Seorang pengunjung di acara “Jogja Mini Print Biennale” di Sangkring Art Space.

Sejak Mei hingga Juni, lebih dari 80 ajang seni digelar di Yogyakarta guna menyongsong, memeriahkan, bahkan menandingi ArtJog. Berikut delapan yang menarik dilirik.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Kurniadi Widodo

A Study of the Visible
25 Mei-24 Juli
Langgeng Art Foundation

Mungkinkah ada pendekatan baru dalam seni lukis Bali? Pertanyaan itulah yang ingin dijawab oleh Gede Mahendra Yasa. Perupa kondang kelahiran Singaraja ini mengajak orang memikirkan ulang, mungkin juga membantah, definisi baku seni lukis Bali. Dalam lukisan bertajuk After Paradise Lost misalnya, Hendra menyisipkan Pangeran Diponegoro di bawah kerumunan gadis bugil. Pada karya lainnya, dia menampilkan adegan tinju di tengah alam hijau banjar khas Pulau Dewata.

Hendra, peraih penghargaan Most Innovative Young Artist 2009 dari Mapping Asia, tak cuma menyandingkan secara canggung figur-figur dari dimensi yang berbeda, tapi juga kerap mencampur langgam seni yang berbeda. Eksperimennya terasa provokatif, seakan menggeser proses apresiasi menjadi kajian ilmiah soal sejauh mana kategori-kategori seni bisa dipelintir, direvisi, atau sepenuhnya diabaikan.

Bersamaan dengan pameran solo Hendra, Langgeng Art Foundation menyelenggarakan ekshibisi lain yang menarik: At the Still Point. Tema kuratorialnya terlalu longgar dan wacananya kelewat datar, tapi suguhannya cukup menggiurkan: dua seniman ternama Indonesia (Agus Suwage dan Jumaldi Alfi) bertemu dua koleganya asal Malaysia (Ahmad Zakii Anwar dan Jalaini Abu Hassan). Jl. Suryodiningratan 37; 0274/417-043; langgengfoundation.org.

Barang-barang seni yang dijual di Ace House.
Barang-barang seni yang dijual di Ace House.

Grosir Seni
25 Mei-25 Juni
Ace House

Mirip Circle K, tapi dagangannya benda seni. Serupa dengan ArtJog, tapi targetnya khalayak massal dengan kocek terbatas. Untuk kedua kalinya, Ace House menggelar Grosir Seni, sebuah toko kelontong temporer yang beroperasi 24 jam dan menjajakan karya seni dengan harga berkisar Rp500.000-5.000.0000. “Masyarakat umum biasanya segan mendatangi ruang-ruang seni,” jelas Rudy Atjeh, pentolan Ace House. “Karena itu kami menciptakan konsep Grosir Seni. Sekarang ibu-ibu tetangga kami pun bisa mengakses benda seni.”

Berhubung konsepnya minimarket, Grosir Seni tidak memiliki kurator, melainkan “store manager.” Rudy dan kawan-kawan menata karya di antara pasta gigi, mi instan, dan bawang putih. Layaknya minimarket pula, Grosir Seni mewajibkan setiap karya berukuran ringkas agar bisa langsung dibawa pulang oleh pembeli. Salah satu dagangan yang cukup menonjol adalah foto Snoop Dogg dalam busana muslim karya Agan Harahap, perupa yang lihai dalam rekayasa digital dan konsisten mengusung moto “foto tidak harus jujur.” Jl. Mangkuyudan No.41, Mantrijeron; 0274/3819-595; acehousecollectiveyk.com.

Seninjong
26 Mei-12 Juni
Pelataran Djoko Pekik

Salah satu ajang terdahsyat yang digelar berbarengan dengan ArtJog, Seninjong menampilkan karya-karya cemerlang dari 22 perupa kawakan. Seninjong, istilah untuk pedagang camilan di jalan-jalan Yogya, membuai pengunjung dengan permainan teknik, variasi bentuk, juga ketajaman wacana.

Ismanto Wahyudi kembali mengolah subjek tank dan tema perdamaian, tapi dengan tafsir yang lebih segar. Nasirun terasa “muda” melalui penggunaan beragam media, sementara Ivan Sagita mendemonstrasikan kepiawaiannya dalam menyentuh batin melalui gradasi garis.

Juga bersinar dalam pameran ini perupa senior Yuswantoro Adi yang menghidupkan foto klasik pujangga besar Chairil Anwar memakai pola liukan asap di atas kanvas. Masih dengan narasi seputar gender, Laksmi Shitaresmi memajang kelinci hitam bertubuh manusia dengan delapan payudara—instalasi kelam seputar sensualitas dan narsisme yang rentan menghantui kita berkat presentasinya yang menggigit. Dusun Sembungan, Kasihan, Bantul.

Pameran mini bertajuk "Obat Kuat" di galeri Krack.
Pameran mini bertajuk “Obat Kuat” di galeri Krack.

Obat Kuat
25 Mei-25 Juni
Krack!

Sempalan dari proyek Tanah/Impian yang mengulas sejarah dan pengaruh periklanan di Indonesia, Obat Kuat meletakkan fokusnya lebih spesifik pada iklan-iklan ramuan kebugaran atau obat vitalitas. “Sebelum masa Orde Baru, obat kuat berkonotasi obat kesehatan. Kini, citranya lebih vulgar,” jelas Prihatmoko Moki, salah seorang pendiri Krack!

Proyek Obat Kuat memajang 100 lembar iklan yang dicetak di surat kabar di Yogyakarta sejak 1899. Suguhannya bagaikan jendela untuk melihat bagaimana industri farmasi dan jamu mendefinisikan seks, juga bagaimana konsep seks di masyarakat memengaruhi strategi pemasaran perusahaan. Tentu saja, proses tarik-ulur itu kian kompleks jika kita mempertimbangkan imaji seks dalam obat kuat impor, budaya patriarki Jawa, atau program kebijakan KB yang digencarkan pemerintah. Jl. D.I. Pandjaitan, RT 42 / RW 12, Mantrijeron; 0817-542-1806; krackstudio.com.

Vice Versa
23 Mei-23 Juni
Galeri Rumah Jati

Diadakan oleh Artemis Art, galeri asal Kuala Lumpur, Vice Versa memajang 20 karya dari 13 seniman muda Indonesia dan Malaysia. Agenda utamanya, menurut sang kurator, memperlihatkan perbedaan dan kesamaan praktik seni di antara kedua negara, sekaligus menciptakan dialog di antara kedua kutub tersebut.

Dua karya berhasil menggedor ruang pamer. The Offender, lukisan akrilik dari Nik Mohd Shahfiz, memancarkan emosi yang kuat walau hanya memakai komposisi warna yang simpel. Pola garis-garis vertikal yang melabrak subjek bukan hal baru, tapi sang perupa berhasil memanfaatkannya untuk memperkuat dimensi karya. Mohd Shahfiz adalah seniman Jiran yang layak dipantau perkembangannya, dan dia baru berusia 23 tahun.

Juga membetot perhatian, Justian Jafin Rocx. Seniman yang dikenal lewat sikap kritisnya ini memperlihatkan sisi lainnya melalui Neo Loro Blonyo, lukisan bernada pop yang dipenuhi permainan warna cerah. Jafin hanya menyisakan sedikit bidang hampa. Kanvasnya terasa sesak, tapi narasinya tidak terganggu. “Saya mencoba mengaktualisasikan kisah romantis Jawa kuno dalam konteks kontemporer,” ujarnya. Karangjati, RT.05/RW.11, Tamantirto, Kasihan, Bantul.

Karya kreasi Heri Dono di pameran "Paper Trails: Southeast Asian works on paper" di Sangkring Art Space.
Karya kreasi Heri Dono di pameran “Paper Trails: Southeast Asian works on paper” di Sangkring Art Space.

Yogya Annual Art
20 Mei-20 Juli
Sangkring Art Space

“Harapannya bisa menjadi alternatif bagi ArtJog,” ujar Putu Sutawijaya, tuan rumah Yogya Annual Art (YAA), ajang yang cukup mengguncang tahun ini. YAA diadakan di Bale Banjar, sayap baru Sangkring, galeri milik seniman progresif asal Bali tersebut. “Pesertanya seniman-seniman muda yang konsisten berkarya, tapi kurang mendapatkan wadah,” lanjut Putu.

YAA diikuti oleh 45 seniman berusia 30-45 tahun. Uniknya, karya yang ditampilkan hanyalah lukisan. Menurut Yuswantoro Adi, koordinator acara, YAA berikhtiar menepis anggapan lukisan telah ketinggalan zaman. Beberapa partisipan terlihat matang dalam hal ide dan teknik eksekusi, misalnya Eko Codit, Agus TBR, dan Muji Harjo. Eksplorasi wacana juga lebih beragam, tak hanya bicara soal realisme sosial yang menjadi ciri klasik Yogya.

YAA bukan satu-satunya ajang kolosal di Sangkring. Di lantai atas gedung utama terpajang 110 karya finalis Jogja International Miniprint Biennale (24 Mei-10 Juni). Seluruh karya grafis ini dibuat dengan empat teknik: relief print, intaglio, planography, dan serigraphy.

Tak kalah memikat, Paper Trails (28 Mei-26 Juni) bergulir di sisi muka Sangkring. Pameran yang mengolah “kertas” ini diikuti oleh 30 seniman dari empat negara, termasuk figur-figur ternama sekaliber Heri Dono dan Nasirun. Karya paling menonjol dihadirkan Lui Gonzales yang berhasil melibatkan kertas sebagai bagian integral dari karya, bukan semata medium. Bermodalkan pena, seniman Filipina itu menggambar barisan wanita telanjang pada kertas berlapis yang seolah dicakar-cakar hingga membuat para subjek begitu ekspresif walau warnanya monoton. Nitiprayan RT 1/RW 20 No.88, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul; 0274/381-032; sangkringartspace.net.

Kiri-kanan: Suasana pameran Bantul Art Summit di Gajah Gallery; karya seniman Abdi Setiawan pada pameran “Bantul Art Summit” di Gajah Gallery.

Bantul Art Summit
27 Mei-26 Juni
Gajah Gallery

Awalnya bengkel kerja bagi perupa papan atas, Gajah Gallery menjelma jadi salah satu ruang pamer paling bergengsi di Yogyakarta. Dalam Bantul Art Summit, karya yang dipamerkan tak banyak, tapi narasinya kuat dan tekniknya memukau. Ugo Untoro menampilkan perjuangannya dalam menemukan kembali palet warna, Suzann Victor menghipnotis melalui malaikat biru yang dirakit dari serpihan beling, sementara Rudi Mantofani menghibur mata lewat sembilan gitar yang saling tersambung.

Walau tanpa kurator, Bantul Art Summit cukup ketat dalam sistem seleksi. Di lantai dasar, seniman konseptual Handiwirman Saputra memaksa kita berhenti dan merenung lewat instalasi Sangkut yang dibuat dari serat resin. Di dekatnya terdapat Dark Side Under Moon, sebuah pengingat mengapa Putu Sutawijaya punya tempat khusus dalam jagat seni rupa Indonesia. “Karya ini baru rampung dilukis dua hari silam,” ujar Jasdeep Sandhu, Direktur Gajah Gallery, tentang lukisan Putu. Jl. Bugisan Selatan, Kompleks Pertokoan Aruna, Keloran, Bantul; 0878-3834-7868; gajahgallery.com.

Instalasi rumah-rumahan kreasi Asep Prasetyo di "Jammin in the Name of the Lord."
Instalasi rumah-rumahan kreasi Asep Prasetyo di “Jammin in the Name of the Lord.”

Jammin in the Name of the Lord
26 Mei-26 Juni
Masriadi Art Foundation

Seniman “blockbuster” Nyoman Masriadi kembali menggelar ekshibisi yang didedikasikan bagi seniman belia. Seluruh pesertanya berusia di bawah 30 tahun, tapi mereka bukan seniman hijau kemarin sore. Tri Wahyudi misalnya, sudah lima kali mengadakan pameran tunggal. Sementara Rosit Mulyadi pernah masuk daftar nominasi Basuki Abdullah Award.

Jammin diikuti oleh 10 seniman. Judulnya dipetik dari lirik karya Bob Marley di mana Tuhan dirayakan dengan cinta, walau sejatinya pameran ini berniat menampilkan kondisi kontemporer yang kontras, yakni sebuah masa di saat Sang Khalik, tulis sang kurator Rain Rosidi, “disederhanakan dengan balasan dan hukuman.”

Energi muda terasa menohok. Karya-karya kesepuluh artis menyuarakan kritik sosial yang bernas, isu eksistensialisme, hingga sensualitas penyanyi dangdut. Dua perupa yang menonjol adalah Johanes Lestariono yang tampil dengan komposisi yang kuat, serta Tri Wahyudi yang cerdik mengolah elemen bayangan guna menghidupkan dimensi subjek. Ruko Bale Mulia Kav.2-3, Jl. Kebon Agung, Mlati, Sleman; 0274/8600-138; masriadiartfoundation.com.