Turis sedang snorkeling di perairan Pink Beach, Taman Nasional Komodo. (Foto: Natasha Jenny)

Semester pertama 2021, awan gelap masih menaungi pariwisata nasional. Di periode ini, merujuk data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia hanya menjala 800 ribu turis asing, susut 74% dibandingkan semester pertama 2020.

Membaca grafik per bulannya, arus turis asing juga sangat fluktuatif. Pada Januari 2021, Indonesia mencatatkan 137 ribu kunjungan, lalu turun menjadi 125 ribu di April, kemudian meningkat jadi 140 ribu di Juni.

Berdasarkan kebangsaannya, mayoritas turis yang melawat Indonesia berpaspor Timor-Leste. Jumlahnya 400 ribu orang, atau sekitar 50% dari total wisatawan. Pemasok tersubur kedua ialah Malaysia, disusul oleh Tiongkok.

Komposisi itu masih serupa dengan 2020. Perbedaan hanya terlihat di luar kelompok tiga besar. Tahun lalu, pemasok turis terbanyak keempat ialah Australia. Tahun ini, posisinya digeser oleh Singapura. Khusus wilayah Eropa, Inggris disalip oleh Belanda dan Rusia sebagai feeder utama Indonesia.

Pelancong asing di Punthuk Mongkrong, Magelang. (Foto: Marc Wieland)

Beralih ke okupansi hotel, kondisinya kian membaik. Pada semester pertama 2021, tingkat hunian hotel bintang di Indonesia memperlihatkan tren positif. Angkanya meningkat ajek dari 30% di Januari, menjadi 34% di April, lalu 38% di Juni.

Baca Juga: 35 juta warga Eropa tak sanggup liburan

Tingkat okupansi hotel nasional bahkan lebih baik dibandingkan 2020. Pada Januari tahun lalu, okupansi hotel mendekati 50%. Setelah Covid menjalar, angkanya terjun bebas dengan titik terendah 12%.

Peningkatan okupansi hotel disebabkan salah satunya oleh pertumbuhan pasar lokal. Akibat ditutupnya banyak perbatasan asing, warga Indonesia hanya mampu berlibur di dalam negeri. Tentu saja, agresifnya promo menginap dari banyak hotel turut menumbuhkan jumlah tamu di tingkat domestik.  

Kendati begitu, tak berarti semua pelaku hotel tersenyum. Sebab, naiknya tingkat okupansi di Indonesia turut diakibatkan oleh penurunan jumlah hotel. (Jika pasokan kamar turun, tingkat hunian memang cenderung meningkat.) Di Jakarta misalnya, jumlah hotel berkurang lima unit. Di Bali, penurunannya jauh lebih kronis, 127 unit.Cristian Rahadiansyah