Turis asing sedang berjemur di pesisir Bali. (Foto: Harvey Enrile)

Banyak perbatasan negara sudah dibuka, tapi tak semua orang bisa pelesir ke luar negeri. Bukan hanya karena waswas dengan varian baru Covid, tapi juga akibat susutnya pendapatan.

Kondisi itu terjadi salah satunya di Uni Eropa. Menurut laporan dari ETUC (European Trade Union Confederation) yang dilansir minggu lalu, sekitar 35 juta warga Uni Eropa kini tak sanggup membiayai liburan setidaknya selama sepekan.

ETUC mendasari kesimpulannya pada survei yang digelar oleh Eurostat, biro statistik Uni Eropa. Problem ini diklaim sebagai dampak dari melebarnya tingkat kesenjangan pendapatan. Ditambahkan pula, dari 27 negara yang disurvei, jumlah populasi yang tak mampu berlibur meningkat di 16 negara.

Kiri-kanan: Peselancar asing di Banyuwangi. (Foto: Johannes P. Christo); Wisatawan di Karimunjawa. (Foto: Muhammad Fadli)

“Liburan sepatutnya bukan kemewahan untuk segelintir orang,” ujar Deputi Sekjen ETUC, Esther Lynch, dalam siaran persnya. “Ketika banyak pekerja pergi menikmati cuti bersama teman dan keluarga, jutaan orang kehilangan kesempatan serupa akibat rendahnya pendapatan.”

Dari 35 juta orang Eropa yang tak sanggup berlibur, mayoritas memiliki KTP Italia. Jumlahnya menembus tujuh juta jiwa. Negara dengan Situs Warisan Dunia terbanyak ini ternyata merupakan negara dengan populasi orang miskin yang besar.

Populasi terbesar kedua berasal dari Spanyol (4,7 juta jiwa), disusul oleh Jerman (4,3 juta) dan Prancis (3,6 juta). Ketiga negara ini, walau tergolong kaya, terbukti mengidap kesenjangan pendapatan yang cukup tinggi.

Desa Limasan, resor di Pacitan yang rutin memikat peselancar top dunia. (Foto: Atet Dwi Pramadia)

Apa yang terjadi di Eropa itu merupakan berita buruk bagi Bali, juga Indonesia, terutama dalam konteks pemulihan pariwisata. Pasalnya, Eropa merupakan pasar turis yang vital, tak hanya dalam hal jumlah, tapi juga daya beli.

Pada 2019, Eropa berkontribusi sekitar dua juta kunjungan turis ke Indonesia—mewakili 13% dari total kunjungan. Dengan catatan ini, dalam hal kawasan, Eropa merupakan pemasok turis tersubur kedua setelah Asia.

Khusus bagi Bali, problem di Eropa bisa berdampak lebih kronis. Ketergantungan Bali pada turis Eropa jauh lebih tinggi dari rata-rata nasional. Pada 2019, Pulau Dewata membukukan hampir 1,5 juta kunjungan turis Eropa—mewakili sekitar 24% kunjungan turis asing.

Kiri-kanan: Turis asing di Kalimaya Dive Resort, Sumbawa. (Foto: Nyimas Laula); Tamu resor Four Seasons Sayan, Bali. (Foto: Putu Sayoga)

Celakanya lagi, beberapa negara Eropa pemasok turis ke Bali kini dihuni banyak warga yang tak sanggup berlibur. Prancis, Jerman, dan Belanda misalnya, secara kolektif memiliki hampir sembilan juta orang yang hanya bisa menikmati cuti di sekitar rumah.

Dengan menyusutnya populasi warga Eropa yang mampu berlibur, persaingan berebut turis asal Benua Biru pun akan kian ketat. Indonesia, juga Bali, mesti lebih cerdik merayu mereka, sebab Eropa juga merupakan pasar andalan bagi banyak negara lain.Cristian Rahadiansyah