Siang Malam Asia Afrika

Kontras dan kreativitas di kawasan bersejarah Bandung.

Saban akhir pekan, Bandung dan macet menjadi dua kata yang sangat akrab. Jalanan sesak. Lahan parkir sesak. Restoran dan kafe sesak. Ribuan weekender, terutama asal Jakarta, membanjiri kota ini untuk bersantai, walau yang mereka dapatkan kerap justru suasana yang tidak santai.

Era walikota Ridwan Kamil, kota bandung bersolek. Taman-taman dan trotoar dibangun untuk memuliakan warga kotanya.
Penjual majalah dan buku-buku bekas tengah asyik membaca dan ‘tenggelam’ dalam dagangannya di kawasan Jalan Cikapundung.

Sesekali saya bergabung dalam “migrasi mingguan” itu. Saya dan pasangan lazimnya datang untuk menikmati kawasan tua Bandung, salah satunya Jalan Asia Afrika, sebuah bulevar yang sarat cerita heroik, tempat bangunan-bangunan berstatus cagar budaya bercokol tegap melawan usia.

Sebagai fotografer yang merangkap turis, Jalan Asia Afrika senantiasa menghadirkan target foto yang menarik. Kawasan ini mengombinasikan warisan masa silam dan kreativitas masa kini. Dari siang hingga malam, berbekal sebuah kamera, saya berjalan kaki menyusuri trotoar di Jalan Asia Afrika sambil memotret.

Sosok-sosok seram bersantai di bangku kota menunggu malam tiba.

Satu situs sejarah yang saya kunjungi di sini ialah Museum Konferensi Asia Afrika. Di dalamnya tersimpan berbagai diorama dan memorabilia, termasuk sebuah patung Bung Karno yang sedang berpidato memompa semangat delegasi negara-negara di Asia dan Afrika untuk terus berjuang merebut kemerdekaan.

Puluhan cosplayer berjajar di sepanjang ruas jalan tak jauh dari Museum Konferensi Asia-Afrika.

Berpindah ke pelataran museum, saya mendapati sebentuk perjuangan lainnya: puluhan cosplayer yang tengah berburu nafkah. Dalam kostum dan dandanan yang semarak, mereka bergantian merayu para pejalan kaki agar sudi berfoto bersama, sembari berharap mendapatkan donasi seikhlasnya.

Ketika hari beranjak malam, kawasan tua Bandung kian kemilau. Kota modis ini seolah berubah menjadi ajang peragaan busana raksasa. Orang-orang dengan beragam gaya berkeliaran dan berseliweran, menjanjikan target foto menarik lainnya bagi seorang street photographer.

Ketika malam semakin larut, becak-becak pun parkir di emperan gedung.

Di sudut Jalan Cikapundung yang terhubung ke Jalan Asia-Afrika, seorang penjual majalah dan buku bekas sedang asyik membaca buku dagangannya. Meski pembeli kian sepi, dia masih setia menekuni profesinya. Tak jauh darinya, beberapa remaja menyulap sebuah mobil gerbong menjadi kedai kopi.

Dikenal sebagai kota kreatif, di Bandung banyak ditemukan mobil van yang disulap menjadi tempat kopi.

Larut malam, saya kembali ke penginapan dengan melewati kantor harian Pikiran Rakyat yang berada di seberang Savoy Homann, hotel ikonis tempat delegasi Konferensi Asia Afrika dulu menginap. Tak ada lagi cetakan koran yang dibentangkan dalam bingkai di muka kantor Pikiran Rakyat. Warga kota kini terbiasa membaca koran yang terbit perdana pada 1966 itu dalam bingkai layar datar LED.

 

Toto Santiko Budi
Memulai kariernya pada 2000 sebagai fotojurnalis di sebuah surat kabar harian di Surabaya, Toto bermigrasi ke Jakarta pada 2007 untuk bekerja sebagai fotografer independen dengan spesialisasi foto dokumenter, jurnalistik, dan travel. Dia pernah berkontribusi untuk beragam media, antara lain Time, Stern, The Australian, dan Forbes Indonesia. totosantiko.com.

Comments