Turis menyaksikan Istana Alhambra, Situs Warisan Dunia di Spanyol. (Foto: Jorge Fernández Salas)

UNESCO telah menetapkan lebih dari 1.000 Situs Warisan Dunia—dan jumlahnya terus meningkat. Maklum, kandidat yang diajukan terus mengalir. Banyak negara ingin memiliki lebih banyak situs bergengsi semacam ini, baik atas niat konservasi ataupun demi menjala turis.

Tapi apa sebenarnya Situs Warisan Dunia? Apa saja kriterianya, dan siapa yang memilihnya? Berikut penjelasannya:

Pilar-pilar magis Wulingyuan, Tiongkok, yang kerap dijuluki ‘Pegunungan Avatar.’ (Foto: Alexander Schimmeck)

1. Apa definisi Situs Warisan Dunia?
Jika bintang Michelin diberikan kepada restoran berkualitas, sementara plakat Superbrands untuk produk unggulan, maka Situs Warisan Dunia diberikan kepada tempat yang dinilai penting secara geografis, estetis, ataupun kultural. Wujudnya bisa beragam, dari monumen, gurun, hutan, gunung, danau, hingga sawah.

Salah satu bangunan bersejarah di Hampi, bekas ibu kota kerajaan Hindu Vijayanagar, India. (Foto: Siddhesh Mangela)

2. Siapa yang menilainya?
Tugas ini diemban oleh Komite Warisan Dunia. Pada 2021, Komite ini beranggotakan utusan dari 21 negara, contohnya Bahrain, Mesir, Nigeria, Spanyol, serta Thailand. Durasi keanggotaannya maksimum enam tahun. Sementara rotasi anggota diputuskan dalam Sidang Umum yang digelar dua tahun sekali di markas UNESCO di Paris.

Balon-balon udara di atas kompleks Bagan, Situs Warisan Dunia di Myanmar. (Foto: Yves Alarie)

3. Apa saja kriteria yang dipakai dalam penilaian?
Ada 10 kriteria pokok, contohnya “mahakarya kegeniusan kreatif manusia” atau “fenomena natural yang superlatif.” Negara-negara yang punya tempat semacam ini bisa mengajukannya kepada UNESCO, untuk kemudian dievaluasi dan diseleksi. Tempat yang terpilih akan diumumkan dalam sidang tahunan Komite Warisan Dunia. 

Taman Nasional Yellowstone, salah satu Situs Warisan Dunia pertama di dunia. (Foto: Siegfried Poepperl)

4. Situs Warisan Dunia pertama?
Situs Warisan Dunia dirintis pada 1978. Dalam sidang yang berlangsung di Amerika Serikat saat itu, terpilih total 12 situs di tujuh negara, contohnya Taman Nasional Nahanni (Kanada), Galapagos (Ekuador), Katedral Aachen (Jerman), serta Taman Nasional Yellowstone (Amerika Serikat).

Bangunan tua di Karlovy Vary, Republik Cheska, yang dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia pada 2021. (Foto: Leonhard Niederwimmer)

5. Situs Warisan Dunia terbaru?
Tahun ini, sidang Komite Warisan Dunia berlangsung di Fuzhou, Tiongkok. Total ada 37 situs baru yang diseleksi dari 44 nominasi. Jerman mendapatkan lima situs tambahan—terbanyak tahun ini. Negara lain yang juga mendapatkan situs cukup banyak ialah Prancis dan Italia, masing-masingnya berjumlah empat situs. Sayang, tak ada wakil baru dari Indonesia.  

Piazza del Duomo di Italia, negara yang mengoleksi 58 Situs Warisan Dunia. (Foto: Alexey Turenkov)

6. Negara yang memiliki Situs Warisan Dunia terbanyak?
Mengoleksi total 58 situs, Italia bertengger di puncak tabel negara dengan Situs Warisan Dunia terbanyak. Di peringkat kedua, ada Tiongkok dengan koleksi 56 situs, dibayangi oleh Jerman dengan 51 situs. Di dasar klasemen 10 besar, Amerika Serikat terdegradasi usai disalip oleh Iran. Tahun ini, Iran mendapatkan dua situs tambahan, sementara AS tak memperoleh satu pun situs baru. 

Kompleks bersejarah Sanctuary of Bom Jesus do Monte di Braga, Portugal. (Foto: Angela Compagnone)

7. Kenapa banyak negara ingin memiliki Situs Warisan Dunia?
Situs Warisan Dunia dipandang sebagai prestise, melambangkan kontribusi dan pencapaian peradaban suatu negara. Dan prestise ini punya dampak ekonomi, lantaran Situs Warisan Dunia lazimnya digemari turis. Terbukti, dari 10 negara dengan turis terbanyak di 2019, tujuh di antaranya masuk daftar 10 negara dengan Situs Warisan Dunia terbanyak.

Wisatawan memadati kawasan Kota Tua Hoi An, Vietnam. (Foto: Tam Nguyen)

8. Jika diserbu turis, bukankah justru rentan rusak?
Kekhawatiran ini sudah lama dirasakan oleh UNESCO sendiri. Banyak tempat kewalahan dibanjiri turis dan terusik bangunan baru usai ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia, sampai-sampai mengancam upaya konservasi yang notabene tugas UNESCO. Contohnya terlihat misalnya di George Town (Malaysia), Venesia (Italia), serta Hoi An (Vietnam).  

Kompleks patung Buddha raksasa di Lembah Bamiyan, Afghanistan, salah satu Situs Warisan Dunia yang masuk zona merah. (Foto: Nasim Dadfar)

9. Jika sudah rusak, apakah akan dicoret dari daftar Situs Warisan Dunia?
Tempat-tempat yang terancam akan diberi ikon berwarna merah dalam situs web UNESCO. Jumlahnya kini mencapai 53 situs. Tentu saja, tak semua situs rusak akibat ulah turis. Samarra (Irak) dan Lembah Bamiyan (Afghanistan) misalnya, hancur akibat konflik. Sementara Great Barrier Reef digerogoti pemanasan global. Jika kerusakannya dianggap kelewat kronis, situs ini berpotensi dicoret permanen. Hingga kini, ada tiga tempat yang telah tereliminasi dari daftar elite UNESCO, yakni Lembah Dresden Elbe (Jerman), Suaka Oryx (Oman), serta Kota Maritim Liverpool (Inggris).  

Museum Goedang Ransoem menyimpan memorabilia penambahan batu bara di Sawahlunto. (Foto: Muhammad Fadli)

10. Apa saja Situs Warisan Dunia di Indonesia?
Indonesia mengoleksi total sembilan situs—terbanyak di ASEAN. Contohnya ialah Candi Borobudur, Situs Sangiran, serta yang terbaru, Tambang Batu Bara Ombilin di Sawahlunto. Selain itu, ada 19 kandidat situs dari Indonesia yang diajukan oleh pemerintah, contohnya Raja Ampat, Tana Toraja, serta Bawomataluo di Nias.