Dihadapkan pada pemanasan global, destinasi wisata dunia bersaing bukan hanya untuk jadi yang terkaya, tapi juga yang paling ramah lingkungan. Alhasil, “green tourism” marak dijadikan motor pertumbuhan. Jumlah turis kini sama pentingnya dengan kadar emisi dan kualitas ekosistem.

Untuk melacak destinasi tersukses di bidang pelestarian alam, ada tiga rujukan yang populer: Environmental Performance Index (EPI), Global Green Economy Index (GGEI), serta Travel & Tourism Competitiveness Index (TTCI). Ini daftarnya merujuk laporan terakhir mereka.

Pengendara sepeda di Kopenhagen, Ibu Kota Denmark. Dari 180 negara dalam EPI 2020, Denmark berada di peringkat pertama. (Foto: Febiyan/Unsplash)

Environmental Performance Index 2020
Indeks ini dikembangkan oleh duet Yale University dan Columbia University. Environmental Performance Index (EPI) memperlihatkan negara dengan performa terbaik dalam menjawab tantangan lingkungan. Bagi turis, data ini bisa dirujuk untuk menemukan negara yang paling serius dalam menjaga bumi.

Indikator yang pakai EPI bertambah mengikuti tuntutan zaman. Khusus 2020, ada 32 indikator, contohnya kualitas udara, sanitasi, pengolahan sampah, hingga biodiversitas. Dari total 180 negara yang diukur, Indonesia bertengger di posisi ke-116, satu tingkat di atas Kiribati.

10 Terbaik 
1. Denmark      
2. Luksemburg 
3. Swiss 
4. Inggris 
5. Prancis
6. Austria
7. Finlandia
8. Swedia
9. Norwegia
10. Jerman

10 Terburuk
171. Haiti  
172. Chad  
173. Kepulauan Solomon  
174. Madagaskar
175. Guinea
176. Pantai Gading
177. Sierra Leone
178. Afghanistan
179. Myanmar
180 Liberia

Eskalator Stasiun Akalla di Stockholm, Ibu Kota Swedia. Negara ini bertengger peringkat satu GGEI 2018. (Foto: Robert Bye on Unsplash)

Global Green Economy Index 2018
Perang terhadap pemanasan global tak hanya dilakukan oleh LSM, tapi juga dunia usaha. Dari sinilah lahir istilah “green economy.” Untuk menakar perkembangannya di tiap negara, lembaga konsultan Dual Citizen LLC meluncurkan Global Green Economy Index (GGEI) pada 2010. Satu pertanyaan besar yang ingin dijawab: seberapa ramah lingkungan perekonomian di sebuah negara?

Pada edisi terakhir GGEI di 2018, ada 130 negara yang diukur, meningkat dari 80 negara di edisi sebelumnya. Empat komponen yang dievaluasi ialah kepemimpinan dan perubahan iklim; efisiensi sektoral; pasar dan investasi; serta lingkungan. Untuk 2018, Indonesia berada di ranking 83, di bawah Yordania. 

10 Terbaik
1. Swedia
2. Swiss
3. Islandia
4. Norwegia
5. Finlandia
6. Jerman
7. Denmark
8. Taiwan
9. Austria
10. Prancis

10 Terburuk 
121. Ukraina
122. Togo
123. Mauritania
124. Trinidad & Tobego
125. Kongo
126. Guinea-Bissau
127. Bosnia-Herzegovina
128. Benin 
129. Haiti
130. Bahrain

Warga menikmati hari di serambi Oslo Opera House, Norwegia. Negara ini berada di ranking dua TTCI 2019 kategori environmental sustainability. (Foto: Oliver Cole/Unsplash)

Travel & Tourism Competitiveness Index 2019
Laporan bienial Travel & Tourism Competitiveness Index (TTCI) diterbitkan oleh World Economic Forum, lembaga yang berbasis di Jenewa. Pada edisi perdananya di 2007, hanya ada 124 negara yang diukur. Tahun lalu, jumlahnya mencapai 140 negara.

TTCI mengukur 14 indikator, contohnya kebersihan, infrastruktur pelabuhan, serta sumber daya manusia. Dari sini, kita bisa mengetahui destinasi mana yang paling kompetitif di bidang pariwisata. Di bawah ini daftar khusus kategori environmental sustainability, di mana Indonesia terperosok di peringkat 135 dari 140 negara.

10 Terbaik 
1. Swiss
2. Norwegia
3. Austria
4. Luksemburg 
5. Finlandia
6. Belanda
7. Denmark  
8. Slovenia  
9. Jerman
10. Prancis

10 Terburuk
131. Mongolia
132. Makedonia Utara
133. Algeria  
134. Nepal  
135. Indonesia  
136. Argentina  
137. Jamaika  
138. Yaman
139. Kamboja  
140. Haiti