Di tengah dunia yang semakin sibuk dan terhubung, cara masyarakat bepergian juga ikut berevolusi. Dari sekadar melepas penat, kini traveling menjadi bagian dari pencarian makna, keseimbangan hidup, dan ekspresi diri. Dua fenomena besar tengah mencuat di kawasan Asia Pasifik: solo travel yang kian diminati generasi muda, serta wisata mewah yang bertransformasi menjadi lebih personal dan sadar makna.
Dua studi terbaru masing-masing dari Scoot dan Marriott International menunjukkan bahwa kebutuhan emosional dan spiritual dalam perjalanan menjadi semakin penting. Tidak hanya tentang ke mana kita pergi, tapi mengapa dan bagaimana kita melakukannya.

Solo Travel: Kebebasan Baru di Tengah Kesibukan Hidup
Survei yang dilakukan oleh YouGov atas dukungan Scoot, maskapai penerbangan bertarif rendah anak perusahaan Singapore Airlines, menunjukkan bahwa solo travel kini menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia, khususnya generasi milenial. Sebanyak 68% responden Indonesia telah bepergian sendiri dalam 12 bulan terakhir, dan 92% lainnya berencana melakukannya dalam waktu dekat.
Motivasi mereka beragam: dari mencari kebebasan menyusun jadwal sendiri (49%), hingga kebutuhan untuk beristirahat dan fokus pada kesehatan mental (46%). Dalam masyarakat yang bergerak cepat dan penuh tekanan, solo travel menjadi ruang jeda pribadi yang tak ternilai.
Meski dilakukan sendiri, bukan berarti tanpa rencana. 96% wisatawan solo menyusun itinerary dengan seksama, mempertimbangkan anggaran, keamanan, dan akomodasi. Mereka juga aktif memanfaatkan media sosial serta platform daring untuk merancang pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan pribadi mereka.
Luxury Travel: Dari Kemewahan Eksternal Menuju Kedalaman Internal
Di sisi lain spektrum, para pelancong kelas atas juga mulai mengubah cara mereka memaknai kemewahan. Studi terbaru dari Luxury Group by Marriott International terhadap 1.750 traveler berpenghasilan tinggi (HNW) di Asia Pasifik menunjukkan bahwa wisata mewah kini tidak lagi sekadar glamor dan eksklusivitas, melainkan sarana untuk menemukan makna, meningkatkan kesejahteraan, dan memperkuat koneksi dengan dunia sekitar.
Sebanyak 90% responden menyebut pengalaman wellness sebagai faktor utama dalam pemilihan destinasi, dan Asia menjadi pilihan utama mereka. Tidak heran jika resor seperti Mandapa, a Ritz-Carlton Reserve di Bali, kini menawarkan perjalanan spiritual dan keseimbangan yang dikurasi secara personal bukan hanya untuk tubuh, tetapi juga jiwa.
Baca Juga: Bab Baru untuk COMO Metropolitan Bangkok
Baik solo traveler maupun wisatawan mewah kini sama-sama menunjukkan kecenderungan yang serupa: kembali ke tempat yang memberi rasa koneksi emosional. Survei Marriott mencatat bahwa 93% wisatawan berpenghasilan tinggi lebih memilih kembali ke destinasi yang mereka sukai, bukan untuk mengulang pengalaman, melainkan mendalami hubungan mereka dengan budaya dan komunitas lokal.
Tren ini tercermin dalam meningkatnya minat terhadap destinasi seperti Lombok dan Labuan Bajo, di mana properti seperti The Sira dan TA’AKTANA, Luxury Collection Resorts menghadirkan perpaduan antara keindahan alam dan kekayaan tradisi lokal, termasuk pengalaman sarapan pribadi di air terjun atau menjelajahi desa adat Sasak.

Merencanakan Perjalanan
Satu benang merah yang menghubungkan kedua tren ini adalah pendekatan yang lebih sadar dan personal dalam merencanakan perjalanan. Baik itu pelancong solo yang mencari waktu untuk diri sendiri, atau wisatawan mewah yang menginginkan pengalaman kurasi, keduanya semakin menghargai kualitas ketimbang kuantitas.
Baca Juga: Sheraton Belitung Resort: Laut, Matahari, Udara, dan Seafood
Riset Marriott menunjukkan bahwa 62% wisatawan mewah merancang perjalanan jauh hari sebelumnya, bahkan untuk perjalanan singkat. Hal ini selaras dengan kecenderungan solo traveler Indonesia yang juga sangat memperhatikan aspek anggaran dan efisiensi, dengan mayoritas memilih maskapai berbiaya rendah untuk tetap fleksibel namun tetap terkoneksi dengan destinasi impian mereka.
Ada beberapa lokasi yang bisa dijadikan inspirasi untuk berlibur, di antaranya adalah Bali, Belitung, Surabaya, Bandung, atau di luar negeri seperti Johor Bahru, Perth, Lijiang (China), atau bahkan Red Sea.

