan Munich. Kopenhagen, yang kerap dijuluki “kota sepeda,” bertengger di peringkat 21.

Untuk saat ini, Asia, yang dihuni banyak kota paling macet, masih tertinggal dalam hal infrastruktur sepeda. Dua kota yang masuk 20 besar hanyalah Seoul dan Taipei. Meski begitu, gairah bersepeda sedang tumbuh di benua ini. Tel Aviv, Hanoi, dan Jakarta adalah contoh tiga kota Asia yang tengah menambah jalur sepedanya. 

Baca Juga: 10 Destinasi Paling Ramah (& Tidak Ramah) Lingkungan

Mencerna statistik, satu kesimpulan yang bisa ditarik ialah panjang jalur sepeda tidak melulu berkorelasi dengan ukuran kota. Dengan luas 414 kilometer persegi, Wina punya jalur sepeda lebih panjang ketimbang Los Angeles (1.302 kilometer persegi). Sementara Helsinki, yang luasnya seperempat Berlin, memiliki jalur sepeda hampir dua kali lebih panjang dari Ibu Kota Jerman itu. 

Seorang warga Helsinki membawa sepedanya menaiki Metro. (Foto: Tern Bicycles/Marketing Helsinki)

Data jalur sepeda itu tentu masih berubah. Mumpung jalan lengang selama PSBB, banyak kota memperpanjang jalur sepedanya, termasuk Berlin, Roma, dan Lisbon. Banyak pemkot memang ingin menjadikan pandemi momentum untuk lebih ramah lingkungan.  

Kota lain yang juga agresif menambah jalur sepedanya ialah Paris. Menyongsong Olimpiade 2024, kota ini mengajak Parisian beralih dari mobil demi mengurangi kepadatan lalu lintas. Untuk itu, pemerintah Prancis berinvestasi €350 juta (sekitar Rp6 triliun) untuk membangun infrastruktur sepeda. Cristian Rahadiansyah