Check In

Sheraton Belitung Resort: Laut, Matahari, Udara, dan Seafood

Terkadang, kita ingin pergi liburan ke tempat yang tenang, hening, menyatu dengan alam, dan tak terlalu jauh dari Jakarta. Kali ini pilihan ‘menyepi’ dari Jakarta, jatuh ke Belitung, yang hanya berjarak 45 menit penerbangan dari Jakarta, namun udaranya jauh lebih bersih daripada ibukota.

Bandara Tanjung Pandan, Belitung mungkin tidak terlalu besar, namun terkadang hal ini bisa menguntungkan karena mengurangi waktu untuk berjalan dari satu area ke area lain. Usai menunggu bagasi, pintu keluar bandara dan area parkir mobil sudah di depan mata. Tak lama, saya sudah duduk manis di dalam mobil hotel untuk menuju ke Sheraton Belitung Resort. Hotel ini berada di area Tanjung Kelayang dan berjarak 44 menit berkendara dari bandara Tanjung Pandan. Memang, hampir sama dengan waktu penerbangan dari Jakarta, tapi saya rasa ini akan worth it.

Jika boleh jujur, saya tak punya ekspektasi apapun tentang area Tanjung Kelayang dan hotel ini. Berusaha untuk menikmati perjalanan dan menikmati setiap momennya di sana.

Saya agak kahet ketika tiba-tiba mobil mulai masuk ke area hutan dengan pohon-pohon lebat di kiri-kanannya.

“Di hutan sini, sering ada ular besar,” kata driver saya saat itu.

“Tapi, tenang saja, kalau kita tidak mengganggu, mereka juga tidak ganggu, hanya numpang lewat saja mereka, karena ini kan rumahnya.”

Baca Juga: 48 Jam di Tanjung Kelayang : Menanti Matahari Terbenam di Belitung

Meski demikian, saat itu tidak ada ular yang saya temui, semuanya baik-baik saja. Hanya ada burung elang besar dengan rentangan sayap yang lebar dan beberapa kadal kecil yang keluar masuk hutan. Saya menulis ini bukan untuk menakut-nakuti, namun justru ini adalah bagian terbaiknya. Semuanya yang ada di sini adalah bagian dari Tanjung Kelayang Reserve yang diakui jadi geopark UNESCO.

Sheraton Belitung Resort ini juga terletak di dalam area tersebut, maka resort ini juga harus sustainable. Dari luar, resort ini terlihat sangat humble. Hanya terlihat seperti bangunan biasa dengan tembok rendah berwarna kekuningan cerah, bukan terlihat seperti gedung mewah berlapis kaca yang menjulang tinggi.

Antara Laut, Matahari, dan Udara

Rupanya, tembok berwarna kekuningan ini terbuat dari batu bata pasir kaolin yang terkenal di Belitung. Bagian atapnya dibuat dengan susunan ranting pohon kuat yang banyak terdapat di Belitung. Semuanya dibuat dengan sumber daya alam di Belitung untuk menjadikan hotel ini sebagai sustainable resort.

Lobi Sheraton Belitung Resort yang ikonik dengan bentuk segitiga tinggi dan membingkai pemandangan alam indah yang berbatasan antara laut, matahari, langit sembari dibelai udara segar, akan memberikan pengalaman dan sedikit shock therapy tersendiri (dalam artian positif). Ini sekaligus menjawab pertanyaan diri sendiri tentang, worth it or not untuk perjalanan hampir satu jam dari bandara, tanpa macet.

Hotel ini memiliki beberapa tipe kamar. Saya menempati tipe kamar Deluxe Garden View. Kamarnya terpisah-pisah satu sama lain dan dibatasi dengan taman kecil di samping kamar, dan jalan berpasir di antara kamar yang berhadapan. Harap sedikit berhati-hati, saat hujan turun, di jalan tengah tanah merah ini akan muncul genangan air yang sulit dilewati. Namun, hotel menyediakan sandal jepit yang bisa dipakai dan diletakkan di depan kamar agar tak mengotori sepatu dan juga lantai kamar.

Kembali ke kamar, dengan luas 53 meter persegi, areanya dibagi menjadi ruang tidur dengan ukuran kasur king atau twin bed, kamar mandi shower, bathtub, double vanity, ruang duduk dan tv 55 inch, mini fridge complimentary (jangan lupa cicipi kopi bubuk khas Belitung, Kopi Badau yang disediakan di kamar), serta balkon. Uniknya, Anda tak akan menemukan bathtub di kamar mandi, melainkan di balkon depan yang ditutupi tanaman besar dan pembatas antar-kamar sehingga tak terlihat ‘tetangga.’

Baca Juga: 7 Alasan Mengapa Harus ke Tanjung Kelayang Reserve

Selain itu, ada juga tipe kamar bertipe Deluxe Lagoon view dengan pemandangan danau kaolin yang jernih, serta deluxe ocean facing view yang berada di lantai dua, dan juga Island suites dengan luas 106 meter persegi. Resort ini juga memiliki tipe beachfront villa 102,12 meter persegi dengan king sized bed. 

Seaside Sereni-Tea Package at Sheraton Belitung Resort
Seafood dan Daun Simpor

Terletak di pinggir laut, tentu saja seafood jadi hidangan utama. Aneka seafood ini bisa dinikmati di Seafood Market. Anda bisa menikmati aneka seafood pilihan yang segar dan hasil tangkapan para nelayan dengan berbagai pilihan cara memasak.

Di Island Restaurant, all day dining di Sheraton Belitung Resort, ada beragam hidangan yang bisa dinikmati, dari hidangan internasional sampai aneka hidangan khas Bangka Belitung yang disajikan di atas daun simpor, yang punya kegunaan mirip seperti daun pisang di daerah lainnya. Jangan skip sarapan di sini, karena buat saya pribadi, hotel ini punya menu sarapan yang enak dan rasa gurih, manis, asin, serta tekstur yang pas untuk semua hidangan mereka.

Namun, jika ingin lebih personal dan istimewa, saya diajak naik perahu menuju ke Pulau Tukong. Bukan cuma untuk menjelajah pulau pribadi dan menikmati matahari terbenam tapi juga untuk afternoon tea.

Aneka kudapan manis dan asin tradisional ditata di atas tray dan keranjang kayu tradisional. Di sebelahnya, kopi, teh, sampai minuman soda juga disajikan sebagai teman hidangan. Nikmati semuanya sembari menunggu matahari perlahan mulai tenggelam berganti cahaya kelap-kelip dari kapal penangkap cumi-cumi di kejauhan.

Bukan cuma hidangan yang memuaskan, di sini, para tamu juga dimanjakan dengan beragam aktivitas in house, dari belajar renang, ikebana, membuat ketupat, art towel dan lainnya. Tapi jangan lewatkan whistle trail dan keliling ke peternakan stingless bee. Di sini, saya bahkan bisa menikmati madu asli langsung dari sarangnya tanpa perlu takut disengat lebah. Seru!