Seorang turis di Lombok. Tahun ini, Indonesia berpotensi menjaring hanya empat juta wisatawan asing, setara catatan 1994. (Foto: Wes Grant)

Sektor pariwisata nasional kembali mendapat kabar buruk: tren penurunan turis asing berlanjut ke kuartal ketiga. Merujuk Badan Pusat Statistik, pada Juli-September 2020, Indonesia menjala hanya 474 ribu kunjungan wisatawan mancanegara, turun 1,3% dibandingkan kuartal sebelumnya.

Potret suram juga terlihat pada grafik per bulannya: jumlah wisman relatif stagnan di titik kronis. Sejak April 2020, angkanya konsisten di kisaran 150.000-160.000 per bulan. Membuka data terakhir, jumlahnya bahkan kembali drop: dari 163.000 di Agustus menjadi 153.000 di September.

Dibandingkan tahun lalu, statistik pariwisata nasional jelas sangat memprihatinkan. Pada Januari-September 2019, Indonesia secara kumulatif menjala 12 juta kunjungan wisman, atau rata-rata satu juta kunjungan per bulan. Pada Januari-September 2020, angkanya susut 70 persen menjadi hanya 3,5 juta.  

Dengan asumsi tren bulanan 2020 tidak berubah, tahun ini Indonesia akan meraih maksimum empat juta wisman, artinya menyamai pencapaian 1994 di masa Orde Baru. Ini merupakan rekor penyusutan terparah dalam sejarah Republik. Dampak pandemi Covid-19 jauh lebih telak dibandingkan semua bencana alam dan kerusuhan di Indonesia.

Berdasarkan pintu masuknya, tahun ini mayoritas wisman datang menaiki pesawat. Dari Januari-September, bandara-bandara di Indonesia menstempel lebih dari 1,6 juta paspor asing. Bandara Ngurah Rai memuncaki klasemen gerbang udara terlaris, tapi prestasi itu ditunjang oleh tingginya angka kunjungan di Januari dan Februari. Setelah wabah mengganas di Maret, Ngurah Rai hanya didatangi segelintir pelancong asing. Bahkan, September silam, hanya delapan wisman mendarat di sini.   

Gerbang terlaris kedua tahun ini ialah pos imigrasi darat. Dari Januari-September, pintu-pintu perbatasan di Pulau Timor, Kalimantan, dan Papua mencatatkan lebih dari satu juta tamu asing. Dari sini pula bisa dipahami mengapa Timor-Leste dan Malaysia mendominasi tabel pemasok wisman terbanyak ke Indonesia selama pandemi. –Cristian Rahadiansyah