Bulevar Las Ramblas, arsitektur Gaudi, Museum Joan Miro, dan Stadion Camp Nou. Barcelona punya beragam magnet yang membuatnya disambangi sekitar delapan juta turis pada 2019. Tapi banyak yang tidak tahu, kota ini juga terkenal akan kemacetannya.

Tahun lalu, Barcelona menyabet gelar kota dengan kemacetan terparah di Spanyol. Kepadatan jalan-jalannya bahkan mengalahkan Madrid yang berstatus Ibu Kota. Itu pula sebabnya, Barcelona tergolong kota dengan polusi terburuk di Negeri Matador. 

Tapi kemudian pandemi datang dan membuka peluang bagi perubahan. Selama PSBB, kepadatan lalu lintas drop hingga 80 persen. Mumpung jalan lengang, pemkot pun menambah jalur sepeda di banyak ruas jalan kota. Taktik yang cerdik di tengah bencana.  

Proyek itu dikepalai oleh Adria Gomila, Chief of Mobility Services, semacam Kadishub versi Barcelona. Dikutip dari Bloomberg, Gomila bersama 30 stafnya memperpanjang jalur sepeda hingga 21 kilometer. Pertengahan Mei, setelah PSBB dilonggarkan, warga keluar rumah dan menemukan banyak jalur kuning baru di tengah kota.

Kiri-Kanan: Warga memanfaatkan sistem sepeda publik Bicing. (Foto: Alex Motoc/Unsplash); Barisan sepeda Bicing di Barcelona. (Foto: Nadine Johnson/Unsplash)

Apa yang dilakukan pemkot itu adalah sebuah terobosan. Sebelumnya, jalur sepeda dipasang hanya pada jalan baru. Tapi solusi ini kemudian terbukti tak memadai. Jalan-jalan utama di jantung kota juga mesti dilengkapi jalur sepeda agar kemacetan terurai.  

Di tahap berikutnya, Gomila dan timnya akan menyasar kantong-kantong permukiman di kawasan perbukitan. Di sini, minat gowes lebih rendah lantaran medannya menguras stamina. Sebagai solusi, pemkot akan menyebar lebih banyak sepeda listrik, lengkap dengan lahan parkirnya.

Baca Juga: Bersepeda Menyusuri Tembok Besar Tiongkok

Ikhtiar memasyarakatkan sepeda adalah agenda lama Barcelona. Hingga 2019, kota di kaki Pegunungan Collserola ini memiliki 211 kilometer jalur sepeda. Selain itu, telah tersedia peta rute sepeda dan 6.000 unit sepeda publik dengan sistem bike-sharing.

Sebagaimana Amsterdam atau Kopenhagen, Barcelona juga menawarkan wisata gowes. Setidaknya ada 17 operator yang menawarkan tur pedal ke magnet-magnet utama kota. Tapi agaknya di sinilah letak masalahnya: sepeda digemari turis, tapi justru kurang laris di kalangan warga.

Salah satu jalan di Barcelona yang dilengkapi jalur sepeda. (Foto: Joakim Aglo/Unsplash)

Dewan Kota kini mematok target pembuatan 308 kilometer jalur sepeda. Harapannya, 95% dari total 1,6 juta populasi kota bisa menemukan jalur sepeda maksimum 300 meter dari rumah. Agenda ini awalnya dicanangkan terwujud pada 2018, tapi kemudian tertunda akibat gejolak ekonomi dan politik. Walau terdengar ironis, pandemi kini bisa memuluskan jalan mereka.

Baca Juga: 10 Kota dengan Kemacetan Terparah di Dunia

Barcelona tidak sendirian dalam upaya itu. Tatkala kehidupan hiatus akibat virus, sejumlah kota Eropa lain juga giat menambah jalur sepeda. Di Italia misalnya, jalur sepeda bertambah 150 kilometer di Roma dan 94 kilometer di Bologna. Kota lain yang juga memperpanjang jalur pedal ialah Lisbon, Paris, Berlin, dan Brussels. 

Wabah ternyata menyimpan berkah: demam sepeda. Berkat tren ini, kota-kota berharap udara bisa lebih sehat, jalan lebih lancar, dan, tentu saja, pedagang sepeda lebih bahagia. Cristian Rahadiansyah