Adventures

7 Alasan Mengapa Harus ke Tanjung Kelayang Reserve

Sudah lupa rasanya bagaimana rasanya udara yang murni dan segar tanpa polusi. Mungkin terakhir kali sejak saya meninggalkan Lijiang, sebuah kota kecil di China yang terletak di dataran tinggi dan punya udara sejuk dan segar. Setelahnya, kembali ke Jakarta dan paru-paru saya bergulat lagi dengan polusi.

Tentunya saya langsung mengiyakan ajakan untuk mengunjungi Tanjung Kelayang Reserve, Belitung, tempat yang disebut-sebut punya udara paling segar dan bersih di Indonesia.

Tanjung Kelayang terletak di pesisir barat laut Pulau Belitung dan hanya berjarak 45 menit penerbangan dari Jakarta sampai ke bandara Tanjung Pandan. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan mobil sampai ke Tanjung Kelayang Reserve.

Ini 7 alasan mengapa Anda (setidaknya sekali) harus mengunjungi Tanjung Kelayang Reserve di Belitung.

1. UNESCO Global Geopark Sustainability

Tanjung Kelayang sejak 2021 lalu diakui sebagai salah satu bagian UNESCO Global Geopark. Hal ini merupakan pengakuan prestisius yang diberikan kepada kawasan dengan warisan geologi dan budaya bernilai internasional.

Tanjung Kelayang memiliki pantai-pantai yang masih asli, formasi granit berusia 200 juta tahun, dan kehidupan laut yang harmonis dan penduduk pulau yang ramah. Selain itu, mereka sangat menjaga kelestarian alam dan kebersihan lingkungannya.

Keberlanjutan juga menjadi salah satu kekuatan dari pulau ini untuk menjaga alamnya. Kaolin, yang banyak dihasilkan di pulau ini juga dimanfaatkan oleh warga sekitar sebagai bahan baku pembuatan dinding rumah sampai dengan metode penjernihan air. Sebuah jaringan tertutup tanpa emisi yang memanfaatkan sifat penyaring alami dari tanah kaolin khas Belitung. Tanpa sumur bor, tanpa bahan kimia keras; hanya pendekatan murni dan penuh kesadaran.

Island Hopping (DAI/Christina Jacobs)
2. Udara Terbersih di Indonesia

Seperti yang saya ungkapkan di atas, Tanjung Kelayang Reserve adalah tempat untuk melarikan diri dari polusi. Data ini didapatkan dari Nafas. Belitung menjadi salah satu tempat yang menjadi wilayah dengan udara terbersih di jaringan sensor Nafas.

Wilayah ini memiliki status kualitas udara Baik dan memiliki tingkat polusi terendah di jaringan sensor Nafas setiap bulannya. Belitung adalah satu-satunya wilayah dalam jaringan sensor Nafas yang berkualitas udara Baik (0-12 PM2.5 μg/m3) di 2024 sampai April 2025.

Baca Juga: TERVE: SINGLE ORIGIN CHOCOLATE

3. Island Hopping

Sesampainya di Tanjung Kelayang Reserve, langit biru dan air laut yang jernih langsung menyambut saya. Udaranya benar-benar segar dan angin bertiup lembut, tak kering dan lengket. Dengan pasir putih dan batu-batu granit yang menjulang tinggi, ini adalah waktu yang tepat untuk island hopping.

Dengan perahu kecil bertenaga motor, lautnya yang tak terlalu dalam menjadi jawaban untuk berlayar dan island hopping. Sedikit ayunan ombak membawa saya berpindah-pindah dari pulau ke pulau, Lengkuas, Burung, Pasir, Tukong, dan lainnya.

Di Pulau Lengkuas terdapat mercusuar peninggalan Belanda dari 1882, Pulau Tukong yang terkenal dengan daratan yang muncul saat air surut. Di Pulau Tukong, saya diajak piknik menikmati indahnya matahari terbenam. Di sini, saya menapaki pantai berpasir putih kemudian sedikit memanjat batu, yang sudah dibuat dengan ‘tangga alam’ untuk membuatnya lebih mudah didaki. Di atas sana, perlahan matahari tenggelam dan digantikan cahaya senja keunguan yang hangat. Dari kejauhan, lampu-lampu kapal penangkap cumi-cumi mulai berdatangan untuk mencari mangsa.

4. Snorkeling and Coral Watching

Dengan pantai sebening kaca dan pasir putih yang lembut, ikan dan koral di laut nampak seperti ada di aquarium. Sesungguhnya, tak perlu snorkeling untuk melihat indahnya dasar laut, ikan-ikan karang, dan koral. Dari atas perahu tradisional nelayan, semuanya dengan jelas terlihat, karena airnya yang sangat jernih.

Namun bagi para pencinta laut, snorkeling jadi hal yang wajib. Ini jadi kesempatan besar untuk bisa melihat laut jernih dengan ikan yang berlomba-lomba berenang di antara koral yang berwarna-warni.Semuanya jernih tanpa polusi dan sampah.

Perahu akan menuju Karang Salam, perairan tenang nan jernih yang menjadi surga bagi para penyelam. Di sini, kehidupan bawah laut yang masih alami menyajikan pengalaman menyelam yang damai dan menyegarkan. Petualangan ditutup dengan kunjungan ke Pulau Kelayang dan Batu Berlayar, formasi granit megah yang menjadi bagian dari situs geologi UNESCO di Belitung.

Island Hopping (Dok. TKR)
5. Whistle Trail

Bukan cuma lautnya yang menawan, Tanjung Kelayang Reserve juga menjadi rumah bagi flora dan fauna langka. Di sini, para tamu juga diajak untuk melakukan Whistle Trail, jalur yang dirancang melewati habitat flora dan fauna langka. Jika beruntung, Anda bisa menemukan whistle bird yang berkicau pelan. Trenggiling yang mengendap-endap dari balik pohon, elang, monyet, sampai ular. Namun tak perlu khawatir, masyarakat percaya, jika Anda tak mengganggunya, maka mereka juga tak akan mengganggu.

Di jalur ini, para tamu juga akan dibawa melintasi dan melihat flora langka di hutan alami yaitu pohon pelepak yang menjadi inang dari jamur pelawan yang terkenal dan mahal dari Belitung. Pohon-pohon lain yang juga endemik Belitung juga tumbuh di sini. Jangan lewatkan juga untuk sedikit melihat stingless bee yang menghasilkan madu alami yang sehat.

Baca Juga: BANDUNG: INDONESIA’S SECRET INGREDIENT

6. Tarsius

Lebih dari setengah lahannya di Tanjung Kelayang Reserve dibiarkan tak tersentuh, menjadi rumah bagi spesies langka seperti tarsius Billiton yang sulit ditemukan. Tarsius adalah hewan nocturnal yang berukuran kecil dan hidup di antara pohon.

Hewan ini hanya bisa ditemukan di malam hari di antara pepohonan untuk mencari makanan, yaitu jangkrik. Dengan matanya yang besar, hewan ini sangat sensitif terhadap cahaya. Oleh karenanya, untuk melihat tarsius, petualangan harus dilakukan di malam hari di Bukit Peramun.

Bukit Peramun ini dikelola oleh komunitas lokal untuk membantu para turis untuk melihat Tarsius. Ada beberapa aturan yang harus dipatuhi oleh para tamu untuk membantu kelestarian hewan ini, misalnya tak boleh menyorot lampu terang termasuk flash ponsel ke mata tarsius, tidak boleh berisik, sampai tak boleh menyentuh hewannya.

Mie Belitung (DAI/Christina Jacobs)
7. Kuliner khas

Kuliner Belitung juga jadi daya tarik. Sebagai pulau yang dikelilingi oleh lautan, seafood segar tentunya jadi hidangan utama.

Gastronomi Belitung lahir dari hasil laut dan daratan lokal, dibentuk selama berabad-abad oleh pengaruh pelaut Melayu, pedagang Tionghoa, dan masyarakat setempat. Salah satu yang paling terkenal adalah Gangan, sup ikan kuning khas Belitung dengan kunyit dan nanas, yang menghadirkan rasa hangat sekaligus segar. Rujak ikan juga jadi hidangan segar dan unik.

Saya juga menikmati mie Belitung yang khas. Mie ini dipadukan dengan kuah kari. Udang yang gurih, dilengkapi kentang empuk, tahu lembut, tauge segar, dan emping melinjo yang renyah.

Uniknya, untuk menghadirkan kekhasannya, makanan-makanan ini disajikan dengan piring yang beralaskan daun simpur yang banyak tumbuh di Belitung.

Budaya kopi yang khas juga menjadi bagian penting dari citarasa Belitung. Kopi hitam, diseduh tanpa ampas untuk hasil yang halus dan beraroma kuat, sudah lama menemani obrolan hangat penduduk lokal Belitung. Kopi Susu, perpaduan kopi hitam pekat dan susu kental manis juga jadi salah satu yang banyak disukai.