Delman di Yogyakarta menanti turis di tengah pandemi. (Foto: Farhan Abas)

Statistik pariwisata 2020 telah dilansir oleh Badan Pusat Statistik (BPS), dan datanya berujung pada satu kesimpulan suram: Indonesia menderita penurunan turis asing terparah dalam sejarah. 

Sepanjang 2020, Indonesia membukukan hanya sekitar empat juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Artinya, terjadi penyusutan sebesar 75% dibandingkan 2019 yang menorehkan 16,1 juta kunjungan. Sesuai prediksi, jumlah wisman Indonesia pada 2020 setara perolehan 1994.  

Penyebab utama kejatuhan drastis itu tentu saja pandemi Covid-19. Pada Januari 2020, jumlah pelancong asing masih di kisaran normal, bahkan sedikit lebih baik dibandingkan Januari 2019. Memasuki Februari 2020, jumlah kunjungan mulai minus, lalu terjun bebas ke titik kronis mulai Maret. Dari perspektif statistik, dampak Covid-19 jauh lebih telak dibandingkan semua bencana alam dan kerusuhan di Indonesia.

Pemasok Wisman Terbanyak ke Indonesia?
Timor-Leste, disusul Malaysia, bertengger sebagai pemasok wisman terbanyak ke Indonesia sepanjang 2020. Secara kolektif keduanya berkontribusi hampir dua juta kunjungan, setara 49% dari total kunjungan wisman.

Jalan di pesisir Dili, Timor-Leste. Pada 2020, Timor-Leste menyabet gelar pemasok wisman terbanyak ke Indonesia. (Foto: Muhammad Fadli)

Setelah Malaysia dan Timor-Leste, pemasok wisman terbanyak ialah Singapura, Australia, serta Tiongkok. Khusus Eropa, feeder yang masih membukukan turis cukup banyak ialah Inggris, Rusia, dan Belanda.

Gerbang Wisman Tersibuk di Indonesia?
Berdasarkan pintu masuknya, pada tahun lalu, mayoritas pelancong dari luar negeri datang menaiki pesawat. Dari Januari-Desember 2020, bandara di Indonesia menstempel lebih dari 1,7 juta paspor asing.

Akan tetapi, data itu ditunjang oleh tingginya angka kunjungan pada awal tahun. Setelah lockdown diberlakukan secara global pada Februari dan Maret, seluruh bandara di Indonesia menderita defisit tamu asing. Bahkan, pada April 2020, ada delapan bandara di mana petugas imigrasi tak sekali pun mengecek paspor penumpang. 

Baca Juga: Prediksi Dunia Pariwisata 2021, Menurut 9 CEO

Gerbang turis tersibuk kedua ialah pos imigrasi darat. Sepanjang 2020, pintu-pintu perbatasan darat mencatatkan lebih dari 1,3 juta tamu asing. Dari sini pula bisa dipahami mengapa Timor-Leste menyabet gelar pemasok wisman terbanyak ke Indonesia pada tahun lalu—sesuatu yang baru kali pertama terjadi.

Indonesia Dibandingkan Negara Lain?
Jika melihat data segelintir negara yang telah menuntaskan kalkulasi jumlah wisman, hampir semuanya menderita penurunan kronis. Singapura misalnya, hanya menyambut 2,7 juta tamu asing pada 2020, turun dari 19 juta pada 2019. Artinya, penyusutannya menembus 85%, lebih parah dibandingkan Indonesia.

Pengunjung pasar di Sukhothai, Thailand, saat pandemi. Pada 2020, jumlah wisman ke Thailand turun 83%, lebih parah dari Indonesia. (Foto: Robert Norton)

Nasib serupa dialami oleh Thailand. Pada 2020, negara ini hanya membukukan 6,7 juta wisman, defisit 83% dibandingkan 2019 yang mencapai 40 juta wisman. Hampir semua turis asing Thailand pada 2020 datang pada awal tahun, sebelum lockdown diperketat di April.

Baca Juga: Turis yang Paling Betah Berlibur di Indonesia

Bergeser ke Asia Timur, Jepang juga menderita penurunan wisman yang lebih telak dibandingkan Indonesia. Pada 2019, negara ini menyambut 32 juta turis asing. Setahun berselang, perbatasannya hanya dilewati oleh 4,1 juta turis asing, artinya terjadi penyusutan hingga 87%. Cristian Rahadiansyah