Kerumunan orang di Garosugil, jalur belanja populer di Gangnam.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Jun Michael Park

Apa rasanya hidup di kota madya berisi 2.000 klinik operasi plastik? Pertama, selalu ada orang rupawan yang bisa dilihat. Kedua, dan ini terpaut dengan yang pertama, kita mungkin akan sulit merasa cukup. Singgah di sebuah kedai gorengan di utara Gangnam, saya merasakan keduanya sekaligus.

Sembari mengunyah gochu twigim (cabai goreng berisi daging), saya melirik seorang pria di kanan saya. Ganteng, semampai, mulus kulitnya seperti porselen. Betapa tak adilnya dunia. Melirik ke arah kiri, ada seorang wanita yang kelewat cantik wajahnya hingga menyerupai hasil rekayasa Photoshop. Hidungnya seolah dipinjam dari Natalie Portman, sementara matanya dari Emma Stone.

“Itu hidungnya palsu,” celetuk teman saja, Ian Shin, pria asli Korea, usai menyadari saya terlalu khidmat melirik ke kiri. “Orang Korea tidak punya hidung seperti itu.” Saya kembali melirik wanita tadi, tapi kali ini sembari merenung: jangan-jangan hidungnya Natalie Portman sebenarnya dicetak di Gangnam?

Gangnam, satu dari 25 distrik di Seoul, terhampar di selatan Sungai Han. Dibandingkan sentra-sentra wisata utama Seoul, sebut saja Myeong-dong, Gangnam memang masih kalah populer, tapi bukan berarti tidak laris. Tawaran tempat ini rentan mendorong orang untuk datang diam-diam, baik atas alasan privasi ataupun gengsi.

Kiri-kanan: Mireuk Daebul, patung Buddha setinggi 23 meter di Kuil Bongeunsa; satu dari belasan Gangnamdol, patung beruang yang merepresentasikan bintang K-pop.

Di Asia, Gangnam tersohor sebagai pusat wisata medis, eufemisme untuk “bedah estetis.” Banyak gedung di sini dijejali klinik yang berkomitmen menghapus cela dari raga: bedah wajah, permak tubuh, sedot lemak, suntik botoks, juga dokter gigi yang melayani modifikasi rahang ketimbang tambal lubang. Beberapa klinik beroperasi 24 jam, setiap hari, bahkan di hari libur. “Gangnam memang masih kalah populer, tapi bukan berarti tidak laris. Tawaran tempat ini rentan mendorong orang untuk datang diam-diam, baik atas alasan privasi ataupun gengsi.”

Selain menawarkan solusi agar terlihat mirip bintang Korea, Gangnam membuka peluang untuk bertemu mereka. Mayoritas label dan studio K-pop bermarkas di sini. Di kantor-kantor mereka, hampir setiap hari kita bisa menyaksikan kaum remaja pengidap hallyu (“demam Korea”) mangkal berjam-jam demi melihat sang bintang pujaan. Dan Indonesia agaknya pasar yang diperhitungkan bagi kedua mimpi Korea tersebut. Memasuki kantor pusat informasi turis, yang berlokasi di seberang klinik operasi plastik, tamu akan disambut oleh poster boyband BTS dan zona medical tour yang mengusung slogan “we will make every effort to find your hidden beauty.” Tak paham siapa BTS dan prosedur mencari hidden beauty? Jangan khawatir. Penerjemah dan brosur dalam bahasa Indonesia tersedia.

Baca juga: Pusat Kuliner Lokal di Korea

Ini kunjungan perdana saya ke Gangnam. Seperti kebanyakan orang, saya mendengar namanya pertama kali dari Gangnam Style, lagu keluaran 2012 di mana video klipnya sudah diputar lebih dari tiga miliar kali di YouTube. Dalam lagu itu, Psy, penyanyi asal Gangnam, berbicara soal gaya hidup di distriknya yang glamor. Liriknya satir dan menggigit, tapi yang lebih menarik justru kisah di baliknya.

Gangnam sesungguhnya mengidap dua wajah yang kontradiktif. Ini distrik yang paling dibenci sekaligus dipuja di Seoul. Sebagian orang ingin menetap di sini; sebagian yang lain berharap menjauh darinya; sisanya berpura-pura punya rumah di sini. Gangnam jugalah pabrik kreatif dari beragam tren di Seoul. Apa yang dicetuskan di sini, mulai dari potongan rambut hingga desain kafe, lekas menular ke penjuru kota. Kendati begitu, tempat ini juga menjadi simbol masalah sosial. Bertanya tentang Gangnam kepada orang di luar Gangnam, besar kemungkinan mereka akan mengatakan distrik ini dihuni orang “tercantik” sekaligus “terburuk” di Seoul. Gangnam memang bukan cuma soal K-pop dan operasi plastik.

Kiri-kanan: Salah satu hidangan di Joo Ok, restoran kontemporer Korea yang memiliki satu bintang Michelin;
Jeannie Park, gadis lokal yang tampil modis saat berjalan-jalan di jalur belanja Garosugil.

Saya datang akhir Juni silam, persis di minggu pembuka musim hujan. Hotel saya menyempil hanya beberapa langkah di belakang Jalan Teheran. (Seoul dan Teheran berstatus sister cities.) Jalan raya ini lebar, panjang, lempeng seperti laser. Sejauh mata memandang, pencakar langit menjulang dan berbaris rapi bagaikan buku-buku di rak perpustakaan. Dari sini, Gangnam terlihat seperti kota vertikal yang dirangkai dari baja dan kaca.

Semua itu terasa kontras jika kita membuka riwayatnya. Gangnam sejatinya lahir dari masalah. Terlepas dari sosoknya yang menyilaukan, distrik berpopulasi setengah juta jiwa ini dirintis sebagai jawaban atas problem urbanisasi yang kian mendesak. Akhir 1970-an, Seoul, kota yang didiami separuh warga Korea, sudah kelewat padat, sesak, karena itu terpaksa melebar, termasuk ke sisi selatan Sungai Han. (Gangnam secara harfiah berarti “selatan sungai.”)

Bisa dibilang, Gangnam adalah permukiman besar dengan sejarah yang pendek. Kecuali makam raja dan Kuil Bongeunsa, semua yang berdiri di sini berusia kurang dari separuh abad. “Awalnya ini cuma kampung berisi sawah dan ladang,” kenang Ian, yang pernah menetap di Gangnam selama tujuh tahun dan memiliki sebuah flat di dekat hotel saya. “Saya pernah datang ke sini pada 1982 dan menemukan hanya jalan-jalan lebar dan beberapa apartemen.”

Kiri-kanan: Starfield Library, perpustakaan berisi lebih dari 50.000 buku dan majalah di COEX Mall; Hwa-jeong Lee dan pacarnya di Garosugil.

Pertumbuhan distrik ini juga buah dari rekayasa urban. Di masa-masa awal, Gangnam tak dilirik. Guna mendorong orang sudi pindah ke sini, pemerintah memakai strategi “koersif.” Sejumlah sekolah, termasuk dua SMA terfavorit di Seoul, direlokasi ke Gangnam. Keputusan itu membuat banyak orang tua terpaksa ikut pindah. Sebab, sesuai regulasi pemerintah, domisili siswa dan sekolahnya haruslah sama. Di etape kedua, giliran sektor bisnis yang dirayu. Pada 1990-an, banyak perusahaan menancapkan kantornya di Gangnam. Bukan cuma label K-pop dan klinik bedah plastik, tak juga korporasi kakap sekaliber Samsung dan Google. Harga properti pun meroket, bahkan jauh melampaui harga Seoul belahan utara sungai. Satu unit Tower Palace, apartemen yang dilengkapi basement parkir sembilan lantai, dibanderol $3 juta. Dan itu bukan yang termahal. Merujuk laporan surat kabar Chosun Ilbo pada 2011, harga seluruh real estat di Gangnam dan sekitarnya setara 10 persen harga real estat di seantero Korea.

Mulanya diabaikan, Gangnam berubah jadi lahan yang diburu investor. Seiring itu, populasi orang sugih makin dominan, sampai-sampai tempat ini kerap disejajarkan dengan Beverly Hills. Dan sebagaimana Beverly Hills, ia kian tak terjangkau bagi banyak orang, walau di saat bersamaan justru memikat bagi turis. Didiami golongan kaya yang punya banyak waktu untuk diluangkan dan uang untuk dihamburkan, Gangnam giat melahirkan inovasi segar dan tren anyar—sebuah fenomena yang pernah dirangkum Psy dengan sempurna. Seoul adalah Ibu Kota Korea, sementara Gangnam, menurut Psy, “adalah Ibu Kota Seoul.”

Baca juga: 4 Restoran Korea Autentik di Jakarta

Belanja adalah salah satu tawaran andalan Gangnam. Banyak rumah mode memiliki cabangnya di sini, termasuk Karl Lagerfeld yang membuka pop-up store di jalur belanja Garosugil. Satu pengalaman belanja yang atraktif saya temukan di Pierrot, toserba yang menganut aliran “dekonstruktif” dalam penataan barang. Interiornya seolah baru diguncang gempa. Beragam dagangan mulai dari tas Prada, celana Marvel, hingga kembang api disebar serampangan. Tak usah bertanya kepada staf toko saat melacak barang. Seperti tertulis di punggung seragam mereka: “Kami juga tidak tahu di mana lokasinya.”

Berwisata di Gangnam kadang berarti menikmati banyak hal yang tak ada di bagian lain Seoul, bahkan bisa jadi di negara lain. Kita bisa membaca di perpustakaan terbesar di Korea atau kongko di kafe-kafe tempat syuting film. Bergeser ke arah timur, kita bisa menyantap macaroon berhiaskan lukisan Van Gogh dan mendaki gedung terjangkung di Negeri Ginseng.

Kiri-kanan: Koki Joo Ok, Shin Chang-ho, di muka restorannya; patung goyang Gangnam yang ditujukan untuk menghormati Psy, penyanyi asli lokal yang membuat distrik ini terkenal di panggung dunia.

Kendati begitu, seperti sudah saya singgung di awal, Gangnam punya sisi gelapnya sendiri. Contohnya prostitusi. Di Seoul, ini mungkin daerah yang paling mendekati istilah “red light district,” walau patut dicatat di sini tidak ada zona rumah bordil seperti di Amsterdam. “Ini kiblatnya prostitusi di Seoul,” jelas seorang sopir taksi, sembari menunjukkan sebuah gedung penuh neon berisi ruang karaoke mesum, persis di samping kedai Starbucks.

Problem prostitusi sudah lama memusingkan aparat, juga tentu saja kaum istri. Bisnis ini sulit diberantas, mungkin karena pasarnya sangat gemuk. Merujuk hasil survei pemerintah pada tahun lalu, setengah pria di Korea pernah membayar jasa PSK. Dan bisnis ini agaknya mulai merambah segmen asing. Dulu, PSK hanya melayani orang lokal. Mungkin akibat tekanan ekonomi, mereka terpaksa memperluas basis konsumen. Suatu malam, saat saya berjalan kembali ke hotel, seorang germo menawarkan jasa pijat “happy ending.”

Masalah lain Gangnam adalah kemiskinan. Meski sosoknya bakir, Beverly Hills versi Korea ini ternyata menyimpan permukiman kumuh. Menaiki bus menuju selatan distrik, saya singgah di Desa Guryong. Di gerbangnya terbentang spanduk-spanduk protes bertuliskan antara lain “menolak pindah” dan “penuhi tuntutan kompensasi.” Merujuk info di internet, Guryong dihuni lebih dari 2.000 jiwa. Mereka mendiami bedeng-bedeng reyot di kaki bukit, terpisah hanya beberapa puluh meter dari apartemen-apartemen ultra-mahal. Di peta wisata resmi, permukiman ini disamarkan dengan nama “Real Estate of Guryong Village.” Di media asing, ia dijuluki “the last shanty town in Gangnam.”

Memasuki Guryong, saya mula-mulanya melewati instalasi daur ulang sampah. Menembus kampung lebih jauh, kabel dan pipa gas berseliweran. Banyak bedeng dilengkapi antena parabola, sebagian memiliki halaman parkir berisi antara lain Toyota Camry dan BMW seri lima. Ini kampung kumuh versi negara maju. Jangan bandingkan dengan standar Jakarta.

Kiri-kanan: Satu dari ribuan mobil mewah yang mudah ditemui di Gangnam, distrik yang dijuluki Beverly Hills versi Korea; sudut atap Kuil Bongeunsa.

Selama di Gangnam, saya lebih sering bepergian menaiki bus atau kereta. Jaringan transportasi umum di sini mumpuni, dan panduannya mudah dipahami. Berkat Piala Dunia 2002, di mana Korea dan Jepang berbagi status tuan rumah, seluruh moda di Seoul menyediakan informasi berbahasa Inggris.

Merandai bulevar-bulevar utamanya, Gangnam terlihat metropolis, termasuk warganya. Saya ingat, banyak rekan yang melawat Seoul kecewa lantaran orang-orang yang mereka temui tak “seindah” di televisi. Saya menduga itu karena mereka tidak mampir ke Gangnam. Di sini, mayoritas orang tampil menawan dengan baju yang seperti baru dibeli tadi pagi, dengan rambut yang seolah baru keluar dari salon.

Daya tarik lain Gangnam adalah restorannya. Merujuk statistik, hampir semua restoran terbaik di Seoul bermukim di sini. Membaca Michelin Guides 2018, distrik ini menampung 14 dari total 23 restoran berbintang di Seoul. Membuka daftar Asia’s 50 Best Restaurants 2018, seluruh wakil Korea beralamat di sini.

Koleksi restoran itulah yang melambungkan pamor Gangnam sebagai destinasi baru untuk wisata kuliner fakta yang tak lepas dari lanskap sosialnya yang ramah menyambut inovasi. Dulu, skena fine dining Seoul dikuasai oleh restoran Eropa atau Jepang, yang umumnya terkonsentrasi di hotel-hotel mewah. Pada 2009, konstelasi itu mulai bergeser setelah koki prolifik Jungsik Yim melansir sebuah restoran di Gangnam. Membawa pengalaman bekerja di New York dan Spanyol, sang koki mendemonstrasikan kepada khalayak bahwa kimchi dan jangachi ternyata bisa dieksekusi memakai pendekatan molekuler. Oleh komunitas koki lokal, Jungsik Yim kemudian dinobatkan sebagai “bapak kuliner kontemporer Korea.” Dan sang bapak telah melahirkan banyak anak. Eksperimen dapurnya menular. Restorannya memicu banyak pengikut, mayoritas juga dikepalai oleh koki Korea dengan pengalaman bekerja di luar negeri generasi perantau yang dijuluki yuhaksaeng.

Kiri-kanan: Salah satu klinik bedah estetis di daerah Sinsa, pusat wisata medis di Gangnam; boneka raksasa yang menyambut pengunjung dan pasien di The Line Plastic Surgery Clinic.

Joo Ok, yang dibuka di Gangnam pada awal 2017, adalah salah satu restoran yang memetik manfaat dari terobosan Jungsik. Baru setahun beroperasi, restoran ini sukses menggondol satu bintang Michelin. Grup Girls’ Generation dan aktor kondang Bae Yong-joon adalah beberapa mantan kliennya. “Dulu, menu fusi atau kontemporer dipersepsi ngawur oleh publik,” jelas koki Joo Ok, Shin Chang-ho. “Tapi Jungsik telah membuka jalannya. Sekarang kondisinya lebih mudah bagi kami.”

“Kami membutuhkannya. Butuh lebih banyak,” tambah Jain Song, pakar kuliner dari O’ngo Food, tentang tren kuliner di Gangnam. Menurut Jain, pada awal 2000-an sebenarnya sempat muncul beberapa restoran fine dining dengan spesialisasi menu tradisional, tapi kemudian bangkrut satu per satu. “Publik susah menerima konsep masakan tradisional berharga mahal ketika mereka bisa dapat versi yang tak kalah autentik dengan harga lebih murah,” lanjut Jain. “Kuliner kontemporer jawabannya.”

Suatu pagi, saya membuka pagi dengan cara “hedonis” khas Gangnam Style: sarapan di puncak butik Dior. Tiba di pintunya, seorang pramutamu tampan dan jangkung (lagi-lagi dunia terasa tak adil) menyambut saya, lalu menjelaskan kursi yang paling ideal untuk berfoto. Saya memesan secangkir cappuccino. Di permukaannya terapung busa bertuliskan “Dior.” Harganya?  ₩20.000 (setara Rp250.000). Rasanya? Seperti cappuccino.

Seorang penganut Buddha berdoa di Kuil Bongeunsa.

Usai sarapan terminim dengan harga terboros itu, saya meniti K-Star Road, seutas jalan yang didedikasikan bagi penggemar K-pop. Trotoarnya dihiasi belasan Gangnamdol, patung beruang yang merepresentasikan bintang K-pop. Menyusuri jalan ini, saya singgah di SM Market, toko suvenir milik SM Entertainment, dan langsung tersadar betapa belantika hallyu sebenarnya lebih dari sekadar tembang dan goyang. Simak saja dagangan toko ini: kacang pilihan Exo, permen favorit Girls’ Generation, serta Perfect V Lifting Black Mask edisi Super Junior. Yang terakhir ini berfungsi meruncingkan dagu. Cocok untuk Thanos.

Baca juga: 8 Destinasi Wisata Favorit di Korea Selatan

Melihat beragam tawarannya yang atraktif, barangkali sulit bagi kita untuk memahami mengapa Gangnam dibenci oleh banyak orang. Angkuh, materialistis, pelit, dan palsu adalah beberapa karakter orang Gangnam yang dilontarkan oleh hampir semua narasumber saya. Satu gambaran yang paling pedas saya dengar dari Hyunshin, seorang wanita yang setiap harinya melewati Gangnam Station menuju kantornya. “Saya tidak mau terdengar terlalu negatif,” ujarnya, “tapi Gangnam sebenarnya bukan Korea. Ada Korea. Dan ada Gangnam.”

Jika dirunut, sikap antipati itu mungkin punya akar sejarah. Pada 1990-an sempat muncul istilah orenji-jok yang ditujukan untuk anak-anak borjuis Gangnam yang sekolah di luar negeri, lalu mudik saat liburan musim panas untuk berpesta, memacu mobil mewah, kadang berulah. Orang tua mereka tak lepas dari sorotan. Mereka kerap dipandang sengit karena meraup banyak uang bukan dari kerja keras, melainkan spekulasi bisnis apartemen.

Kiri-kanan: Gochu twigim (cabai goreng tepung berisi daging) di Hanchu, kedai sederhana yang populer di kalangan warga lokal; Hyeongwoo Lee, pedagang busana di Garosugil.

Tentu saja, setiap stereotip cenderung pincang, dan setiap generalisasi gagal menangkap realitas dengan lengkap. Gangnam terbukti punya banyak orang miskin. Bukan cuma di kampung kumuh Guryong, tapi juga di jantung distrik. Saya, misalnya, sempat melihat seorang kakek tunanetra menyusuri gerbong kereta seraya mengemis pemandangan yang langka bahkan untuk standar Seoul sisi utara.

Soal akhlak orang Gangnam, menurut saya itu buah kelakuan “oknum.” Selama di sini, saya mendapati mayoritas warga cukup ramah. Setidaknya cuma sekali saya diusir saat bertanya info jalur kereta. Lagi pula, jika kita mau sejenak berempati, tabiat orang Gangnam mungkin sebuah keniscayaan manusiawi yang sulit ditekan. Coba bayangkan jika kita punya hidung seperti Natalie Portman, mengendarai Porsche, dan menetap di apartemen termahal di Seoul, maka sikap rendah hati tentu menjadi ekspektasi muluk yang sukar dipenuhi.

PANDUAN
Rute
Penerbangan langsung ke Seoul dilayani oleh Asiana Airlines (flyasiana. com), Korean Air (koreanair.com), dan Garuda Indonesia (garuda-indonesia.com). Gangnam terletak di kaki Seoul, terkoneksi oleh tujuh jembatan yang melintang di atas Sungai Han. Dari Bandara Incheon tersedia kereta Airport Railroad Express (arex.or.kr) dan Limousine Bus (airportlimousine.co.kr) menuju Gangnam dengan waktu tempuh sekitar 90 menit.

Navigasi
Di Korea, Google Map kurang bisa diandalkan untuk melacak lokasi atau petunjuk jalan. Sebaiknya unduh aplikasi Naver Map (m.naver.com) yang telah tersedia dalam versi bahasa Inggris. Bus atau kereta bawah tanah adalah moda utama untuk mengarungi Gangnam. Uber langka dan tidak populer di sini. Alternatifnya, gunakan Kakao Taxi (kakaocorp.com).

Informasi
Di Tourist Information Center (tour.gangnam.go.kr) tersedia informasi memadai seputar objek-objek wisata terpopuler, misalnya perpustakaan raksasa Starfield Library, Kuil Bongeunsa, jalur belanja trendi Garosugil, serta K-Star Road yang ditaburi patung Gangnamdol. Tapi ada beberapa tempat menarik yang luput dari brosur mereka, contohnya toserba “dekonstruktif” Pierrot Shopping; pujasera Gourmet 494; serta supermarket terlengkap untuk membeli bahan masak, SSG Food Market. Gangnam juga gudangnya restoran terbaik di Seoul. Opsinya antara lain Gaon, Jungsik, Joo Ok, dan Mingles. Untuk masakan tradisional, dua yang punya tawaran unik adalah Saebyukjib dengan menu andalan hangover soup; serta Hanchu yang menjajakan gochu chicken (ayam goreng dengan kulit berlapis irisan cabai). Jika membutuhkan pakar untuk memahami skena kuliner Gangnam, hubungi O’ngo Food Communications (ongofood.com).

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Oktober/Desember 2018 (“Distrik Dwimuka”)